Menyelami potensi kekayaan laut perbatasan Paloh - ANTARA News Kalimantan Barat
Pontianak (ANTARA) - Pagi belum sepenuhnya terang ketika aktivitas pesisir Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, mulai bergerak. Perahu-perahu nelayan merapat setelah menempuh perjalanan di laut, membawa hasil tangkapan yang segera diturunkan sebelum kualitasnya turun.
Di tepian dermaga, nelayan memindahkan ikan, pengumpul memilah hasil tangkapan, sementara pedagang bersiap membawa komoditas menuju pasar. Aktivitas itu menjadi gambaran denyut ekonomi masyarakat Paloh yang sebagian kehidupannya bertumpu pada laut.
Namun, di balik rutinitas tersebut tersimpan kekayaan yang jauh lebih besar. Perairan Temajuk memiliki beragam komoditas bernilai ekonomi, mulai dari tenggiri, bawal, kakap, manyung, lobster, kepiting, kepah, remis laut, gurita hingga ubur-ubur.
Kepala Dinas Perikanan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sambas Hendy Wijaya menyebut posisi pesisir Sambas strategis karena berhadapan dengan Laut Natuna dan berbatasan dengan Sarawak, Malaysia.
Kabupaten Sambas memiliki garis pantai sekitar 198,76 kilometer, sedangkan produksi perikanan tangkap yang tercatat melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat rutin melampaui 11.000 ton per tahun.
Kekayaan musiman
Potensi laut Temajuk memiliki karakter musiman. Salah satu yang paling menonjol adalah ubur-ubur yang melimpah setiap Maret hingga Mei.
Hendy menyebut satu kilang atau pengumpul rata-rata mampu menghasilkan setidaknya 40 ton ubur-ubur dalam satu musim. Dengan harga minimal Rp20 ribu per kilogram, omzetnya dapat mencapai Rp800 juta. Komoditas tersebut dipasarkan ke Pulau Jawa, Malaysia, hingga Taiwan.
Di luar musim ubur-ubur, nelayan mengandalkan lobster pasir, lobster pakistan, mutiara dan batu, serta kepah, tengkuyung, kepiting, remis laut dan gurita. Tenggiri, bawal putih, bawal hitam, kakap, kakap merah, dan manyung.
Hasil tangkapan kemudian bergerak melalui rantai perdagangan yang telah terbentuk. Sebagian dibawa kepada pengepul di Liku dan Tanah Hitam untuk memenuhi pasar Paloh dan sekitarnya, sedangkan komoditas bernilai tinggi dikirim hingga Pemangkat, Singkawang, dan Pontianak.
Persoalannya, sebagian besar hasil tersebut masih dipasarkan dalam bentuk mentah.
Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sambas Amirudin mengatakan keterbatasan akses pasar dan fasilitas penyimpanan membuat nelayan harus segera menjual hasil tangkapan sehingga posisi tawar mereka menjadi terbatas.
"Kalau akses pasar semakin dekat, maka peluang nelayan mendapatkan harga yang lebih kompetitif juga semakin besar. Ketika akses pasar bertambah, posisi tawar nelayan bisa meningkat," kata dia.
Ketika pintu perbatasan terbuka
Dalam konteks itulah pembukaan kembali perlintasan Temajuk-Telok Melano pada pertengahan Agustus 2026 memberikan peluang baru. Pos Lintas Batas (PLB) Temajuk tidak hanya dipandang sebagai jalur mobilitas masyarakat, tetapi juga pintu menuju pasar yang lebih luas, termasuk Sarawak, Malaysia.
Akses tersebut dapat memperpendek jalur pemasaran sekaligus mempermudah proses perizinan dan membuka peluang masuknya investor.
Pembukaan perlintasan sangat berpotensi mendatangkan investor dalam negeri maupun luar negeri, mengingat potensi perikanan dan produk olahan ikan di Temajuk sangat menjanjikan.
Namun, peluang itu belum serta-merta menjadi perdagangan lintas batas. Hingga kini belum ada pembahasan khusus mengenai perdagangan produk perikanan antara Temajuk dan Sarawak.
Pemerintah daerah mulai menyiapkan masyarakat melalui pelatihan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan bagi PKK, ibu nelayan, pokdarwis, pokmaswas, Kelompok Usaha Bersama, kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan serta kelompok pembudidaya ikan.
