Puan Soroti Kasus Nakes Cibir Pasien BPJS: Pelayanan Kesehatan Tak Boleh Hilang Empati

Puan Soroti Kasus Nakes Cibir Pasien BPJS: Pelayanan Kesehatan Tak Boleh Hilang Empati

 Berita Nasional Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:05 WI...

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:05 WIB

Jakarta, VIVA – Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kasus viral dugaan nirempati tenaga kesehatan (nakes) yang merundung pasien BPJS Kesehatan di media sosial.Β 

Baca Juga

Diketahui, kasus ini bermula dari curhatan mendiang Yurizal Tri Chaerawan di media sosial yang mengeluh menunggu kamar rawat inap hingga delapan jam.Β 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Alih-alih mendapat simpati, unggahannya malah dibanjiri komentar bernada hinaan dari sejumlah oknum nakes, sebelum akhirnya pasien dilaporkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026.Β 

Baca Juga

Puan menyayangkan sikap para nakes dan meminta Pemerintah turun tangan.Β 

Menurut dia, masalah ini bukan sekadar hilangnya empati individu, melainkan cerminan sistem pelayanan kesehatan yang perlu dievaluasi.

Baca Juga

β€œPelayanan kesehatan jangan sampai kehilangan empati, karena ini menyangkut kemanusiaan dan sistem pelayanan publik. Tenaga kesehatan harus berempati kepada pasien, termasuk pasien BPJS," ucap Puan dalam keterangannya, dikutip Sabtu, 8 Agustus 2026.

"Peristiwa ini harus menjadi pelajaran untuk evaluasi dan perbaikan pelayanan kesehatan terhadap pasien BPJS. Negara harus memastikan tidak ada pasien yang merasa ditinggalkan,” sambungnya.

Ia pun mendesak Pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar layanan IGD, manajemen tempat tidur, hingga budaya pelayanan nakes.

β€œPelayanan kesehatan tidak cukup diukur dari tersedianya tenaga medis, tempat tidur, maupun pembiayaan melalui JKN, tetapi juga dari kemampuan sistem memastikan setiap pasien diperlakukan secara cepat, manusiawi, dan bermartabat tanpa membedakan latar belakang maupun status kepesertaannya. Termasuk memastikan adanya sistem informasi kapasitas layanan yang terintegrasi secara nasional sehingga pasien tidak lagi menghadapi ketidakpastian ketika membutuhkan perawatan segera," paparnya.

"Karena dalam profesi pelayanan publik seperti di fasilitas kesehatan, pendekatan personal dan sistem layanan sama pentingnya dengan standar klinis,” lanjut Puan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terkait dugaan pelanggaran etik oleh oknum nakes, Puan meminta proses investigasi yang transparan dari pemerintah dan organisasi profesi, meski para pelaku dikabarkan sudah meminta maaf.

β€œPerlu ada investigasi lebih mendalam, apakah ada dampak dari pasien karena di-bully di media sosial. Dan harus ada penyelidikan terhadap pelaku untuk memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa profesi di sektor layanan kesehatan memiliki mekanisme koreksi yang tegas," pungkas dia.

ilustrasi MCU

MCU Bisa Pakai BPJS atau Harus Bayar? Ini Program, Manfaat, dan Keuntungannya

Ternyata, melakukan MCU tidak selalu ditanggung BPJS. Kenali aturan MCU, skrining kesehatan gratis, manfaat pemeriksaan, hingga inovasi MCU berbasis AI.

VIVA.co.id

8 Agustus 2026