Selat Hormuz Kembali Memanas, Airlangga: Pemerintah Monitor Pergerakan Harga Minyak Dunia

Selat Hormuz Kembali Memanas, Airlangga: Pemerintah Monitor Pergerakan Harga Minyak Dunia

Bagikan: JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah terus me...

Bagikan:

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah terus mencermati perkembangan harga minyak mentah dunia menyusul kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, termasuk dampak dari penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi global.

Menurut Airlangga, pergerakan harga minyak saat ini masih sangat fluktuatif, setelah sempat melemah seiring meredanya konflik, harga minyak kembali mengalami kenaikan akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

"Ya kan kita monitor saja, kan setiap minggu up and down (naik dan turun)," ungkapnya kepada awak media, Senin, 13 Juli.

Ia menjelaskan, arah pergerakan harga minyak sangat dipengaruhi oleh kondisi di Selat Hormuz, yang kembali ditutup Iran sebagai respons atas serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel. "Harga minyak tergantung Selat (Hormuz)," jelasnya.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran.

Situasi tersebut diperburuk oleh memanasnya perselisihan kedua negara terkait status Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia.

BACA JUGA:


Berdasarkan data Investing, akibat perkembangan tersebut, harga minyak mentah Brent mencapai level 78,52 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati 73,62 per barel dolar AS.

Adapun pada Minggu, 12 Juli, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga batas waktu yang belum ditentukan dan keputusan itu diambil setelah Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk di Yordania dan Qatar.

Penutupan tersebut menyebabkan arus pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur pengiriman sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia, sehingga memperpanjang gangguan distribusi energi global yang telah terjadi sejak meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+