Kesehatan: Mengapa sebagian orang jadi magnet bagi nyamuk? - BBC News Indonesia

Kesehatan: Mengapa sebagian orang jadi magnet bagi nyamuk? - BBC News Indonesia

Sumber gambar, NurPhoto via Getty ImagesKeterangan gambar, Gambar dua nyamuk yang hinggap di bagian kulit seseorang yang terbuka.Penulis, Katherine WangPeranan, BBC.comTelah diterbitkan 2 Agustus 2026, 10:35 W...

Gambar dua nyamuk yang hinggap di bagian kulit seseorang yang terbuka.

Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Gambar dua nyamuk yang hinggap di bagian kulit seseorang yang terbuka.
    • Penulis, Katherine Wang
    • Peranan, BBC.com
  • Telah diterbitkan 2 Agustus 2026, 10:35 WIB

  • Waktu membaca: 5 menit

Jauh sebelum hinggap, nyamuk membaca sinyal tubuh kita dari jarak jauh. Apa saja faktor-faktor yang membuat penghisap darah itu menjadikan kita sebagai targetnya?

Saya seperti magnet bagi nyamuk.

Ke mana pun saya pergi berlibur pada musim panas, satu hal yang pasti terjadi: saya tidak akan luput dari gigitan nyamuk.

Gigitan itu berkembang menjadi bentol-bentol besar yang sangat gatal dan mengganggu hingga berminggu-minggu.

Sementara itu, orang-orang di sekitar saya sama sekali tidak mengalaminya. Tidak ada satu pun gigitan nyamuk yang menghinggapi tubuh mereka.

Jika pun ada yang tergigit, bentol yang tersisa hanyalah titik merah kecil. Teman-teman saya kerap bergurau bahwa darah saya mungkin terasa "sangat manis".

Dugaan mereka ternyata ada benarnya. Tubuh kita mengeluarkan berbagai penanda biologis—termasuk aroma napas dan bau badan—yang menentukan seberapa rentan seseorang terhadap gigitan nyamuk.

Bagi sebagian orang, penanda biologis itu memancarkan daya tarik yang sangat kuat bagi nyamuk.

Berikut adalah tiga cara hewan peminum darah ini melacak keberadaan Anda.

Karbondioksida: Sinyal anda siap digigit

Hanya nyamuk betina yang menggigit manusia.

Mereka tertarik pada darah kita demi mendapatkan protein yang dibutuhkan untuk perkembangan telur-telurnya.

Nyamuk menggunakan isyarat visual dan penciuman—yaitu penglihatan dan bau—untuk mengidentifikasi target mereka dari jarak sekitar 10 meter.

Salah satu pemicu utamanya adalah embusan karbondioksida (CO2) yang kita keluarkan melalui napas dan kulit.

Perempuan hamil umumnya mengeluarkan lebih banyak CO2 dan memiliki lebih banyak panas tubuh, yang merupakan dua hal yang menarik nyamuk.

Sumber gambar, FreshSplash via Getty Images

Keterangan gambar, Perempuan hamil umumnya mengeluarkan lebih banyak CO2 dan memiliki lebih banyak panas tubuh, yang merupakan dua hal yang menarik nyamuk.

Napas manusia memancarkan sinyal CO2 yang mengaktifkan "perilaku mencari inang" pada organ penciuman nyamuk.

Oleh karena itu, orang dewasa lebih menarik bagi nyamuk dibandingkan anak-anak karena memproduksi lebih banyak CO2.

Namun, hal ini juga berarti nyamuk dapat tertarik pada sumber CO2 non-manusia. Fenomena ini membuat es kering dan tabung CO2 menjadi sarana yang efektif untuk membuat jebakan nyamuk.

Suhu tubuh

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa nyamuk juga tertarik pada panas dan kelembapan (serta CO2 yang makin memperkuat daya tarik terhadap suhu hangat itu).

Ibu hamil, misalnya, memiliki daya tarik dua kali lipat bagi nyamuk dibandingkan perempuan yang tidak hamil.

Hal ini terjadi karena kehamilan meningkatkan kebutuhan metabolisme dan volume pernapasan, yang berujung pada meningkatnya pelepasan panas serta karbondioksida saat bernapas.

"Anda seolah memiliki tungku kecil di dalam tubuh; suhu tubuh Anda lebih hangat," ujar Steve Lindsay, seorang profesor entomologi kesehatan masyarakat di Durham University, UK.

Mungkin Anda tertarik:

  • Cara menumpas DBD: Nyamuk jantan dibuat tuli agar sulit berkembang biak
  • Apakah nyamuk yang menggigit orang mabuk akan ikut mabuk?
  • Foto nyamuk Sabethes, yang dianggap nyamuk paling cantik di dunia

Orang yang sedang berolahraga juga bisa menjadi lebih menarik bagi nyamuk untuk sementara waktu, terutama saat dan setelah melakukan aktivitas fisik.

Kondisi ini dipicu oleh peningkatan kebutuhan metabolisme yang menggenjot produksi CO2, serta membuat tubuh menjadi lebih hangat dan berkeringat.

Selain itu, orang berpostur tubuh lebih besar—yang biasanya menghasilkan lebih banyak panas dan mengembuskan lebih banyak CO2 juga cenderung lebih mudah memikat nyamuk.

