BI Jatim: Ekonomi syariah harus berdampak nyata bagi masyarakat - ANTARA News Jawa Timur

BI Jatim: Ekonomi syariah harus berdampak nyata bagi masyarakat - ANTARA News Jawa Timur

Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) -

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menekankan ekonomi syariah harus didorong tidak hanya menjadi potensi tetapi juga berkembang sebagai ekosistem yang mampu memperkuat sektor riil, memperluas pembiayaan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan ekonomi syariah saat ini telah menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang menghubungkan nilai halal dan amanah dengan produktivitas serta aktivitas ekonomi yang inklusif.

"Ekonomi syariah hari ini bukan lagi sekadar sebuah potensi tetapi sudah menjadi ekosistem dan bahkan menjadi salah satu sumber kepentingan ekonomi yang semakin penting dan mampu menghubungkan nilai-nilai halal, amanah dengan produktivitas tinggi dengan aktivitas yang nyata," katanya dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jawa 2026 di Surabaya, Sabtu.

Menurut dia, Jawa memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekonomi syariah karena ditopang basis industri serta usaha mikro, kecil, dan, menengah (UMKM) yang besar, pasar luas, serta jaringan pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang kuat.

Ia menyebutkan ekonomi Jawa pada triwulan II 2026 tumbuh 5,65 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sehingga kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan halal value chain nasional, khususnya sektor makanan halal, modest fashion, dan halal tourism.

Khusus Jawa Timur, kata dia, potensi tersebut diperkuat dengan lebih dari 97 persen penduduk Muslim, lebih dari 7.000 pesantren, dan lebih dari 600 ribu santri.

Sejauh ini, kata Ibrahim, BI telah mendampingi 463 pondok pesantren dalam pengembangan unit usaha serta memfasilitasi sertifikasi halal bagi lebih dari 2.000 pelaku usaha dan lebih dari 270 juru sembelih halal.

Ibrahim mengatakan upaya lain yang dilakukan BI untuk mendukung dampak nyata ekonomi dan keuangan syariah adalah melalui penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jawa 2026 yang berlangsung pada 21–27 September di Surabaya.

Fesyar Jawa tahun ini diarahkan untuk beranjak dari sekadar ajang pameran menjadi platform yang menghasilkan dampak ekonomi secara langsung dan selaras dengan agenda pembangunan nasional.

"Tahun ini kita ingin melangkah lebih jauh dari showcase menuju pengembangan yang lebih impactful dengan dampak yang semakin inklusif dan selaras dengan agenda pengembangan nasional," ujarnya.

Fesyar Jawa 2026 menghadirkan tiga program baru yakni Pasar Rakyat Halal Aman Sehat (RAHAS) dan penguatan Zona Halal Assurance System (HAS) untuk memperkuat rantai halal dan daya saing UMKM, pengembangan wakaf untuk manfaat pendidikan, serta innovative financing untuk mendukung penyediaan perumahan bagi guru madrasah dan pesantren.

Selain itu, rangkaian Fesyar mencakup 47 kegiatan melalui kolaborasi 294 lembaga dan mitra strategis serta business matching yang mempertemukan 203 UMKM dan unit usaha pesantren dengan lembaga keuangan syariah serta lebih dari 30 calon pembeli sehingga diharapkan membuka akses pembiayaan, pasar, dan jejaring usaha yang lebih luas.

Ibrahim menegaskan keberhasilan Fesyar Jawa 2026 nantinya tidak semata diukur dari jumlah kegiatan, melainkan dari dampak yang dihasilkan dalam memperkuat industri halal, memperluas pembiayaan syariah, mengoptimalkan wakaf produktif, serta mendorong UMKM dan pesantren naik kelas.

"Ini sebagai bagian dari pembangunan ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan," ujarnya.

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.