Film ‘The Odyssey’ versi Nolan: Memukau dan mendebarkan, tapi tetap tidak sempurna

Film ‘The Odyssey’ versi Nolan: Memukau dan mendebarkan, tapi tetap tidak sempurna

Saya pertama kali membaca The Odyssey saat liburan musim panas, ketika masih berusia 15 tahun. Saya kerap membaca buku itu di bawah naungan pohon murbei di halaman belakang rumah kami di Brisbane, Australia. Ha...

Saya pertama kali membaca The Odyssey saat liburan musim panas, ketika masih berusia 15 tahun. Saya kerap membaca buku itu di bawah naungan pohon murbei di halaman belakang rumah kami di Brisbane, Australia. Halaman-halaman buku itu bahkan kerap ternoda warna ungu dari jemari saya.

Buku itu adalah edisi bekas terbitan Penguin Classics terjemahan E.V. Rieu—kertasnya yang menguning serta jilidannya yang berkerut, di mata remaja saya kala itu, terasa seakan sama tuanya dengan karya itu sendiri.

Di tengah rasa kantuk melanda saat musim panas, atau saat berlari ke dalam rumah untuk menghindari sengatan hawa panas yang datang tiba-tiba, saya menenggelamkan diri ke dalam indahnya Laut Aegea dan pulau-pulau karangnya. Tempat itu menjadi panggung pertunjukan ketika Dewi Athena berupaya mengantarkan Odysseus, sosok favoritnya, agar tiba dengan selamat di rumahnya di Ithaka.

Saya selalu membayangkan Kythera, pulau tempat ibu saya dilahirkan, atau Kos, pulau asal ayah saya, sambil berkhayal apakah Odysseus akan berlabuh di sana.

Tak pernah terbayangkan dalam benak saya, setengah abad kemudian saya akan duduk di bioskop IMAX Darling Harbour, Sydney, Australia, menyaksikan adaptasi film The Odyssey yang disutradarai sineas Inggris-Amerika, Christopher Nolan dengan anggaran US$250 juta (sekitar Rp4 Triliun).

Saya tidak lagi berada di ruang tamu keluarga, menatap layar TV hitam-putih yang mungil. Saat itu, saya menyaksikan gaya nyentrik Kirk Douglas sebagai Odysseus dalam film Ulysses (1954)—tayangan ulang kesukaan saya pada Sabtu sore.

Kali ini, layar besar yang mengepung saya membuat saya seolah tersedot ke dalam bingkai adegan, larut dalam semesta Zaman Perunggu yang begitu nyata.

Di sana, Matt Damon berperan sebagai Odysseus yang cerdik, Raja Ithaca sekaligus pahlawan Perang Troya yang murka di hadapan Dewa Poseidon. Seringai jemawa khas Douglas tak lagi berbekas, berganti dengan akting Damon yang terkontrol. Tak ada lagi kuil dari kertas semen khas Ulysses. Film buatan Nolan ini benar-benar menyajikan lanskap The Odyssey yang jauh berbeda.

Keindahan yang misterius

Saya selalu ingin terjun ke perasaan ketika membaca The Odyssey pertama kali yang sangat menyenangkan tapi terbilang cukup naif. Maka, saat bersiap menulis esai ini, saya bertekad untuk mencoba membacanya—paling tidak sebagian—dalam bahasa Yunani Kuno yang asli.

Saya paham sedikit bahasa Yunani modern (meski tak sebanyak yang diharapkan orang tua saya). Saya membeli edisi Loeb Classical Library dan membayangkan akan membandingkan baris demi baris antara teks Yunani dan Inggris. Prosesnya mungkin lambat, tetapi masih bisa dilakukan.

