Kemofobia bikin kita terkecoh produk ‘chemical-free’ meski faktanya mustahil, mengapa?

Kemofobia bikin kita terkecoh produk ‘chemical-free’ meski faktanya mustahil, mengapa?

• Kemofobia memicu persepsi bahwa bahan alami selalu lebih aman dibanding sintetis.

• Kemofobia muncul karena kecenderungan kita memilih jalan pintas mental dalam merespons rasa takut.

• Komunikasi sains perlu lebih apik untuk mengimbangi konten sensasional di media sosial.


Bayangkan kamu sedang berbelanja di supermarket. Di rak makanan tersedia dua produk hampir serupa dan harganya tak jauh berbeda.

Produk pertama menonjolkan label besar seperti “Natural”, “Chemical-Free”, dan “Tanpa Bahan Kimia”. Produk kedua tidak memiliki klaim apa pun, tetapi pada bagian komposisinya tercantum nama-nama seperti benzoic acid, oleic acid, dan citric acid. Produk mana yang akan kamu pilih?

Kemungkinan besar, banyak orang akan memilih produk pertama, bahkan sebelum membandingkan kandungan gizinya atau mencari tahu fungsi setiap bahan yang tertera pada label.

Keputusan itu terasa begitu alami dan benar sehingga jarang kita pertanyakan. Padahal, secara sains, klaim produk makanan yang “bebas bahan kimia” sebenarnya mustahil.

Air yang kita minum adalah senyawa kimia. Oksigen yang kita hirup juga termasuk unsur kimia. Nasi, garam dapur, vitamin C, daging, bahkan tubuh kita sendiri seluruhnya tersusun atas berbagai senyawa kimia.

Lalu mengapa label seperti chemical-free bisa begitu memperdaya kita?

Fenomena serupa juga mudah ditemukan di media sosial. Video berjudul “Lima Bahan Kimia Berbahaya yang Diam-diam Ada di Dapur Anda” sering kali mendapatkan jutaan views.

Sebaliknya, video yang menjelaskan bagaimana ilmuwan menilai keamanan suatu bahan kimia, atau mengapa dosis menentukan tingkat risiko, justru minim dilirik.


Read more: Bagaimana kimia analitik dapat mengungkapkan rahasia di balik kopi favoritmu


Kemofobia akibat salah persepsi

Mengapa narasi yang memicu ancaman dan rasa takut bisa lebih meyakinkan daripada penjelasan ilmiah?

Kecenderungan ini disebut sebagai kemofobia (chemophobia) atau persepsi negatif terhadap (bahan) kimia. Persepsi ini nyatanya bukan sekadar karena kurangnya pengetahuan tentang kimia.

Riset menunjukkan bahwa kemofobia merupakan hasil interaksi yang kompleks antara cara otak manusia menilai risiko, pengalaman hidup, bahasa yang digunakan media, strategi pemasaran, hingga algoritma media sosial.

Proses kompleks dan panjang itulah yang melahirkan keyakinan masyarakat bahwa bahan kimia sintetis atau hasil rekayasa manusia lebih berbahaya daripada bahan alami.

Selama bertahun-tahun, banyak ilmuwan beranggapan bahwa solusi paling ampuh mengurangi kemofobia adalah meningkatkan literasi kimia.

Logikanya sederhana, jika masyarakat memahami dengan benar apa itu bahan kimia, maka ketakutan mereka akan berkurang. Pendekatan ini dikenal sebagai deficit model dalam komunikasi sains. Namun berbagai penelitian mutakhir menunjukkan pendekatan tersebut kurang kuat untuk meluruskan persepsi masyarakat.

Dua orang dengan tingkat pendidikan yang sama dapat memiliki persepsi yang sangat berbeda terhadap bahan kimia. Bahkan seseorang yang memahami konsep dasar kimia tetap dapat memilih produk berlabel “natural” hanya karena terasa lebih aman.

Mengapa demikian? Jawabannya sebagian terletak pada cara kerja otak manusia.