Bagi HNSI, kesiapan tersebut harus berjalan bersama pembangunan ekosistem perikanan, mulai dari penyimpanan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi.
Terbatasnya rantai pendukung
Di tengah besarnya potensi hasil laut, Temajuk masih menghadapi persoalan mendasar. Nelayan belum memiliki SPBU atau SPBUN khusus sehingga pasokan BBM masih bergantung pada SPBU Tanah Hitam.
Persoalan serupa terjadi pada kebutuhan es. Belum adanya pabrik es membuat nelayan mengandalkan es rumah tangga dan mengambil pasokan dari Tanah Hitam ketika membutuhkan dalam jumlah besar.
Padahal, es menentukan kualitas hasil tangkapan sejak ikan diangkat dari laut hingga sampai ke pembeli. Keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin juga membuat nelayan sulit menahan hasil tangkapan ketika harga sedang rendah.
Di sinilah akses pasar dan infrastruktur saling berkaitan. Pasar yang semakin dekat belum tentu memperkuat posisi nelayan apabila hasil tangkapan tidak dapat disimpan dan dipasarkan pada waktu yang tepat.
Karena itu, HNSI mendorong pembangunan cold storage, pabrik es, fasilitas pengolahan, layanan karantina, sistem logistik serta akses pembiayaan bagi nelayan dan UMKM.
"Jangan hanya berpikir ikan ditangkap lalu dijual. Ke depan kita harus berpikir bagaimana ikan tersebut diolah menjadi produk bernilai tambah. Dengan begitu, nilai ekonomi yang tinggal di Sambas semakin besar," kata Amirudin.
Ikan dapat diolah menjadi produk beku, fillet, ikan kering, abon maupun berbagai olahan seafood. Ketika industri pengolahan tumbuh di daerah asal, manfaat ekonomi tidak berhenti pada nelayan, tetapi bergerak kepada tenaga kerja, UMKM, transportasi, perdagangan hingga jasa pendukung lainnya.
Dari ikan hingga garam
Ekonomi kelautan Paloh juga tidak berhenti pada perikanan. Di Desa Sebubus, masyarakat mengembangkan usaha garam rakyat dengan memanfaatkan air laut dan kondisi cuaca pesisir. Air dipompa ke kolam pengendapan, dijemur hingga membentuk kristal, lalu dikemas.
Satu bedengan disebut mampu menghasilkan sekitar satu ton garam. Dengan harga Rp2.000 per kilogram, produksinya bernilai sekitar Rp2 juta.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menyatakan, produksi tersebut jangan hanya digunakan untuk kebutuhan pengolahan ikan, tetapi dikembangkan menjadi garam konsumsi yang memenuhi standar mutu dan kesehatan.
Penguatan kualitas, kemasan, merek, sertifikasi dan pemasaran dinilai dapat memperluas pasar produk garam Sebubus.
Potensi tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi kelautan dapat berkembang jauh melampaui aktivitas menangkap ikan. Sumber daya pesisir dapat menjadi bahan baku industri pengolahan, perdagangan, kuliner, pariwisata dan berbagai usaha masyarakat.
Infrastruktur menjadi kunci
Besarnya potensi laut Paloh membuat persoalan infrastruktur dan tata kelola menjadi semakin penting.
Pada 14 September, Komisi II DPRD Kabupaten Sambas berkonsultasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat mengenai pengelolaan wilayah laut. Pembahasan mencakup kuota BBM, alat tangkap, jaminan kesehatan nelayan, kawasan konservasi serta dukungan anggaran bagi program kelautan dan perikanan.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan perikanan tidak cukup hanya dengan memastikan ikan tersedia. Biaya produksi, sarana melaut, perlindungan nelayan, fasilitas pascapanen dan keberlanjutan sumber daya harus dibangun secara bersamaan.
"Pembukaan pintu perbatasan adalah langkah awal. Selanjutnya kita harus memastikan infrastrukturnya siap, sumber daya manusianya siap, nelayannya siap dan pelaku usahanya siap," ujar Amirudin.
Kesiapan itu juga harus berjalan bersama perlindungan sumber daya laut. Semakin terbuka pasar, semakin besar pula kebutuhan menjaga agar aktivitas penangkapan tidak menggerus sumber penghidupan masyarakat.
Karena itu, pengawasan wilayah laut, penggunaan alat tangkap yang sesuai, kawasan konservasi dan peningkatan kapasitas nelayan menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi pesisir.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.