Pemkab Nganjuk batasi bawang merah masuk dari luar daerah - ANTARA News Jawa Timur
Nganjuk (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, membatasi masuknya bawang merah dari luar daerah sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan melindungi hasil produksi petani lokal.
Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengatakan pembatasan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi masuknya pasokan dari luar daerah yang berpotensi menekan harga bawang merah hasil panen petani Nganjuk.
"Memang tidak ada aturan tertulis, tetapi kita harus mengantisipasi jangan sampai merusak harga," kata Bupati Marhaen saat panen raya bawang merah di Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, Senin.
Menurut dia, masuknya bawang merah dari luar daerah juga perlu diawasi untuk menjaga citra produk bawang merah Nganjuk yang dinilai memiliki kualitas baik.
Ia mengatakan pemerintah daerah juga berupaya menjaga harga dengan mengatur waktu panen agar petani tidak memanen secara bersamaan sehingga pasokan tidak berlebihan di pasaran.
Selain itu, Pemkab Nganjuk melakukan pendampingan kepada petani melalui kerja sama dengan TNI Angkatan Laut serta memantau perkembangan harga bawang merah di tingkat petani.
Marhaen menyebut luas lahan bawang merah di Nganjuk sekitar 22 ribu hektare. Saat ini, sudah mulai panen raya bawang merah di daerahnya. Panen tersebut baru mencapai sekitar 40-50 persen dan diperkirakan berlangsung hingga akhir September 2026.
Ia menyebut, hasil panen bawang merah di Nganjuk saat ini mencapai sekitar 25 ton per hektare. Produksi tersebut juga cukup bagus di tengah gempuran serangan hama seperti ulat.
Marhaen juga mengatakan saat ini harga bawang merah relatif masih murah sekitar Rp18 ribu per kilogram.
Ia berharap harga komoditas bawang merah juga bisa naik terus di atas Rp20 ribu per kilogram. Dengan itu, bisa memberikan keuntungan yang layak bagi petani.
Sementara itu, salah seorang petani bawang merah asal Nganjuk, Suheri mengatakan saat ini para petani memang mulai melakukan panen raya untuk komoditas bawang merah.
Ia menyebut, secara kualitas kondisi bonggol bawang merah hasil panen secara umum dinilai cukup bagus. Namun, terdapat perbedaan ukuran bonggol antara wilayah Nganjuk bagian timur dan barat yang dipengaruhi pola tanam.
Dirinya menyebut petani di wilayah Nganjuk bagian timur cenderung menerapkan jarak tanam lebih renggang sehingga ukuran bonggol bawang merah relatif lebih besar dibandingkan wilayah barat yang menerapkan jarak tanam lebih rapat.
Terkait dengan kendala, ia mengatakan biaya pupuk dan bibit menjadi salah satu komponen yang cukup tinggi dalam biaya produksi komoditas bawang merah.
Ia mengatakan kebutuhan pupuk untuk lahan seluas 125 ru cukup tinggi karena tidak hanya menggunakan pupuk bersubsidi jenis NPK Phonska.
"Kalau untuk pupuk bawang merah luasan 125 ru, minimal tiga kuintal dari semua jenis pupuk, Urea, ZA, Phonska," katanya.
Menurut dia, pupuk bersubsidi yang diperoleh petani saat ini salah satunya berupa Phonska dengan kebutuhan sekitar tiga kuintal untuk lahan 125 ru dan dapat meningkat hingga empat kuintal, bergantung pada kebutuhan tanaman.
Selain pupuk, harga bibit juga menjadi beban biaya produksi. Untuk bibit bawang merah jenis tertentu yang didatangkan dari Thailand dan siap tanam, kebutuhannya mencapai sekitar 225 kilogram per 125 ru.
"Saya beli itu sudah Rp63 ribu, Rp64 ribu (per kilogram). Mulai bulan enam, tujuh itu Rp60 ribu ke atas," ujarnya.
Ia mengatakan tingkat keuntungan petani sangat bergantung pada hasil panen. Apabila produksi berada di bawah dua ton, keuntungan yang diperoleh petani dinilai relatif tipis, sedangkan hasil panen di atas dua ton masih memberikan keuntungan.
Ia berharap, pemerintah bisa membantu petani dengan memberikan pupuk subsidi yang juga lebih, sehingga bisa menekan operasional.
Pewarta: Asmaul Chusna
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.