Permintaan batu bara secara global diperkirakan bakal turun tipis dalam lima tahun - ANTARA News Jawa Barat
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan permintaan batu bara global dalam lima tahun ke depan cenderung menurun tipis seiring semakin kuatnya penggunaan energi terbarukan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan meski permintaan global diproyeksikan melemah, India dan kawasan Asia Tenggara masih memberikan ruang bagi pertumbuhan permintaan batu bara, termasuk pada 2027.
“Pasar global dalam lima tahun ke depan diperkirakan cenderung mengalami penurunan tipis, di mana tekanan energi terbarukan menjadi semakin kuat, sementara India dan kawasan Asia masih memberikan ruang untuk pertumbuhan,” kata Tri, di Jakarta, Kamis.
China dan India juga diperkirakan masih akan menjadi pasar utama ekspor batu bara Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor batu bara Indonesia pada 2025 mencapai 390,93 juta ton, turun dibandingkan volume ekspor pada 2024 yang sebesar 405,76 juta ton.
Nilai ekspor batu bara pada 2025 turun 19,70 persen secara tahunan menjadi 24,48 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya 30,49 miliar dolar AS.
Dari total volume ekspor tersebut, pengiriman batu bara ke India mencapai 100,24 juta ton, China 81,79 juta ton, Filipina 37,70 juta ton, Korea Selatan 28,29 juta ton, dan Jepang 27,17 juta ton.
Dari sisi nilai, ekspor batu bara ke India mencapai 4,97 miliar dolar AS, China 4,58 miliar dolar AS, Jepang 2,86 miliar dolar AS, Filipina 2,20 miliar dolar AS, dan Korea Selatan 1,84 miliar dolar AS.
Adapun total produksi batu bara nasional pada 2025 mencapai 817,48 juta ton. Sebanyak 63,89 persen produksi dialokasikan untuk ekspor, 30,2 persen untuk kebutuhan domestik, dan 5,9 persen menjadi stok.
Dengan prospek permintaan global tersebut, Tri mengatakan pemerintah tidak lagi semata-mata mengejar volume produksi, tetapi menyeimbangkan produksi dan kebutuhan pasar.
Pendekatan tersebut mempertimbangkan kewajiban pemenuhan pasar domestik (domestic market obligation/DMO), kondisi harga, logistik, serta keberlanjutan cadangan.
Pemerintah juga menetapkan target produksi batu bara nasional melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sekitar 600 juta ton, lebih rendah dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 817,48 juta ton.
Tri menambahkan perubahan kondisi pasar global ke depan juga akan mendorong produsen batu bara untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya produksi, sekaligus memperkuat penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Selain itu, hilirisasi juga diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah batu bara dan memperpanjang rantai nilai komoditas tersebut di dalam negeri.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Permintaan batu bara global diproyeksikan turun tipis dalam lima tahun
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.