Apa yang berhasil saya pahami tetap memikat hati. Lembaran teks Yunani Kuno yang terhampar di hadapan saya tampak seperti tembok batu tua yang saling bertumpuk tanpa semen, dihiasi sulur tanaman dan guratan dekoratif yang rumit. Teks itu menyimpan keindahan yang tak sepenuhnya bisa saya pahami. Tapi justru itu seni yang membuat saya tak bisa berpaling—membuatnya terasa kian misterius sekaligus memikat.

Selama bertahun-tahun, saya telah membaca terjemahan versi Robert Fagles (1996) dan Robert Fitzgerald (1961). Meski saya menyukai keduanya, terjemahan puisi karya Emily Wilson pada 2017—yang disebut Christopher Nolan sebagai salah satu inspirasi filmnya—langsung memikat perhatian saya karena terasa jauh lebih lugas.

Daya tarik terjemahan Wilson memang sulit ditampik, terutama pada caranya mengoreksi bias gender yang terdapat dalam beberapa versi terdahulu. Kepadatan bahasa yang kerap membuat sebagian hasil terjemahan terasa berat bagi pembaca berbahasa Inggris era modern, kini melunak menjadi sesuatu yang jauh lebih alami.

Secara keseluruhan, pendekatan Wilson meniru konsep “kaca jendela” ala George Orwell yang tersohor—bahasa dibuat transparan agar makna utama dalam teks dapat menyeruak ke permukaan. Kejernihan itu menghadirkan pengalaman yang begitu memikat, layaknya menatap lukisan kuno yang telah dibersihkan dari lapisan vernis berusia berabad-abad.

Namun, pendekatan ini bukan tanpa risiko. Gaya penulisan Homer sebetulnya dirancang untuk memiliki dimensi puitis yang kuat lewat irama, musikalitas, dan pola bunyinya. Mampukah hal itu terpancar sekuat karya para pendahulunya?

Jawabannya: ya, sebagian besar mampu, tetapi dengan caranya sendiri. Adegan yang memperkenalkan Dewi Kalipso di dalam gua adalah salah satu contoh sempurna ketika kesederhanaan gaya bahasa berkelindan indah dengan alunan puitis:

Di sana duduk Kalipso dengan kepang keritingnya.
Di bawah tungku api besar sedang membara.
Aroma sitrus dan pinus yang rapuh.
Memenuhi pulau itu. Di dalam, dia sedang bernyanyi
Dan menenun dengan teropong tenun yang terbuat dari emas.
Suaranya indah. Di sekitar gua
Hutan yang subur tumbuh dengan pesat: alder, poplar,
Dan sipres beraroma. Tempat itu penuh dengan sayap-sayap.
Burung-burung bersarang di sana tetapi berburu di laut:
Burung hantu, elang, burung camar dengan paruh yang menganga.
Tanaman merambat yang matang dan hijau, tergantung tebal dengan buah anggur,
Terbentang melilit di sekitar guanya.

Gambaran semacam itu, yang dihadirkan kembali secara segar dalam puisi Inggris berirama (iambic pentameter), terasa begitu ringan tapi kaya sensasi. Terjemahan ini lebih dari sekadar berhasil dalam membukakan pintu semesta Homer bagi generasi pembaca baru.

Upaya mengadaptasinya

Nolan mengambil pertaruhan besar. Secara garis besar, untuk versi berbahasa Inggris, terdapat dua jenis pola adaptasi.

Pertama, adaptasi yang setia pada naskah asli dengan berupaya memindahkan mitos Homer secara langsung ke layar—lengkap dengan gaun tunik, kapal kayu, deretan dewa-dewi, hingga para monster. Upaya utuh paling mutakhir dari jenis ini adalah miniseri televisi tahun 1997.

Sebagai sebuah karya adaptasi bebas, miniseri ini menampilkan akting mendalam dari Armand Assante sebagai Odysseus dan Greta Scacchi sebagai istrinya, Penelope. Namun, monster-monster di dalamnya—yang dirancang oleh Jim Henson’s Creature Shop—membuatnya seolah memasukkan karakter Muppets ke dalam film berlabel dewasa.

