Pemprov Gorontalo perkuat penemuan kasus TBC melaui tracing-CKG - ANTARA News Gorontalo

Pemprov Gorontalo perkuat penemuan kasus TBC melaui tracing-CKG - ANTARA News Gorontalo

Gorontalo (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo, memperkuat upaya penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) secara aktif, melalui kegiatan tracing kontak TBC yang diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Seperti yang dilakukan di Desa Molombulahe, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo.

"Alhamdulillah upaya kita melalui pendekatan tersebut, mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Benjamin Paulus Octavianus melalui pesan WhatsApp yang dikirimkan kepada saya," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa di Kota Gorontalo, Kamis.

Apresiasi diberikan atas pelaksanaan kegiatan yang mengintegrasikan penemuan kasus TBC dengan pelayanan CKG, melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan swasta.

Anang mengatakan apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi jajaran kesehatan untuk terus mengembangkan strategi penemuan kasus TBC yang lebih aktif, terintegrasi dan dekat dengan masyarakat.

“Bagi kami, apresiasi Wamenkes menjadi motivasi untuk memperkuat penemuan kasus TBC secara aktif dan memastikan masyarakat yang berisiko mendapatkan pemeriksaan serta pelayanan sedini mungkin,” kata Anang.

Tracing kontak merupakan salah satu strategi penting dalam penemuan kasus TBC secara aktif.

Petugas menelusuri orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, terutama anggota keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitar, kemudian diarahkan untuk menjalani pemeriksaan dan memperoleh tindak lanjut sesuai hasil pemeriksaan.

Integrasi kontak dengan CKG memperluas jangkauan pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat.

Selain pemeriksaan berkaitan dengan TBC, masyarakat memperoleh kesempatan melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.

Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat pesan tentang pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai TBC, mulai dari tanda dan gejala, cara penularan, faktor risiko, pentingnya pemeriksaan kontak erat sampai langkah pencegahan penularan.

Masyarakat diberikan pemahaman TBC dapat disembuhkan apabila ditemukan lebih awal, mendapatkan pengobatan yang tepat dan menyelesaikan pengobatan sesuai ketentuan.

Menurut Anang keberhasilan penanggulangan TBC membutuhkan keterlibatan berbagai unsur di luar fasilitas kesehatan.

“Penemuan kasus TBC tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab puskesmas atau Dinas Kesehatan. Pemerintah kecamatan dan desa, kader, tokoh masyarakat, keluarga, fasilitas kesehatan swasta dan masyarakat harus menjadi bagian dari jejaring penanggulangan TBC,” katanya.

Dukungan pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan tokoh masyarakat juga dinilai penting untuk meningkatkan partisipasi warga sekaligus membantu mengurangi stigma terhadap pasien TBC.

Keterlibatan itu, dapat memperkuat penyebarluasan informasi dan mendorong masyarakat yang memiliki risiko untuk tidak ragu menjalani pemeriksaan.

Selain tracing kontak dan CKG, kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan klinik dan tempat praktik mandiri dokter (TPMD).

Kerja sama ini menjadi langkah memperkuat keterlibatan fasilitas pelayanan kesehatan swasta dalam program penanggulangan TBC.

Penguatan jejaring merupakan bagian dari pendekatan Public-Private Mix (PPM), yang menghubungkan fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta dalam penemuan, diagnosis, pengobatan, pencatatan, pelaporan dan pemantauan pasien TBC.

Anang mengatakan penandatanganan MoU harus diikuti dengan koordinasi dan mekanisme pelayanan yang berjalan secara konsisten.

“Kerja sama dengan fasilitas kesehatan swasta harus menghasilkan jejaring yang aktif. Ketika ada terduga atau pasien TBC, harus jelas mekanisme pemeriksaan, rujukan, pencatatan, pelaporan, pengobatan dan pemantauannya agar tidak ada pasien yang terlewat,” katanya.

Setelah tracing, masyarakat yang memiliki risiko atau memerlukan pemeriksaan lanjutan perlu dipastikan memperoleh pelayanan di fasilitas kesehatan.

Jika ditemukan kasus TBC, pasien harus segera mendapatkan pengobatan dan pendampingan sampai menyelesaikan terapi.

Masyarakat yang tidak terdiagnosis TBC tetap perlu mendapatkan edukasi mengenai pencegahan penularan, termasuk etika batuk, perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga ventilasi rumah serta segera melakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC.

Kegiatan di Desa Molombulahe menjadi gambaran penguatan penanggulangan TBC melalui pendekatan berbasis masyarakat dan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan.

Integrasi tracing kontak dengan CKG, dukungan pemerintah dan tokoh masyarakat, serta keterlibatan fasilitas kesehatan swasta menjadi langkah yang saling melengkapi dalam memperluas jangkauan penemuan kasus.

Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.