Membangun generasi emas Papua dari rumah bersalin
Membangun generasi emas Papua dari rumah bersalin
Selasa, 21 Juli 2026 12:46 WIB
Salah seorang bidan Rumas Bersalin AHBS Papua melakukan pemeriksaan kesehatan ibu dan bayi sekaligus memberikan edukasi bagi ibu nifas (ANTARA/HO-AHBS)
Jayapura (ANTARA) - Minggu sore itu, tanggal 12 Juli 2026, sebelum Sholat Magrib, tepat pukul 17.00 WIT di halaman Rumah Bersalin Angel Hiromi Bumi Sehat (AHBS) Papua di Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua terlihat Monalisa Kawer bersama puluhan ibu hamil lainnya mengikuti Yoga Prenatal (senam hamil). Monalisa merupakan seorang guru yang mengajar di Kabupaten Intan Jaya, Papua Pegunungan sejak 2022 dan kini usia kehamilannya menginjak minggu ke-36.
Selama berada di Kabupaten Intan Jaya, perempuan berusia 29 tahun itu tidak pernah melakukan pemeriksaan kandungan karena akses kesehatan yang sangat terbatas. Hal tersebut membuat dirinya merasa kuatir, hingga mendorong Monalisa untuk mendatangi Rumah Sehat AHBS untuk mendapatkan layanan kesehatan saat usia kandungannya memasuki delapan bulan.
Ia bercerita, di Rumah Bersalin AHBS tidak hanya layanan yang sangat baik tetapi juga edukasi yang diberikan oleh bidan membantu membuka wawasan bagi ibu hamil. Program yang membuat Monalisa tertarik untuk bersalin di rumah sehat ini adalah senam hamil dan pijat bayi yang menurutnya belum tentu ada baik di puskesmas maupun rumah sakit.
Saat ini Monalisa sudah empat kali mengikuti senam hamil dan ia menginginkan untuk bisa bersalin dengan normal di rumah bersalin tersebut karena program itu dinilai sangat positif bagi ibu hamil karena ada persiapan-persiapan yang baik sebelum melahirkan.
Angel Hiromi Bumi Sehat (AHBS) Papua didirikan pada 2019 oleh Rachel de Fretes. Rachel merupakan lulusan strata satu (S1) Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih pada 2012, Kemudian ia melanjutkan studi ke Universitas Satya Wacana Salatiga dengan mengambil program Magister Sains Psikologi dan kini dirinya mengambil Jurusan Kebidanan di Universitas Jayapura (Unijaya).
AHBS Papua didirikan terinspirasi dari Rumah Sehat Bali. AHBS Papua hadir di Kabupaten Jayapura tidak sekadar untuk tempat bersalin tetapi menjadi ruang aman, ruang terpercaya bagi ibu-ibu hamil yang siap bersalin dengan bahagia dan sadar bahwa mereka mempunyai hak-hak sebagai ibu untuk bisa melahirkan dengan bahagia bahkan tanpa tekanan-tekanan yang tidak penting bahkan finansial yang mereka harus pikirkan.
"Itu yang paling utama untuk ibu hamil bahwa Rumah Bersalin AHBS ini ada untuk mereka," katanya.
Filosofi dari AHBS adalah "gentle birth" sehingga setiap ibu hamil yang datang langsung disapa dengan kelembutan, menerima apresiasi, penghargaan, dan dukungan karena tindakan tersebut merupakan salah satu bentuk penerimaan yang tanpa disadari akan mempengaruhi hormon ibu hamil agar bisa lebih baik, tenang dengan demikian proses persalinan akan lebih lancar.
Pelayanan ibu hamil tidak hanya berfokus pada kesehatan saja melainkan menjadikan diri mereka berharga, penting dan juga treatment yang lain seperti wawancara untuk mengetahui kondisi ibu dan anak dalam kandungan.
Layanan Gratis
Fasilitas di AHBS Papua tergolong semi modern dan setiap ruangan memiliki privasi untuk memastikan privasi tetap terjaga. AHBS memiliki tiga ruang bersalin yang terhubung langsung layanan kebidanan, satu ruangan yang digunakan untuk layanan tambahan seperti akupuntur kemudian ada pula ruangan konsultasi untuk pemeriksaan kehamilan.
