Mimpi Anak Petani, Ismi Ulfaida Jadi Paskibraka Pertama dari Sekolah Rakyat

Mimpi Anak Petani, Ismi Ulfaida Jadi Paskibraka Pertama dari Sekolah Rakyat

Proses tersebut akhirnya membawanya jauh dari Polewali Mandar menuju Depok, Jawa Barat. Selama sekitar tiga pekan mengikuti pelatihan, Ismi harus menjalani rutinitas yang padat sekaligus beradaptasi dengan kehi...

Proses tersebut akhirnya membawanya jauh dari Polewali Mandar menuju Depok, Jawa Barat. Selama sekitar tiga pekan mengikuti pelatihan, Ismi harus menjalani rutinitas yang padat sekaligus beradaptasi dengan kehidupan bersama perwakilan Paskibraka dari berbagai daerah.

Setiap hari dimulai sekitar pukul 04.00 WIB. Setelah mandi dan melaksanakan salat Subuh, dia mengikuti olahraga pagi. Latihan utama kemudian berlangsung mulai pukul 07.00 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB.

Setelah latihan, kegiatan berlanjut dengan mandi, salat Magrib, makan malam, dan salat Isya. Pada malam hari, dia dan 75 anggota Paskibraka lainnya mengikuti materi apabila terdapat agenda pembelajaran. Jika tidak ada materi, waktu digunakan untuk beristirahat.

Rutinitas yang padat tersebut menjadi salah satu tantangan baru bagi Ismi. Dia harus membiasakan diri melakukan berbagai kegiatan dengan cepat, berbeda dengan kebiasaannya ketika berada di rumah.

"Kalau di rumah enggak terlalu cepat," kata siswi kelas 11 itu.

Namun, tantangan terbesar bagi Ismi bukan hanya soal rutinitas latihan. Jauh dari keluarga membuatnya beberapa kali dilanda rasa rindu kepada orang tua.

Orang tua Ismi bekerja sebagai petani. Saat rasa rindu datang, Ismi memilih menenangkan dirinya dengan mengingat orang tua dan wajah mereka.

"Kalau kangen orang rumah, cuma nangis di kamar, tenangin diri. Ingat orang tua, ingat wajah orang tua," kata Ismi ketika ditanya hal yang membuatnya tetap kuat menjalani pelatihan.

Sebelum berangkat ke Jakarta, Ismi juga sempat meminta doa kepada orang tuanya. Doa keluarga menjadi bekal baginya untuk menjalani pengalaman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Di lingkungan pelatihan, Ismi mengaku tidak mengalami kesulitan untuk berbaur dengan peserta dari berbagai daerah. Dia juga tidak merasa berbeda meskipun menjadi satu-satunya siswa dari Sekolah Rakyat.

"Tidak ada kesulitan. Tidak terlalu banyak yang tanya tentang Sekolah Rakyat," kata perempuan yang bercita-cita menjadi polwan itu.

Ismi memaknai keterpilihan dirinya sebagai calon anggota Paskibraka sebagai sesuatu yang membanggakan, terlebih karena dirinya menjadi siswa pertama dari Sekolah Rakyat yang mencapai tahap tersebut.

"Tentunya sangat bersyukur dan bangga karena bisa terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di tingkat nasional, apalagi dari Sekolah Rakyat yang pertama," ujarnya.