Aroma kulit

Saat nyamuk makin mendekat (dalam jarak kurang dari 10 meter), mereka mengidentifikasi mangsanya melalui serangkaian isyarat, termasuk aroma kulit dan napas.

"Pada dasarnya, ini adalah masalah penciuman," kata Lindsay mengenai hal yang menentukan siapa yang akan digigit nyamuk.

"Senyawa kimia kecil yang sangat mudah menguap, itulah yang membedakannya. Nyamuk hidup dalam dunia kimia."

Nyamuk ditemukan di setiap benua di dunia, kecuali Antartika, dengan lebih dari 3.500 spesies berbeda di seluruh dunia.

Sumber gambar, boonchai wedmakawand via Getty Images

Keterangan gambar, Nyamuk ditemukan di setiap benua di dunia, kecuali Antartika, dengan lebih dari 3.500 spesies berbeda di seluruh dunia.

Bersama para ilmuwan lainnya, Lindsay telah mematahkan mitos bahwa orang yang memiliki "darah manis" lebih rentan digigit.

Sebaliknya, mereka menemukan bahwa nyamuk tertarik pada "aroma kulit" kita yang unik.

Mikrobioma kulit dapat memecah karbohidrat, asam lemak, dan peptida pada kulit menjadi senyawa organik mudah menguap (volatile organic compounds atau VOCs). Senyawa ini dapat menguap dengan mudah ke udara dan mampu dibedakan oleh nyamuk. Terdapat lebih dari 500 jenis VOCs pada kulit manusia.

Nyamuk sudah lebih dulu tertarik pada amonia dan asam laktat yang ada di kulit kita, dan keberadaan asam karboksilat membuat daya tarik tersebut makin kuat.

Para peneliti di Rockefeller University, Amerika Serikat, menganalisis aroma kulit dari 64 orang yang mengenakan lengan baju nilon selama enam jam.

Nyamuk-nyamuk itu kemudian diberi pilihan di antara sampel nilon—yang berfungsi sebagai "alat pengumpul aroma"—dan hasilnya menunjukkan preferensi yang jelas terhadap aroma individu dengan kadar asam karboksilat yang lebih tinggi.

Para peneliti mengkalkulasi skor daya tarik untuk setiap orang dan menemukan bahwa skor tertinggi mencapai 100 kali lipat lebih tinggi dibandingkan skor terendah.

Perbedaan ini tetap konsisten selama bertahun-tahun, terlepas dari perubahan gaya hidup.

"Tingkat daya tarik relatif Anda [bagi nyamuk] sebagian besar bersifat tetap," ujar Lindsay.

Para ahli mengatakan kita semua harus melindungi diri dari nyamuk, baik kita merasa digigit atau tidak.

Sumber gambar, Paula Bronstein via Getty Images

Keterangan gambar, Para ahli mengatakan kita semua harus melindungi diri dari nyamuk, baik kita merasa digigit atau tidak.

Mikrobioma kulit juga dapat memengaruhi seberapa memikat kita bagi nyamuk.

Para peneliti dari Wageningen University di Belanda menemukan bahwa orang-orang yang sangat menarik bagi nyamuk malaria memiliki kumpulan bakteri yang berbeda pada kulit mereka—lebih melimpah, tetapi kurang bervariasi—jika dibandingkan mereka yang kurang menarik bagi nyamuk.

Hal ini kemungkinan terjadi karena bakteri kulit memainkan peran penting dalam menghasilkan bau badan manusia, dan tanpa bakteri, keringat manusia sebenarnya tidak berbau bagi hidung manusia.

Studi pada anak kembar menunjukkan bahwa kembar identik menarik nyamuk dalam jumlah yang sama, sedangkan kembar tidak identik menunjukkan perbedaan.

Hal ini mengindikasikan bahwa aroma yang memengaruhi "kerentanan terhadap gigitan" dapat diwariskan secara genetik.

Tidak semua gigitan sama

Setiap orang dapat bereaksi dengan cara yang sangat berbeda terhadap gigitan nyamuk.

Sebuah studi asosiasi genom menemukan hubungan genetik yang kuat antara gen sistem kekebalan tubuh kita dan pengaruhnya terhadap cara tubuh merespons gigitan nyamuk.

Menariknya, wilayah genetik itu juga tumpang tindih dengan gen yang berkaitan dengan alergi.

Selain itu, kecenderungan genetik untuk mengalami reaksi gigitan yang lebih besar dan lebih gatal dapat memengaruhi persepsi bahwa Anda adalah seorang "magnet nyamuk".

"Sebagian orang berpikir mereka lebih sering digigit karena tubuh mereka bereaksi lebih kuat," kata Heather Ferguson, seorang profesor entomologi medis di University of Glasgow, Skotlandia.

"Sebagian orang mungkin sering digigit, tetapi tubuh mereka hampir tidak menunjukkan reaksi."

Meskipun sebagian dari kita secara biologis menjadi sasaran yang lebih mudah, tidak ada seorang pun yang benar-benar aman dari radar nyamuk.

Seperti yang dikatakan Ferguson: "Bahkan jika Anda yakin tidak pernah digigit, Anda tetap harus melindungi diri."