Selain itu, di sini juga ibu hamil bisa mendapatkan layanan KB, layanan kunjungan ke rumah ibu hamil dan program jemput bola atau layanan kesehatan gratis bagi ibu hamil.
AHBS Papua juga memberikan layanan pijit anak yang menjadi salah satu program yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Setiap pekan para bidan bisa memijit sebanyak 10 anak, setiap anak memerlukan waktu 30 menit hingga 50 menit.
Salah satu alasan bagi ibu hamil untuk bersalin di AHBS Papua ialah karena terdapat metode penundaan tali pusat pada bayi. Setiap bayi yang lahir, para bidan tidak langsung memotong tali pusat namun menunggu hingga delapan jam. Ini merupakan salah satu tindakan terhadap hak anak dan saat waktu pemotongan pusat akan dilakukan oleh orang tua atau keluarga yang mendampingi.
Semua layanan tersebut tidak dibebankan biaya atau gratis. Namun, jika ada keluarga pasien (Ibu hamil) yang ingin membayarkan biaya persalinan maka diberikan sesuai kemampuan keuangan.
Klinik AHBS Papua memiliki 14 bidan yang bekerja dengan sistem shift atau pembagian waktu dan layanan pemeriksaan kehamilan, KB hingga konsultasi dibuka pada pukul 09.00 WIT hingga pukul 21.00 WIT sementara untuk bersalin dibuka selama 24 jam.
AHBS Papua juga telah bekerja sama dengan Klinik Cenderawasih sehingga setiap bulan ada kuota khusus bagi pasien Orang Asli Papua (OAP) untuk mendapatkan pelayanan ultrasonografi (USG) gratis yang telah berjalan selama lima tahun. Sejak tujuh tahun berdiri bayi yang lahir di Rumah Bersalin AHBS Papua sebanyak 1.006 orang, sementara angka pemeriksaan kehamilan sekitar 6.000 lebih.
Perkuat pelayan
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura melalui Dinas Kesehatan setempat terus memperkuat layanan kesehatan ibu hamil melalui kolaborasi dengan berbagai pihak seperti TP PKK dan Unicef. Fokus utamanya mencakup program SABUMIL (Gerakan sapa ibu hamil), bantuan gizi dan perlindungan hukum, distribusi alat USG ke puskesmas serta intervensi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk menekan angka kematian ibu dan anak.
Program Sabumil sendiri merupakan upaya pemerintah daerah untuk lebih dekat dengan ibu hamil khususnya yang berisiko dan yang sudah mendekati trisemester akhir. Langkah ini diambil untuk memastikan ibu hamil tidak hanya mendapat dukungan kesehatan tetapi juga jaminan perlindungan hukum.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura Adi Kurniawan mengatakan saat ini pelayanan ibu hamil di puskesmas meliputi pemeriksaan kehamilan Antenatal Care (ANC) 6X yang merupakan standar pelayanan pemeriksaan kehamilan terbaru dari Kementerian Kesehatan yang mewajibkan ibu hamil melakukan kunjungan minimal enam kali di mana pemeriksaan dengan dua kali melakukan USG.
Dinas Kesehatan juga terus memperketat pemeriksaan kesehatan ibu hamil melalui program PMT nutrisi dan multivitamin, tablet tambah darah, bagi ibu hamil yg Kurang Energi Kronis (KEK) tetapi juga layanan persalinan normal bisa dilakukan di 22 puskesmas selama 24 jam.
Dia menjelaskan untuk pelayanan ibu hamil di rumah sakit mencakup pemeriksaan kehamilan di polo kebidanan dengan dokter spesialis kandungan kemudian persalinan normal, penyulit dan persalinan dengan operasi juga bisa dilakukan karena ada dokter kandungan. Untuk tenaga dokter kandungan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari ada dua orang namun saat ini satu orang sedang mengambil sub spesialis.
Oleh Ardiles Leloltery
Editor:
Editor Papua
COPYRIGHT © ANTARA 2026