Wadah Plastik Memang Murah, Tapi 4 Kekurangan Ini Bikin Nggak Aman

Wadah Plastik Memang Murah, Tapi 4 Kekurangan Ini Bikin Nggak Aman

Jakarta -

Meski murah dan praktis, wadah makanan berbahan plastik memiliki beberapa kekurangan, mulai dari mudah meleleh, risiko BPA, hingga sulit didaur ulang. Kenali risikonya berikut ini.

Plastik populer karena proses produksinya sederhana, harganya terjangkau, dan mudah dibentuk dalam desain menarik. Namun, seiring meningkatnya kekhawatiran soal isu lingkungan dan mikroplastik, banyak orang mulai mempertanyakan penggunaan wadah plastik di dapur mereka.

Wadah plastik selama ini populer untuk menyimpan bahan makanan mentah, makanan matang, hingga aneka bumbu dapur. Sayangnya, penggunaan wadah ini punya sejumlah risiko untuk penggunanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir The Daily Meal, Sabtu (12/9/2026), berikut 4 kekurangan wadah plastik untuk menyimpan makanan:

1. Mudah Meleleh

Wadah makananWadah makanan plastik rentan meleleh jika terkena suhu tinggi. Foto: Greenpeace

Wadah plastik rentan meleleh atau berubah bentuk saat terkena suhu tinggi, misalnya di rak bawah mesin pencuci piring atau dekat kompor menyala.

Panas tinggi dapat membuat wadah melengkung sehingga fungsinya berkurang, bahkan rusak permanen.

Karena itu, perhatikan cara meyimpannya. Wadah plastik sebaiknya diletakkan di rak atas, jauh dari elemen panas.

Berbeda dari kaca atau logam yang tahan panas, plastik berisiko tinggi meleleh jika bersentuhan langsung dengan api kompor, sehingga pengguna perlu mengawasinya saat memasak.

2. Berisiko Mengandung BPA dan Mikroplastik

Wadah makananWadah plastik juga berisiko mengandung BPA dan mikroplastik berbahaya. Foto: Greenpeace

Wadah plastik lama, termasuk yang dibeli di toko barang bekas, berpotensi mengandung bisphenol A (BPA), senyawa kimia yang dapat masuk ke makanan dan berisiko bagi kesehatan.

Plastik bebas BPA kini tersedia, tapi labelnya belum menjadi standar wajib. Karena itu, konsumen perlu memeriksanya sebelum membeli atau menggunakan kembali wadah bekas makanan.

Selain BPA, wadah plastik juga berisiko melepaskan mikroplastik, partikel plastik sangat kecil yang bisa mencemari makanan meski baru disimpan sebentar.

Sejumlah penelitian mengaitkan paparan mikroplastik dengan masalah kesehatan, termasuk kanker dan penyakit jantung, meski hubungan sebab-akibatnya masih terus diteliti.

3. Memengaruhi Rasa Makanan

Wadah plastik untuk makanan panas berisiko meninggalkan rasa plastik yang tidak sedap, mirip air minum yang terasa plastik setelah
lama tersimpan di mobil panas.

Perubahan rasa ini belum tentu berbahaya, tapi tetap kurang nyaman untuk dinikmati. Masalah lain, wadah plastik cenderung menyerap aroma dan rasa makanan sebelumnya.

Misalnya, wadah bekas kari yang dipakai ulang untuk mashed potato berisiko membuat rasa kentang tercampur aroma kari. Bila ingin rasa makanan tetap orisinal, wadah kaca bisa jadi pilihan yang lebih ideal.

4. Sulit Didaur Ulang

Meski secara teori bisa didaur ulang, sebagian besar plastik pada praktiknya berakhir di tempat pembuangan akhir.

Berdasarkan data yang dikutip The Daily Meal, sekitar 85 persen plastik di Amerika Serikat berakhir di TPA setiap tahun, sementara hanya sekitar 5 persen plastik yang masuk proses daur ulang benar-benar diolah menjadi produk baru.

Tingginya biaya pengumpulan dan pengolahan plastik bekas membuat produsen lebih memilih membuat plastik baru ketimbang mendaur ulang yang lama.

Karena itu, wadah kaca atau logam yang bisa dipakai berulang kali disebut menjadi pilihan pengganti yang lebih ramah lingkungan.

(Beta Lukitasari Wijaya/adr)