Zulhas: Sentra Pangan Wanam perkuat pemerataan akses pangan Papua - ANTARA News Papua Tengah
Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menilai pengembangan sentra pangan Wanam di Merauke, Papua Selatan, dapat memperkuat kemandirian pangan sekaligus mendukung pemerataan akses pangan di Papua.
“Kalau ini bisa berjalan dengan baik maka nanti seluruh Papua berasnya cukup dari Wanam, dari Merauke,” kata Zulhas dalam peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul, pada IdeaFest 2026, di Jakarta, Jumat.
Wanam berada di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Pemerintah mengembangkan kawasan tersebut sebagai salah satu sentra produksi pangan untuk meningkatkan kemampuan Papua memenuhi kebutuhan pangan dari wilayahnya sendiri.
Menurut Zulhas, kecukupan pangan secara nasional perlu ditopang kemampuan produksi di masing-masing wilayah karena kondisi geografis Indonesia menyebabkan akses dan harga pangan dapat berbeda antardaerah.
Ia mengilustrasikan kondisi itu melalui harga telur. Menurut Zulhas, harga telur di Jakarta dapat berada pada kisaran Rp25.000-Rp28.000 per kilogram (kg), sedangkan di Maluku dan Papua dapat mencapai sekitar Rp60.000 per kg.
Zulhas mengaitkan perbedaan tersebut dengan perlunya memperkuat produksi pangan di daerah agar kecukupan pangan tidak hanya tercapai secara nasional, tetapi juga semakin merata di tingkat wilayah.
“Nah oleh karena itu tadi berbasis wilayah itu harus swasembada,” ujarnya.
Dalam forum yang sama, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan mengatakan capaian swasembada secara nasional belum berarti seluruh daerah telah mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
“Jadi kita secara nasional hari ini sudah swasembada delapan komoditas pangan. Tapi kalau kita lihat per daerah masih banyak sekali daerah yang belum swasembada pangan,” kata Dirgayuza.
Presiden Prabowo Subianto pada Agustus 2026 juga menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan, yakni beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Dirgayuza mencontohkan pengalamannya ketika kebutuhan ayam di Nusa Tenggara Timur (NTT) perlu dipasok dari Jawa Timur, karena produksi setempat belum mencukupi.
Menurut dia, kemampuan produksi daerah juga penting untuk menjaga ketahanan pasokan ketika distribusi antardaerah terganggu.
“Karena ketika terjadi bencana, (contohnya) jembatan putus, kita enggak bisa semudah itu mengirimkan logistik dari sentra-sentra produksi pangan kita ke daerah-daerah bencana,” ujarnya.
Pada Juli 2026, Zulhas seusai meninjau Wanam menyebut dari 10 ribu hektare lahan sawah di kawasan tersebut, sekitar 1.200 hektare telah ditanami padi dan diperkirakan panen pada September atau Oktober 2026.
Pengembangan kawasan itu, juga disertai pembangunan infrastruktur pendukung. Dalam peninjauan tersebut, Zulhas menyebut pembangunan pelabuhan telah berjalan, yaitu jalan sepanjang 58 kilometer telah dikerjakan, sedangkan pembangunan bandar udara telah dipersiapkan.
Percepatan pembangunan kawasan swasembada pangan, energi, dan air nasional diatur melalui Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025.
Kebijakan tersebut diperkuat melalui Instruksi Presiden Nomor 16 Tahun 2025 tentang Penguatan Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional.
Menko Pangan menambahkan apabila pengembangan Wanam menghasilkan produksi yang melebihi kebutuhan Papua, pasokan dari kawasan tersebut juga dapat mendukung Maluku dan NTT.
Menurut dia, penguatan produksi berbasis wilayah diperlukan, agar kemandirian pangan nasional turut diikuti pemerataan ketersediaan dan akses pangan bagi masyarakat di berbagai daerah.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menko Pangan nilai Wanam dapat perkuat pemerataan akses pangan Papua
Pewarta: Aria Ananda
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.