Pemprov Jateng ajak RS swasta mengembangkan potensi "medical tourism"

Pemprov Jateng ajak RS swasta mengembangkan potensi "medical tourism"

Pemprov Jateng ajak RS swasta mengembangkan potensi "medical tourism"

Selasa, 15 September 2026 22:13 WIB

Image Print

Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, Direktur Queen Latifa Hospital Semarang dr Alviena Bestari Savitri, dan Dirut PT Queen Latifa Husada Jaya Syaifudin memotong pita peresmian Queen Latifa Hospital Semarang, Selasa (15/9/2026). ANTARA/Zuhdiar Laeis

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggandeng rumah sakit (RS) swasta untuk mengembangkan potensi "medical tourism" seiring dengan semakin meningkat kualitas pengobatan dan teknologi kedokteran di wilayah tersebut.

"'Medical tourism' itu kita bersama-sama berkolaborasi antar-RS pemerintah atau negeri dengan RS swasta, khususnya dalam pelayanan kesehatan," kata Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen di Semarang, Selasa.

Ia mengatakan hal itu saat meresmikan Queen Latifa Hospital Semarang, RS swasta baru transformasi dari RSIA Kusuma Pradja Semarang.

Menurut dia, pelayanan kesehatan atau pengobatan di RS-RS di Jateng sebenarnya tidak kalah dengan RS di provinsi lain, bahkan di RS luar negeri.

"Penyakit-penyakit kronis yang dulu 'dianggap berat' untuk disembuhkan, seperti kanker dan penyakit-penyakit kronis yang lain, sekarang sudah bagus pelayanannya," katanya.

Tantangannya, kata dia, justru meyakinkan masyarakat bahwa pelayanan kesehatan dan teknologi pengobatan dimiliki RS di Jateng tidak kalah dengan RS luar negeri.

"Banyak RS di Jateng yang terus melanjutkan penelitian dan inovasinya. Nah ini yang perlu kita kampanyekan supaya masyarakat melek, enggak perlu lagi ke RS luar negeri cukup di Jawa Tengah," kata Gus Yasin --sapaan Wagub Taj Yasin Maimoen.

Direktur Queen Latifa Hospital Semarang dr Alviena Bestari Savitri menyatakan kesiapan RS tersebut untuk membantu pengembangan Jateng sebagai tujuan "medical tourism".

Pihaknya memiliki sejumlah layanan kesehatan yang belum banyak dimiliki RS lain, termasuk di luar negeri, di antaranya intragastric balloon, yakni prosedur medis minimal invasif atau non-bedah untuk menurunkan berat badan dengan cara memasukkan balon silikon khusus ke dalam lambung.

"Namanya intragastric balloon. Jadi, itu bisa bikin kurus, nurunin berat badan tanpa harus operasi. Kayak bariatrik, tapi enggak pakai operasi," katanya.

Selain itu, pemeriksaan genomic air liur untuk mengetahui kondisi alergi, misalnya kafein, alkohol, serta bakat penyakit yang diderita dengan kondisi tersebut tanpa perlu diambil sampel darah.

Direktur Utama PT Queen Latifa Husada Jaya Syaifudin menambahkan berdasarkan data pada 2025 hampir satu juta orang Indonesia pergi ke luar negeri untuk berobat.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.