Lalu ada jenis adaptasi yang direkonstruksi secara lebih luas. Film karya Coen bersaudara, O Brother, Where Art Thou? (2000) mengambil inspirasi utama dari novel modernis karya James Joyce, Ulysses. Film ini memindahkan latarnya ke wilayah selatan Amerika Serikat.

Ada juga karya Theo Angelopoulos, Ulysses’ Gaze (1995)—yang hanya sebagian menggunakan bahasa Inggris—merupakan interpretasi yang bahkan jauh lebih bebas, berpusat pada pengembaraan seorang pembuat film.

Film karya Coen bersaudara, ‘O Brother, Where Art Thou?’, memindahkan latar cerita The Odyssey ke wilayah selatan Amerika Serikat. Getty Images

Versi Nolan merupakan pertaruhan berisiko paling tinggi: sebuah epik sejarah The Odyssey berskala penuh dengan latar Yunani Kuno, yang berambisi menangkap secara utuh roh dari karya Homer.

Dari sisi praktis, hambatan utama yang kerap menggagalkan upaya-upaya terdahulu kini tampaknya telah tersingkirkan: anggaran berskala raksasa. Belum pernah ada gelontoran dana sebesar ini demi membawa The Odyssey ke layar lebar—sebuah nominal yang mungkin hanya sanggup diraih oleh sosok seperti Nolan. Bujet tersebut memungkinkannya menggunakan teknik perfilman kelas atas seperti merekam keseluruhan film dalam format IMAX.

Sokongan dana yang teramat besar ini membuat semesta The Odyssey dapat dihidupkan secara meyakinkan, tanpa perlu jatuh pada tata panggung artifisial yang sempat merusak hasil adaptasi-adaptasi sebelumnya.

Seandainya saja dari dulu memang begitu. Genre film drama sejarah—istilah payung yang mencakup segalanya, mulai dari film-film Italia kelas B yang dikenal sebagai peplum hingga karya epik prestisius garapan Hollywood—sejak lama bergelut dengan kualitas produksi yang tak konsisten serta efek khusus yang serba terbatas.

Mengambil latar di dunia Yunani-Romawi, tontonan sejarah ini kerap mengutip kisah Perang Troya dan mitologi Yunani lainnya. Meski begitu, genre ini mungkin lebih sering mengambil referensi dari raksasa penerusnya yang kerap menyedot perhatian: Romawi Kuno.

Contoh film drama sejarah berlatar Yunani pada pertengahan abad ke-20, seperti The 300 Spartans (1962) dan Jason & the Argonauts (1963), umumnya didukung anggaran kelas menengah.

Sebaliknya, film-film berlatar Romawi tampil habis-habisan bak kekaisaran. Film seperti Quo Vadis (1951), Ben-Hur (1959), dan The Fall of the Roman Empire (1964) penuh dengan hamparan jubah ungu, pelindung dada berkilauan, barisan tentara yang berbaris di bawah panji elang, serta kompleks kuil megah yang dipenuhi patung marmer dan lantai batu.

Puncak kemegahan epik Romawi—baik dari segi ambisi tematik maupun pembengkakan anggaran—tercapai lewat film Cleopatra (1963) garapan Joseph L. Mankiewicz. Marathon akting emosional berdurasi empat jam ala Shakespeare dari Elizabeth Taylor dan Richard Burton itu menelan biaya produksi sekitar US$450 juta (sekitar Rp7,3 triliun) senilai saat ini. Kendati mencetak pendapatan kotor yang lumayan di bioskop, kegagalan film tersebut hampir membuat 20th Century Fox bangkrut.

Kejatuhan itu menjadi titik balik krusial bagi kelangsungan komersial genre tersebut. Sejak saat itu, epik Romawi yang lebih modern seperti Gladiator (2000) dan Gladiator II (2024) perlahan membangkitkan kembali kejayaan genre ini.

