Meski sering berpolemik, ‘sound horeg’ punya potensi besar untuk dikembangkan
● Meninggalnya 3 orang akibat ‘sound horeg’ menambah daftar panjang polemik hiburan rakyat suburban ini.
● Tapi tingginya antusias warga untuk menyaksikan ‘sound horeg’ menandakan potensi ekonomi yang besar.
● Sekarang tinggal bagaimana seluruh pihak terkait berembuk untuk mencari solusi.
Rentetan polemik sound horeg terus berlanjut. Sepanjang Agustus 2026, tiga orang di Jawa Timur meninggal dunia dalam peristiwa yang dikaitkan dengan sound horeg—mulai dari warga biasa hingga kru dan penyewa.
Sontak, pemerintah Provinsi Jawa Timur mengevaluasi lagi aturan sound horeg dan melakukan konsolidasi dengan pemangku kepentingan serta forum koordinasi pimpinan di daerah (forkopimda).
Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: jika sound horeg begitu bermasalah, mengapa permintaannya tidak surut?
Padahal sejak tahun lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa yang melabeli sound horeg ‘haram’. Kata ‘horeg’ sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti bergetar atau bergerak.
Jawabannya tidak cukup dicari di ranah moral atau hukum. ‘Sound horeg’ juga perlu dilihat sebagai pengalaman yang dijual, dibeli, dan dinikmati bersama.
Read more: Negara mengakui eksistensi ‘sound horeg’: Upaya melindungi atau justru membatasi?
Pasarnya telah terbentuk dan berkembang pesat
Di balik getaran dan suara bising sound horeg ada geliat ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemilik usaha persewaan Blizzard Audio di Malang, Jawa Timur, menyebut ada partisipasi 1.200 usaha di sekitar Malang yang menyokong padatnya jadwal panggung sound horeg.
Satu unit sistem suara ‘super jedag jedug’ disebut bisa bernilai Rp500 juta hingga lebih dari Rp1 miliar.
Tarif sewanya mencapai Rp30 juta untuk acara kecil dan Rp50 juta untuk karnaval hari jadi kota atau kabupaten. Artinya, modal dapat kembali dalam 20 hingga 30 kontrak pada musim ramai.
Padatnya jadwal manggung sound horeg tentunya beriringan dengan besarnya permintaan masyarakat yang butuh pengalaman tertentu sebagai wadah hiburannya. Konsep ini disebut experience economy atau ekonomi pengalaman.
Uniknya, popularitas dan keberterimaan terhadap sound horeg lahir dari pendekatan yang unik.
Warga ikut mendanai lewat iuran. Pemuda desa mengatur rute dan dekorasi. Penonton merekam dan mengunggahnya ke media sosial dengan sukarela sebagai sarana promosi gratis yang efektif. Kerumuman orang yang datang menyaksikan sound horeg juga otomatis menyuburkan bisnis makanan dan akomodasi.
Nilai kesuksesan sound horeg tidak satu arah—dari produsen ke konsumen—melainkan lahir dari interaksi keduanya. Karakteristik ini sesuai dengan nilai co-creation yang jadi nilai tambah terhadap keberterimaan dan popularitas sound horeg hingga saat ini.
Read more: Fatwa haram ‘sound horeg’: Benarkah Islam menolak perkembangan teknologi?
Punya karakteristik uniknya tersendiri
Dalam riset saya tentang pariwisata musik nilai utama pertunjukan seni langsung terletak pada hal-hal yang tidak bisa dipindahkan ke layar: kehadiran fisik, kebersamaan dengan penonton lain, dan keunikan momen yang tidak terulang.
Sound horeg memiliki bentuk autentisitas yang sangat khas. Pertama, autentisitas fisik. Bass berfrekuensi rendah tidak hanya didengar, tetapi dirasakan oleh tubuh, dan pengalaman ini hampir mustahil direproduksi melalui speaker ponsel.