Logika keliru kemofobia

Otak kita kerap tergoda menggunakan jalan pintas mental atau heuristik. Mekanisme ini sangat berguna untuk membantu kita membuat keputusan dengan cepat. Tetapi di balik kecepatan tersebut ada potensi risiko penilaian yang keliru.


Read more: Sudah tahu keliru, tapi tetap diulang: Alasan di balik kesalahan berpikir kita


Salah satu contohnya adalah naturalness bias atau kecenderungan menganggap bahwa sesuatu yang berlabel natural atau alami pasti lebih aman daripada yang sintetis. Bias ini membuat banyak orang lebih nyaman memilih produk ‘herbal’ dibandingkan dengan obat sintetis, meski belum tentu lebih aman dan manjur.

Nyatanya, racun justru mudah kita temukan dalam bahan-bahan ‘alami’. Arsenik, misalnya, yang terkandung dalam beberapa jenis batuan.

Tengok juga sianida yang terkandung dalam pucuk bambu (rebung) dan singkong, dan aflatoksin terkandung dalam beberapa jenis kacang-kacangan, misalnya kacang tanah dan biji-bijian.

kandungan sianida dalam singkong tidak berbahaya

Contoh kandungan bahan beracun sianida dalam singkong, bahan pangan sehari-hari orang Indonesia. (BPOM Tanimbar)

Otak kita juga lebih mudah bereaksi terhadap rasa takut dibandingkan dengan penjelasan statistik. Rasa takut kerap memicu reaksi spontan tanpa dipikirkan terlalu lama.

Ketika mendengar istilah “racun” atau bahan berbahaya lainnya, otak segera mengirimkan sinyal bahaya yang mengindahkan pertanyaan penting seperti berapa besar dosisnya, bagaimana paparannya, dan seberapa besar risikonya? Cara berpikir seperti ini tidak seinstan rasa takut.

Ada ungkapan klasik dalam toksikologi: the dose makes the poison, atau dosislah yang menentukan apakah suatu zat menjadi racun. Air sekalipun dapat membahayakan jika dikonsumsi secara berlebihan dalam waktu singkat.

Sebaliknya, banyak bahan tambahan pangan yang namanya terdengar asing justru aman digunakan karena kadarnya telah ditetapkan berdasarkan kajian ilmiah yang ketat.


Read more: Sianida dalam makanan: bagaimana standarnya untuk keamanan pangan


AI memperburuk atau menjadi solusi?

Meski kerap diwarnai risiko misinformasi dan bias, akal imitasi (AI) juga membuka peluang baru dalam komunikasi sains. AI membantu menerjemahkan istilah teknis ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, menyusun materi edukasi yang lebih menarik, bahkan menjawab pertanyaan masyarakat secara langsung.

Dengan kata lain, AI bisa dijadikan sekutu komunikasi sains. Hal ini bergantung pada bagaimana kita menggunakannya.

Penelitian tentang kemofobia selama beberapa tahun terakhir mengajarkan satu hal penting: ketakutan terhadap bahan kimia bukanlah tanda bahwa masyarakat tidak rasional. Ada alasan dari sisi psikologi, sosial, maupun komunikasi yang membuat kita lebih mudah mempercayai informasi yang membangkitkan rasa takut daripada penjelasan ilmiah.

Hal ini seharusnya mengubah cara kita memandang komunikasi sains. Di era AI, tantangan terhadap sains bukan hanya menghasilkan pengetahuan baru. Tantangan lainnya adalah memastikan pengetahuan itu mampu bersaing dengan narasi yang lebih sederhana, lebih emosional, dan lebih mudah viral.

Apalagi di era media sosial dengan setelan algoritma yang mengeksploitasi perhatian penggunanya. Kita perlu komunikasi sains lebih baik agar konten sains kimia dapat menyaingi konten-konten penjaja sensasi semata.


Read more: Apakah konten receh menyebabkan ‘brain rot’? Jawabannya tidak sesederhana itu


Dalam pertarungan itulah kemofobia menjadi pengingat bahwa komunikasi sains bukan lagi pelengkap penelitian, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari penelitian itu sendiri.