Dari ranah Yunani Kuno, langkah serupa juga diikuti oleh Troy (2004)—yang diadaptasi dari epik The Iliad dan dibintangi Brad Pitt—serta film remake Clash of the Titans pada 2010.

Namun, mampukah Nolan mencapai apa yang gagal diraih Mankiewicz—salah satu sutradara hebat di era keemasan Hollywood: menghadirkan epik sejarah yang memikat secara artistik sekaligus sukses besar di pasaran?

Christopher Nolan mengambil pertaruhan besar dengan memproduksi ‘The Odyssey’ beranggaran raksasa. Universal Studios

Desain narasi ‘The Odyssey’

Sebagian dari keajaiban The Odyssey karya Homer terletak pada latar masa lampau yang tak perlu memamerkan kemewahan tata panggung maupun kostum. Meski begitu, kisahnya kaya akan wajah: kadang begitu lugas dan berdarah-darah, di lain waktu puitis dan penuh sihir, terikat erat dengan bumi, alam raya, serta masyarakat, flora, dan faunanya.

Cerita berlatar ranah fana yang dikuasai oleh Gunung Olympus. Lembu jantan tak terhitung jumlahnya dikorbankan untuk para dewa, lalu disantap dalam perjamuan. Lautan, yang dikendalikan oleh Poseidon, terus menghempas, membanjiri, menghancurkan tiang kapal, dan menggagalkan perjalanan Odysseus di setiap sudut.

Dunia The Odyssey juga sarat akan hasrat. Para dewa memadu kasih dengan manusia fana hingga melahirkan keturunan. Odysseus—pria tampan, karismatik, bak dewa tetapi tetap seorang manusia—menjadi korban dari perawakannya sendiri yang gagah. Penyihir bernama Circe tak sanggup menahan pesonanya, lalu merayunya untuk tinggal bersama di Pulau Aeaea selama setahun. Kalipso bahkan begitu terpikat hingga menahannya sebagai tawanan, sembari menjanjikan keabadian dan cinta sejati.

Yang menyatukan semua ini adalah pengembaraan selama sepuluh tahun demi satu tujuan utama: nostos, alias perjalanan pulang. Namun, untuk bisa sampai di rumah, Odysseus harus mengarungi lautan yang dikuasai oleh kekuatan yang memusuhinya: Poseidon. Bingkai cerita yang terkesan sederhana ini sejatinya dirancang dengan sangat cerdik—memadukan kejelasan struktur cerita dengan kerumitan narasi yang kerap tak disadari.

Matt Damon sebagai Odysseus. Universal Studios

Pilihan narasi paling kuat di film ini adalah memulainya dari mendekati penghujung cerita, ketika putra Odysseus, Telemachus, berusaha menghentikan kekacauan di kediaman ayahnya. Dalam empat jilid pertama dari total 24 jilid yang menyusun puisi epik ini, sang pahlawan utama, Odysseus, justru tak kunjung memunculkan batang hidungnya.

Telemachus tak sanggup selamanya membendung para pelamar Penelope. Mereka terus mendesak ibunya untuk menerima kenyataan bahwa sang suami telah tewas dan memilih salah satu dari mereka sebagai suami baru—yang secara otomatis akan merebut takhta Odysseus sebagai raja.

Lantaran tak mampu menyelesaikan masalah ini dengan kekuatan fisik, Telemachus memutuskan berlayar untuk mencari keberadaan ayahnya.

Dengan demikian, alur cerita ini dibingkai oleh sosok putra yang mencari ayah yang nyaris tak pernah ia lihat. Sementara itu, jauh di seberang lautan, sang ayah berjuang mati-matian demi bisa kembali ke pelukan keluarga dan tanah airnya.

Yang memisahkan Odysseus dan Telemachus adalah sederet rintangan, terutama campur tangan tiada henti dari para dewa—sosok yang memperlakukan manusia fana bak bidak catur dalam perselisihan pribadi mereka.