Kedua, autentisitasnya bersifat akar rumput. Sound horeg lahir dari rakitan lokal, didanai iuran warga, dan dirayakan dalam momen milik kampung seperti bersih desa dan peringatan kemerdekaan. Bagi pendukungnya, inilah hiburan yang “milik kita”, bukan konser yang dijual promotor besar.
Ketiga, autentisitasnya bersifat eksistensial karena bisa memberikan sensasi kepada para penonton untuk merasa menjadi dirinya sendiri ketika berjoget bersama di jalan kampung. Inilah yang membuat larangan terasa, bagi sebagian orang, seperti perampasan identitas.
Read more: Trik ‘marketing’ jitu Denny Caknan meneruskan Didi Kempot memopulerkan musik Jawa
Sound horeg juga sangat kuat di ranah estetika, karena penonton larut dalam suasana, dan di ranah escapism (pelarian dari rutinitas), karena penonton ikut berjoget dan berjalan bersama rombongan.
Di sejumlah wilayah, sound horeg memang dipandang sebagai pelarian dari rutinitas, pencarian jati diri, sekaligus hiburan gratis bagi masyarakat suburban.
Blunder dari para penikmatnya
Sound horeg bisa populer karena media sosial. Para penonton dan panitia gencar ‘mempromosikan’ musik ini di media sosial.
Video adu sound, truk yang melintasi gapura, dan kerumunan yang berjoget menjadi etalase gratis bagi operator sekaligus undangan bagi calon penonton dan calon penyewa. Bagi warga desa penyelenggara, video yang viral adalah bentuk pengakuan: kampung mereka “tampil” di hadapan penonton yang lebih luas.
Namun, perluasan pengalaman ini bekerja dua arah. Media sosial juga memperluas sisi gelapnya. Ketika seorang warga Lumajang, Jawa Timur, pingsan dan meninggal saat menonton sound horeg pada Agustus 2025, video detik-detik kematiannya banyak direkam dan diunggah warga.
Ini menunjukkan apa yang disebut dengan perusakan nilai bersama (value co-destruction. Interaksi yang sama bisa menghancurkan nilai bagi pihak lain.
Warga yang tidak ikut menikmati, seperti lansia, orang sakit, pemilik toko yang bangunannya retak, atau keluarga yang terbebani iuran, menanggung kerugian dari pengalaman yang tidak mereka pilih.
Di sinilah inti persoalan sound horeg. Yang terjadi bukan sekadar pertentangan antara budaya dan hukum, melainkan ketimpangan antara pihak yang menikmati nilai dan pihak yang menanggung kerusakannya.
Read more: Menilik potensi jumbo pariwisata musik nasional
Jalan tengah
Sound horeg bisa sukses karena menjual pengalaman kolektif yang terasa autentik dan terus diperpanjang di media sosial. Karena itu, pelarangan total cenderung sulit ditegakkan, sementara pembiaran yang berpotensi memakan korban baru tak boleh dibenarkan.
Ada tiga arah yang bisa kita tempuh. Pertama, memindahkan pementasan dari jalan permukiman ke lokasi statis yang dirancang aman, seperti yang lazim dilakukan festival musik seperti ngayogjazz.
Kedua, memanfaatkan siaran langsung dari lokasi statis, sehingga pengalaman tetap bisa dinikmati luas tanpa menambah kerumunan di jalan.
Ketiga, melibatkan warga yang tidak menikmati sound horeg dalam keputusan desa, termasuk soal iuran, agar penciptaan nilai tidak berubah menjadi perusakan nilai.
Autentisitas dan manisnya roda ekonomi yang tercipta dari sound horeg bukan alasan untuk mengabaikan keselamatan. Pengalaman festival musik yang dikelola dengan baik menunjukkan bahwa rasa “asli” bisa hadir berdampingan dengan tata kelola yang bisa menjamin bisnis, hiburan, keamanan, dan keselamatan seluruh pihak di dalamnya.