Trump ancam akan ubah nama Danau Ontario jadi "Danau Amerika"
Washington (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa mengancam akan mengganti nama Danau Ontario menjadi "Danau Amerika" di tengah gagalnya perundingan dagang dengan Kanada dan memburuknya hubungan dengan Perdana Menteri Ontario Doug Ford.
"Amerika Serikat sedang mempertimbangkan dengan serius untuk mengubah nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika, mengingat kami tidak berharap melakukan banyak bisnis dengan Ontario lagi," kata Trump di Truth Social.
Sebelumnya pada Jumat, perundingan perdagangan antara AS dan Kanada gagal. Ottawa dan Washington saling menyalahkan atas kegagalan tersebut, dengan kedua pihak menuding adanya perubahan pada menit-menit terakhir serta tuntutan baru yang tidak dapat diterima.
Sehari kemudian, AS mulai mengenakan tarif sebesar 50 persen terhadap barang-barang Kanada senilai 20 miliar dolar AS (sekitar Rp353,6 triliun). Perdana Menteri Kanada Mark Carney berjanji akan menyamai tarif baru tersebut "dolar demi dolar" melalui bea pembalasan yang dijadwalkan mulai berlaku pada 8 September.
Sementara itu, Ford mengatakan Kanada seharusnya menjual minyak, kalium, uranium, dan mineral tanah jarang kepada AS dengan harga tiga kali lipat dari harga saat ini.
Ia juga memperingatkan Trump bahwa Washington akan menghadapi "kejutan yang tidak menyenangkan" karena Ottawa akan merespons dengan kekuatan penuh terhadap langkah-langkah terbaru tersebut.
Sebelumnya pada Senin, Trump kembali mengumumkan bahwa Kanada akan menghadapi tarif sebesar 50 persen terhadap mobil, truk, suku cadang otomotif, dan baja mulai 1 Januari 2027.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Trump kembali klaim Selat Hormuz sebagai wilayah AS
Baca juga: Trump kritik Kanada di tengah sengketa tarif perdagangan
Baca juga: AS rencanakan kenaikan biaya visa kerja H-1B hingga Rp1,82 miliar
Penerjemah: Katriana
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.