Pakar Untad: Pengetahuan matematika anak harus dimulai dari pendidikan dasar
Pakar Untad: Pengetahuan matematika anak harus dimulai dari pendidikan dasar
Jumat, 11 September 2026 13:02 WIB
PT Penerbit Erlangga meluncurkan seri buku panduan belajar Matematika dan Bahasa Inggris. (Antara/HO/Penerbit Erlangga)
Palu (ANTARA) - Pakar Matematika Universitas Tadulako (Untad) Palu, Sulawesi Tengah Prof Pathuddin mengatakan pengetahuan tentang numerasi atau matematika anak, harus dimulai dari tingkat pendidikan dasar yang menjadi pondasi utama untuk mengembangkan kompetensi individual.
"Dasarnya dari SD, kalau anak sudah memahami matematika di tingkat pendidikan, maka pengetahuan itu akan menjadi bekal dalam meningkatkan kompetensi pada jenjang pendidikan berikutnya," kata Pathuddin di Palu, Jumat, menanggapi menurunnya performa kemampuan matematika anak Indonesia.
Ia mengemukakan numerasi dan literasi salah satu aspek penunjang mutu pendidikan di tanah air, maka dari tingkat pendidikan dasar pengetahuan tentang bilangan maupun penjumlahan harus dikuasai peserta didik.
Sebagaimana arah kebijakan pemerintah melakukan pemerataan pendidikan guna memperoleh mutu yang baik harus dilihat secara kompleks, mulai dari infrastruktur, ketersediaan sumber daya tenaga pendidik, fasilitas penunjang, maupun kemampuan anggaran yang digelontorkan.
"Langkah yang perlu dilakukan pemerintah saat ini pemerataan guru hingga ke daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) dengan literatur memadai. Terlebih tenaga pendidik bidang studi matematika harus berkompetensi pada semua jenjang pendidikan," ujarnya.
Menurut dia, matematika salah satu ilmu pengetahuan yang memberikan pengaruh terhadap sektor pendidikan, maka harus dipahami pengaplikasian rumus atau logika matematika untuk memecahkan masalah.
"Kalau siswa di tingkat dasar tidak menguasai penjumlahan maka akan sulit menalar pada jenjang berikutnya, sehingga metode pembelajaran juga perlu disederhanakan supaya para siswa mampu menangkap materi yang diajarkan," ucap Pathuddin yang juga guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untad.
Menurut dia, secara lahiriah manusia memiliki akal dan pikiran, maka akal tersebut harus sering diasah lewat kegiatan pendidikan formal dengan materi pelajaran yang adaptif dan berkelanjutan.
"Saya berharap generasi muda bangsa semakin gemar belajar meningkatkan kapasitas diri. Selain di ruang kelas formal, ruang-ruang lain juga bisa dimanfaatkan untuk belajar. Semakin banyak literatur maka semakin luas wawasan," katanya.
Sebelumnya Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Toni Toharudin mengumumkan adanya tren kenaikan pada skor literasi membaca dan sains Indonesia pada Programme for International Student Assessment (PISA) 2025.
Tren kenaikan itu ada pada dua domain utama yakni domain literasi sains yang naik 6 poin dari 383 pada PISA 2022 menjadi 389 serta domain literasi membaca yang juga naik 6 poin, dari 359 menjadi 365 poin.
"Ini menjadi bukti perluasan akses pendidikan yang signifikan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk sejak Indonesia beralih penuh dari moda paper based test (PBT) ke computer based test (CBT) mulai PISA 2018,” kata Toni
Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor:
Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026