Tim PKM terapkan
Dharmasraya (ANTARA) - Tim dalam program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) menerapkan inovasi "Smart Circular Feeding" berbasis sistem digital terintegrasi pada Kelompok Tani Berdikari Farm, Nagari Koto Beringin, Kecamatan Tiumang, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.
"Inovasi itu bertujuan meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan usaha budidaya ikan lele di Kelompok Tani Berdikari," kata Ketua Tim PKM Lido Sabda Lesmana M Kom di Dhasmasraya, Ahad.
Ia mengatakan pemberdayaan yang dilakukan pihaknya di kelompok tani tersebut adalah bagian dari skema pemberdayaan berbasis masyarakat, program PKM pada bidang fokus pangan.
Kegiatan didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi tahun pendanaan 2026.
Menurutnya ada proyeksi utama yang diterapkan pihaknya untuk memajukan budidaya lele berkelanjutan itu sesuai dengan judul yakni “Pendampingan dan penyuluhan adopsi Smart Circular Feeding berbasis sistem digital terintegrasi untuk budidaya terpadu zero Waste pada Kelompok Tani Berdikari Farm”.
Pertama adalah produksi lele mencapai 15–16 ton per siklus, mengubah limbah menjadi sumber daya, "Smart feeding" dan "Monitoring digital", digitalisasi manajemen usaha, dari budidaya ikan menuju ekonomi sirkular, keenam membangun kemandirian kelompok.
Produksi Lele Capai 15–16 Ton per Siklus
Kelompok Tani Berdikari Farm merupakan kelompok masyarakat produktif yang mengembangkan usaha budidaya ikan lele dengan memanfaatkan pekarangan dan lahan terbatas.
Saat ini kelompok yang beranggotakan 12 orang tersebut mengelola sekitar 25 unit kolam budidaya.
Dalam satu siklus produksi sekitar tiga bulan, Berdikari Farm mampu menebar sekitar 150.000 ekor benih ikan lele dengan tingkat kelangsungan hidup sekitar 75–80 persen.
Produksi panen mencapai sekitar 15–16 ton per siklus sehingga usaha tersebut memiliki potensi ekonomi yang cukup besar untuk terus dikembangkan.
"Namun skala produksi tersebut masih menghadapi tantangan terutama tingginya biaya pakan, pakan pabrikan masih menyumbang sekitar 60–70 persen dari total biaya produksi," jelasnya.
Ia mengatakan kondisi itu mengakibatkan keuntungan usaha relatif terbatas dan menjadikan kelompok rentan terhadap perubahan harga pakan.
Mengubah Limbah Menjadi Sumber Daya
Melalui program PKM itu tim pelaksana mendorong perubahan pola pikir bahwa limbah tidak semata-mata menjadi residu, tetapi juga dapat diolah menjadi bagian dari sistem produksi bernilai ekonomi.
Konsep tersebut diwujudkan melalui penerapan zero waste feed yaitu pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku pakan alternatif melalui proses pengolahan dan formulasi yang terkontrol.
Pendekatan itu kemudian dipadukan dengan konsep "smart circular feeding" yang menjadikan pengelolaan pemberian pakan lebih efisien berdasarkan dukungan data dan teknologi digital.
Dengan pendekatan tersebut, sistem budidaya diarahkan menjadi sebuah siklus yang lebih terintegrasi yakni limbah-bahan baku pakan-budidaya ikan-hasil produksi-pencatatan dan evaluasi-perbaikan proses produksi.
Smart Feeding dan Monitoring Digital
Tidak hanya berfokus pada produksi pakan alternatif, program juga memperkenalkan sistem monitoring produksi berbasis digital.
Teknologi sensor digunakan untuk mendukung pemantauan kualitas air sementara data pertumbuhan dan produksi ikan dicatat secara lebih sistematis.
Sistem tersebut diharapkan membantu kelompok mengurangi ketergantungan terhadap perkiraan manual dalam pemberian pakan.
Data produksi dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan ikan, efisiensi pakan, serta menjadi dasar dalam menentukan tindakan budidaya berikutnya.
Program menargetkan peningkatan efisiensi penggunaan pakan melalui penerapan smart feeding berupa peningkatan efisiensi/FCR sekitar 15–20 persen, serta peningkatan produktivitas sekitar 20–25 persen sesuai target program.
Digitalisasi Manajemen Usaha
Transformasi juga dilakukan pada aspek manajemen agar kelompok tani bisa menerapkan sistem pencatatan produksi dan keuangan digital sederhana.
Data yang dicatat meliputi penggunaan pakan, biaya produksi, pertumbuhan ikan, hasil panen, serta arus kas usaha. Dengan pencatatan yang lebih terstruktur, kelompok dapat mengetahui biaya dan margin usaha setiap siklus produksi.
"Target program adalah agar 100 persen siklus produksi dapat terdokumentasi sekaligus meningkatkan literasi digital dan mengurangi kesalahan pencatatan hingga di bawah 10 persen," kata Lindo yang merupakan Dosen Universitas Dharmas Indonesia.
Dari Budidaya Ikan Menuju Ekonomi Sirkular
Program tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi ikan, tetapi juga membangun model usaha budidaya yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan.
Pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku pakan diharapkan dapat mengurangi beban biaya produksi.
Pada saat yang sama digitalisasi pencatatan memungkinkan kelompok mengetahui kondisi usaha secara lebih akurat, sehingga keputusan produksi dan pengelolaan keuangan dapat dilakukan berdasarkan data.
Pendekatan tersebut juga membuka peluang revenue generating melalui pengembangan nilai tambah dan diferensiasi usaha yang mengangkat konsep budidaya ikan berbasis zero waste dan ekonomi sirkular.
Membangun Kemandirian Kelompok
Program PKM dirancang tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dilanjutkan melalui pendampingan praktik langsung, penyuluhan, simulasi, monitoring, dan evaluasi.
Pendekatan tersebut diharapkan meningkatkan keberdayaan anggota kelompok sekaligus menciptakan model pembelajaran yang dapat direplikasi oleh kelompok masyarakat lainnya.
Program PKM yang akan berlangsung sekitar delapan bulan itu diketuai oleh Lido Sabda Lesmana beranggotakan Firmansyah Putra dari Universitas Dharmas Indonesia, dan Eko Joko Guntoro dari Universitas Muaro Bungo (Jambi).