Penuh hasrat, labil, dan mudah tersinggung oleh hal terkecil sekalipun, para dewa menghuni ruang narasi di atas alur utama. Namun, karena mereka sering kali menyamar sebagai manusia untuk campur tangan secara langsung dalam urusan fana, kehadiran mereka pun turut mewarnai perjalanan dan petualangan Odysseus.

Di dalam perjalanan itu sendiri, meletup konflik-konflik lain: antara Odysseus dengan para anak buahnya, serta antara mereka dengan makhluk-makhluk aneh yang ditemui dari pulau ke pulau. Dalam salah satu episode, para awak kapal mendesak Odysseus agar tidak melangkah lebih jauh ke dalam gua milik Polyphemus—keputusan nekad yang akhirnya membuat sebagian dari mereka menemui ajal secara mengenaskan.

Di episode lain, tepat ketika daratan Ithaca sudah merapat di pelupuk mata, para anak buah kapal—yang curiga Odysseus menyembunyikan harta karun—malah membuka kantong angin pemberian Aeolus, sang raja pulau kecil. Begitu terlepas, hempasan angin mendadak menerbangkan mereka kembali ke pulau Aeolus.

Lewat dinamika ini, kita dapat melihat bagaimana dimensi mitologis dan tematik The Odyssey memperoleh daya pikat abadi justru dari kecerdasan struktur narasinya. Ia berhasil merajut begitu banyak elemen puisi menjadi satu kesatuan yang utuh.

Rancangan alur itulah yang telah membentuk seni bercerita selama hampir tiga milenium—mulai dari tragedi Yunani abad ke-5 SM, naskah Poetics karya Aristoteles, hingga era modern saat ini.

‘The Odyssey’ versi Nolan

Tak diragukan lagi bahwa pendekatan penceritaan yang kaya dan berlapis inilah yang membuat Christopher Nolan terpikat dan berambisi merealisasikannya.

The Odyssey versi Nolan—yang tidak hanya ia sutradarai, tetapi juga ia tulis dan produseri—merupakan penelusuran mendalam ke dalam semesta Homer.

Film ini tetap menghormati spirit materi aslinya, tapi tak ragu untuk berkreasi secara bebas. Dengan durasi tiga jam, film ini menjadi sebuah upaya serius dalam merekonstruksi epik prestisius bagi generasi baru.

Ketertarikan Nolan terhadap epik karya Homer sudah berlangsung sejak lama. Awalnya ia direkrut untuk menyutradarai Troy, tetapi proyek itu lepas dari genggamannya ketika Wolfgang Petersen—yang pertama kali mengembangkannya—ingin mengambilnya kembali setelah Warner Bros membatalkan proyek film Batman vs. Superman miliknya. Sebagai kompensasi, pihak studio akhirnya menawarkan Batman Begins kepada Nolan.

Afeksi Nolan pada The Odyssey sudah terasa sejak babak pembuka. Di dalam aula perjamuan Odysseus di Ithaca, seorang penyair mengetukkan tongkatnya ke lantai dan, dengan ketukan berirama, mulai menuturkan kisahnya.

Sejurus kemudian, adegan berpindah ke Kuda Troya yang separuh bagiannya tertimbun di bibir pantai. Menyembul dari pasir pantai bak Patung Liberty yang terkubur sebagian di akhir film Planet of the Apes (1968), kuda legendaris itu tampak seperti relik dari peradaban yang runtuh.

Film still: the horse of Troy being pulled out of the water.

Dalam film karya Nolan, Kuda Troya yang legendaris itu tampak menyerupai peninggalan dari peradaban yang runtuh. Universal Studios

Secara visual, The Odyssey versi Nolan memadukan naturalisme murni dengan tekstur suasana yang lebih kelam secara bergantian. Laut Aegea berganti-ganti rupa dari biru yang berkilau menjadi ungu. Sementara itu, adegan peperangan dihadirkan dalam sapuan warna merah tua dan oranye yang intens—mengingatkan pada ledakan nuklir dalam karya Nolan yang sukses besar secara kritis maupun komersial, Oppenheimer (2023).

