Pemkab Pati bantu optimalisasi penyerapan garam petani

Pemkab Pati bantu optimalisasi penyerapan garam petani

Pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berkomitmen mengoptimalkan penyerapan garam petani menyusul melimpahnya produksi saat memasuki musim panen raya, yang berdampak pada ANTARA News jateng ekonomi ...

Pemkab Pati bantu optimalisasi penyerapan garam petani

Minggu, 9 Agustus 2026 13:42 WIB

Image Print

Sejumlah petani garam di Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, melakukan pengolahan lahan untuk produksi garam. ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif

Pati, Jateng (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berkomitmen mengoptimalkan penyerapan garam petani menyusul melimpahnya produksi saat memasuki musim panen raya, yang berdampak pada penurunan harga jual komoditas tersebut di tingkat petani.

"Pemkab Pati tentu akan mengoptimalkan keberadaan industri dan gudang penyimpanan garam rakyat untuk membantu menyerap hasil produksi petani," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati adalah Hadi Santosa di Pati, Minggu.

Menurut dia, keberadaan PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) yang merupakan pabrik pengolahan garam industri di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, bisa dioptimalkan untuk membantu penyerapan garam petani.

Selain itu, kata dia, di Kabupaten Pati juga terdapat tiga gudang rakyat ditambah lima gudang yang sudah eksisting.

Seluruh fasilitas tersebut dapat dioptimalkan untuk meningkatkan penyerapan garam lokal.

Di Kabupaten Pati, lanjut dia, juga terdapat satu koperasi garam yang memiliki tugas membantu menyerap hasil produksi petani garam.

"Keberadaan koperasi desa juga bisa dikolaborasikan, sehingga bisa membantu tingkat kesejahteraan para petani garam," ujarnya.

Hadi mengungkapkan produktivitas garam pada musim kemarau tahun ini justru mengalami penurunan dibandingkan musim kemarau sebelumnya.

Kondisi tersebut dipengaruhi tanah di areal produksi garam yang masih cenderung basah setelah sebelumnya mengalami musim hujan yang cukup panjang.

Akibatnya, proses produksi garam membutuhkan waktu lebih lama, sehingga produktivitas petani mengalami penurunan.

Ali Muntoha, petani garam asal Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Pati, mengakui musim kemarau saat ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, karena tanah di lahan produksi garam cenderung tawar sehingga mengakibatkan proses produksi garam membutuhkan waktu lebih lama.

"Jika sebelumnya dalam waktu tiga hari bisa panen, kini butuh waktu hingga empat hari karena uap panas dari tanah tidak maksimal karena selain tawar juga tanahnya cenderung basah. Sedangkan, hasil panennya juga turun menjadi 1 kuintal dari sebelumnya bisa 1,5 kuintal," ujarnya.

Menurut Ali, kondisi tersebut dapat dirasakan dari suhu panas di lahan produksi. Jika sebelumnya pada sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB suhu panas sudah cukup tinggi, saat ini panas yang dihasilkan tanah pada waktu tersebut belum maksimal.

Selain persoalan produktivitas, petani juga menghadapi rendahnya penyerapan garam. Perusahaan pembuat garam konsumsi disebut belum menerima pasokan bahan baku dari petani sehingga berdampak terhadap harga jual di tingkat petani.

Ali mengatakan harga garam yang sebelumnya mencapai Rp1.100 per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp700 per kilogram.

Meski mengalami penurunan harga, dia mengakui petani garam masih memperoleh keuntungan.

Menurutnya, hal yang lebih penting pemerintah tidak melakukan impor garam sehingga produksi garam rakyat tetap memiliki peluang untuk diserap industri dalam negeri.

Kabupaten Pati memiliki luas lahan produksi garam mencapai 2.901,63 hektare yang tersebar di empat kecamatan dengan produksi garam pada 2025 tercatat mencapai 93.482,23 ton.

Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.