DLH Nabire bangun rantai ekonomi dari sampah botol plastik - ANTARA News Papua Tengah

DLH Nabire bangun rantai ekonomi dari sampah botol plastik - ANTARA News Papua Tengah

Nabire (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire, Papua Tengah, membangun rantai ekonomi yang memanfaatkan sampah botol plastik dengan melibatkan masyarakat dan sekolah melalui bank sampah.

Kepala DLH Nabire Arfan Natan Palumpun di Nabire, Rabu, mengatakan masyarakat dapat mengumpulkan botol plastik melalui bank sampah untuk ditimbang dan dicatat sebagai tabungan dengan nilai Rp1.200 per kilogram.

“Kami mengajak masyarakat mengumpulkan botol plastik. Bisa dibuat tabungan per kilogram Rp1.200,” katanya.

Sampah plastik yang dikumpulkan dari bank sampah di kelurahan dan sekolah dibawa ke DLH untuk ditimbang dan dicatat berdasarkan beratnya. DLH juga menyediakan layanan penjemputan bagi bank sampah dengan setoran dalam jumlah banyak, lanjutnya menjelaskan.

Menurut dia, sampah yang terkumpul kemudian dipadatkan menggunakan mesin pengepres sebelum dikirim kepada pembeli di Surabaya.

Pembayaran kepada bank sampah dilakukan setelah sampah plastik dikirim ke Surabaya dan hasil penjualannya diterima DLH. Mekanisme tersebut, lanjutnya, membuat nilai sampah yang dikumpulkan masyarakat tercatat berdasarkan beratnya.

Ia mengatakan biaya pengiriman menjadi salah satu faktor penting dalam rantai ekonomi sampah plastik dari Nabire. Karena itu, DLH memanfaatkan layanan Tol Laut melalui kerja sama dengan PT Pelni.

“Biaya pengiriman sekitar Rp4 juta, jauh lebih murah dibandingkan kargo biasa yang bisa mencapai Rp19 juta,” ujar dia.

DLH menargetkan satu kontainer berisi sekitar 60 ton botol plastik dapat dikirim ke Surabaya pada Oktober 2026. Pembeli di Surabaya telah tersedia sehingga DLH kini mengejar volume sampah untuk memenuhi kapasitas pengiriman.

“Kalau ringan, kami rugi pengiriman. Untung kami dapat Tol Laut ini,” katanya.

Ia mengatakan pengembangan rantai ekonomi sampah plastik juga dilakukan dengan melibatkan 34 sekolah Adiwiyata tingkat SD hingga SMA di Nabire untuk mengaktifkan bank sampah unit.

DLH menyiapkan fasilitas pendukung bagi sekolah yang membentuk bank sampah, termasuk papan nama atau spanduk, sehingga sekolah tidak perlu mengeluarkan biaya untuk fasilitas tersebut.

Selain sekolah dan masyarakat, Arfan mengatakan DLH mengajak distributor minuman berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), antara lain membantu penyediaan fasilitas bank sampah dan melibatkan masyarakat dalam pengumpulan botol plastik.

Menurut dia, pengelolaan sampah plastik memiliki nilai ekonomi sekaligus membantu mengurangi beban pengelolaan sampah di Nabire yang volumenya meningkat dari sekitar 70 ton menjadi 80-100 ton per hari.

Ia mengatakan hasil penjualan sampah plastik yang dikelola DLH juga menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Artinya sampah ini harus kita kelola. Kalau tidak dikelola, sampah di Nabire akan terus menumpuk,” ujar dia.

Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.