Latar tempatnya tampak meyakinkan sebagai era kuno, dan tata kostumnya berupaya setia pada zamannya, meski ada sedikit penyesuaian demi selera modern atau efek artistik.

Dari segi genre, film ini terhindar dari godaan untuk mengubah karya Homer menjadi fantasi kontemporer ataupun sekadar deretan adegan aksi bertubi-tubi yang minim kerumitan moral dan emosi. Performa jajaran pemain utama seperti Matt Damon sebagai Odysseus, Anne Hathaway sebagai Penelope, dan Tom Holland sebagai Telemachus nyaris sempurna.

Meski begitu, saya tetap merasa agak risih saat Telemachus memanggil orang tuanya dengan sebutan “Mom” dan “Dad”. Di bagian ini, dan di beberapa bagian lainnya, kejanggalan nada akibat penggunaan istilah kontemporer terasa tak sepadan dengan upaya untuk tampil relatable.

Di luar catatan itu, kualitas akting para pemerannya terasa pas dan tepat sasaran untuk sebuah film epik modern.

Perjalanan pulang dan lapisan cerita

Tema perjalanan pulang mengingatkan kita pada film Nolan lainnya yakni Interstellar (2014). Di film tersebut, seorang antariksawan harus menembus rintangan ruang dan waktu agar bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.

Di sini pun Nolan memahami bahwa nostos bukan sekadar pengembaraan melintasi samudra, melainkan benang merah emosional yang merajut babak-babak cerita menjadi satu kesatuan. Odysseus—seorang suami, ayah, raja, sekaligus prajurit yang menyisakan trauma perang—memikul beban berat saat berjuang pulang seusai pengepungan Troya selama sepuluh tahun.

Awalnya saya sempat mengkhawatirkan wibawa tenang yang dibawakan Damon tak mampu menjangkau rentang emosi yang dibutuhkan karakter ini: gabungan antara keangkuhan dan ketenangan, momen-momen kelemahan, serta ketangguhan dan kecerdikan.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa karakter Odysseus seharusnya dibawakan dengan lebih karismatik dan mencuri perhatian. Namun, penghalusan bagian-bagian kasar karakter Odysseus demi menyesuaikan selera modern sukses memikat penonton. Cintanya kepada Penelope, istri yang begitu ia rindukan memberikan keutuhan emosional pada babak-babak pengembaraan di film ini.

Saat Odysseus harus memikul sendirian beban kemegahan film ini di tengah laut lepas, Penelope-lah yang bertugas menjaga alur cerita paralel tentang intrik istana. Sering kali terhalang oleh tirai kisi-kisi kayu, ia duduk menenun di dalam ruangan yang menghadap langsung ke aula perjamuan.

Ia mengamati setiap gerak-gerik para pelamar, begitupun sebaliknya. Pemilihan latar ini menciptakan ketegangan dramatis yang luar biasa, mengingatkan kita bahwa sementara Odysseus berjuang untuk pulang, rumahnya sendiri tengah terkepung; sang istri terjebak di dalam sangkar.

Tampil anggun dan cerdik, Penelope dalam versi The Odyssey ini juga tak ragu memperlihatkan emosinya. Kecewa dan cemas akan hilangnya sang suami, tekanan dari ancaman pernikahan paksa, hingga bahaya yang mengintai nyawa putranya, seluruhnya dituangkan oleh Hathaway dalam adegan-adegan bersuasana emosi yang memberikan realisme psikologis pada karakternya. Jika Damon menjelmakan perjalanan pulang, maka Hathaway adalah perwujudan dari rumah itu sendiri.

Anne Hathaway membawakan peran Penelope dengan emosi yang begitu lepas dan lugas. Universal Studios

Meracik alur cerita

Menyeimbangkan banyak alur cerita dalam The Odyssey bukanlah perkara mudah. Tak banyak sutradara yang lebih siap melakukannya selain Nolan.

Nolan begitu piawai merangkai elemen-elemen utama cerita The Odyssey menjadi narasi berlapis sebagaimana yang dituntut oleh epik karya Homer ini—meski tak selalu berjalan mulus. Bingkai utama kepulangan Odysseus ke Ithaca tetap terjaga dengan kokoh, bersanding dengan kisah paralel Telemachus dan Penelope, yang seluruhnya diawali dan diakhiri oleh peristiwa pengepungan Troya.

Seakan belum cukup, Nolan menambahkan alur sampingan yang tidak terdapat pada naskah asli Homer: sebuah konflik antara pemimpin para pelamar, Antinous (dimainkan dengan kelihaian yang memikat oleh Robert Pattinson), dan Sinon (Elliot Page), karakter yang dipinjam dari karya Virgil, Aeneid.

Ke dalam arsitektur alur ini, Nolan menyuntikkan gaya bercerita khasnya: manipulasi waktu demi menghadirkan efek dramatis. Meski elemen tersebut sejatinya sudah ada pada naskah Homer, Nolan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi. Narasinya seolah memiliki kualitas bak kubus rubik, yang mengajak penonton untuk merangkai kembali potongan-potongan cerita di dalam pikiran seiring berjalannya film.

Sepanjang film, alur diselingi oleh kilas balik yang mendadak, bayangan yang terus berulang, serta potongan-potongan narasi yang secara bertahap menyingkap makna baru seiring jalannya cerita. Sebilah pedang menebas leher patung dewa batu, memercikkan bunga api saat kepalanya terpenggal.

Kita menyaksikan adegan tersebut beberapa kali, sembari terus menerka di mana letak momen itu sebenarnya. Tepat ketika posisi dramatisnya dalam cerita akhirnya terungkap, efek yang dirasakan adalah sebuah momen kepuasan mendalam.

Robert Pattinson memerankan Antinous yang licik. Universal Studios

Perpaduan genre dan ‘mash up’

Terdapat pula dimensi mash-up dalam The Odyssey karya Nolan—atau yang dahulu biasa kita sebut sebagai pastiche postmodern—sebuah praktik yang kini begitu lumrah hingga dianggap biasa. Sebagai contoh, penggarapan adegan Circe oleh Nolan berbelok ke arah horor psikologis.

Gubuk Circe yang terisolasi dan terabaikan, serta cara liciknya membujuk Odysseus dan para anak buahnya untuk menyantap makanan bertabur racun herba yang mengubah mereka menjadi babi, memperlihatkan jejak khas genre horor.

Proses transformasinya pun tampil mengerikan, menjadi contoh nyata dari penolakan Nolan untuk bergantung pada efek CGI secara berlebihan, atau bahkan tidak menggunakannya sama sekali. Sebagai gantinya, penggunaan tata rias prostetik, tata panggung, serta penyuntingan gambar yang cermat digunakan demi menciptakan efek yang membuat bulu kuduk merinding.

Sementara itu, episode Laestrygonian—saat Odysseus dan pasukannya menghadapi ras raksasa—sekilas tampak seperti adegan yang keluar dari film Excalibur (1981) karya John Boorman. Para raksasa dalam versi Nolan mengenakan zirah berat berwarna perak, yang bentuknya mengingatkan pada era abad pertengahan yang jauh lebih modern.

Di bagian lain, cara Nolan menggambarkan garis pantai yang gersang dan terjal dengan sapuan warna redup mengingatkan kita pada pantai berangin dalam film Perang Dunia II miliknya, Dunkirk (2017).

Namun, ada satu momen eksperimen gaya hibrida ini yang terasa agak berlebihan. Nolan nampak berkeras bahwa kostum Agamemnon—pemimpin pasukan Yunani yang mengepung Troya—sesuai betul dengan sejarah. Kendati demikian, bentuk helm yang melengkung, jubah yang membentang, serta siluet keseluruhannya malah bisa memicu kita membandingkannya dengan sosok Batman.

Kemunculan perdana kostum tersebut sejatinya sempat berkesan bagi saya sebagai penjajaran yang cerdas antara kebudayaan kuno dan budaya populer. Namun, ketika Agamemnon muncul kembali dengan kostum yang sama sembari melangkah percaya diri melewati gerbang Troya, kiasan itu justru mengalihkan perhatian.

Untuk sejenak, pemandangan itu membuat Troya seolah-olah telah dihancurkan oleh Batman, sementara Odysseus terdegradasi menjadi Robin—sang boy wonder yang membantu mewujudkan semua itu lewat kuda kayunya.

‘The Odyssey’ paling sempurna di layar lebar?

Banyak hal yang bisa dimaklumi demi episode memikat saat Odysseus mengunjungi Hades. Ketika menyaksikan film ini, ingatan saya sewaktu membaca The Odyssey di masa remaja mendadak menyeruak kembali. Saya menyadari bahwa ingatan tentang Hades ini entah bagaimana selalu terpatri di benak saya: sebuah alam kematian yang terasa sangat berduka, tapi dalam beberapa hal justru terasa lebih manusiawi ketimbang neraka umat Kristen yang penuh ganjaran siksa.

Sosok Circe-lah yang memberi tahu Odysseus cara mencapai Hades dan bagaimana menjalankan ritual pemanggilan arwah untuk memanggil mereka yang telah mati. Istilah Yunani untuk perjalanan menuju dunia bawah adalah katabasis, walau dalam versi Homer, Odysseus tidak secara harfiah turun ke dalam Hades. Ia mengarungi Samudra Oceanus, menyandarkan kapalnya di dekat daratan bangsa Cimmeria, lalu melanjutkan perjalanan ke titik temu sungai-sungai dunia bawah.

Tempat Odysseus memanggil para arwah adalah tepi sungai yang sepi, dan dalam versi Nolan, lokasi ini digambarkan dengan begitu indah: terbalut awan dan kabut, aura mistisnya tertangkap secara sempurna. Setelah Odysseus menyembelih domba dan memegang jasadnya di atas lubang agar darahnya mengalir ke dalamnya, para arwah pun bermunculan. Hanya setelah meminum darah hitam itulah, mereka diizinkan untuk berbicara.

Tepian pantai yang lengang serta siluet kurus para arwah yang meratap kelaparan memberikan lebih dari sekadar pembanding bagi drama di alam fana dan ranah para dewa di atasnya. Semua itu melengkapi semesta Homer, menempatkan eksistensi manusia ke dalam konteks penderitaan dan keniscayaan ajal yang lebih luas.

The Odyssey karya Nolan merupakan interpretasi salah satu kisah paling abadi dalam peradaban Barat yang ambisius, reaktif, dan kerap memukau. Ia mampu menyiasati keterbatasan yang dihadapi sutradara Hollywood mana pun dalam menyeimbangkan risiko finansial, ekspektasi penonton, serta visi artistik pribadinya—unsur vital yang tanpa kehadirannya akan membuat film ini kehilangan nyawa.

Namun, apakah ini versi adaptasi layar lebar yang paripurna dari The Odyssey karya Homer? Jelas tidak, dan memang tidak seharusnya demikian. Bahkan, hal itu rasanya mustahil.

Seperti versi-versi sebelumnya, film ini hanyalah upaya terbaru untuk menghidupkan kisah kuno yang tak pernah benar-benar bisa kita genggam penuh. Namun, dari ruang tafsirnya yang tanpa batas, kita tak hanya belajar tentang Zaman Perunggu yang penuh mitos itu, tetapi juga tentang diri kita sendiri.