Pemkab Bangka Barat fasilitasi tradisi Sekedah Kapong Kundi - ANTARA News Bangka Belitung
Bangka Barat, Babel (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memfasilitasi warga melaksanakan tradisi Sedekah Kapong Kundi agar warisan leluhur tersebut bisa dilestarikan.
"Fasilitasi pelaksanaan tradisi ini merupakan upaya kita melestarikan kebudayaan yang masih ada di masyarakat, kita berupaya agar kebiasaan itu tetap hidup dan nilai-nilai luhur yang ada bisa diwariskan ke generasi berikutnya," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten bangka Barat Muhammad Ferhad Irvan di Mentok, Senin.
Sedekah Kapong Kundi merupakan tradisi yang digelar bersama-sama warga Desa Kundi, Air Menduyung dan Bukit Terak, Kecamatan Simpangteritip. Tradisi ini diselenggarakan setiap tahun secara turun-temurun sebagai wujud rasa syukur atas panen yang melimpah.
Selain prosesi memanjatkan doa, pertunjukan seni tradisional dan seni modern, rangkaian kegiatan yang digelar selama tiga hari sejak Sabtu (5/9) tersebut juga menjadi sarana menguatkan silaturahim keluarga, saudara, kerabat dan andai taulan karena selama rangkaian kegiatan itu setiap rumah warga terbuka untuk dikunjungi siapa saja layaknya Lebaran Idul Fitri.
Sedekah Kapong banyak ditemukan di sejumlah desa di Bangka Barat, karena tradisi ini merupakan kebiasaan yang berkembang di tengah masyarakat agraris, ritual ini merupakan penutup dari rangkaian ritual siklus "beume" padi (sebutan lokal bercocok tanam) yang biasanya dimulai dari "nebas" (membuka lahan), "nuno" (membakar lahan), "nugal" (menanam), lalu masuk ke fase "ceriak ngelam" (masa menunggu panen yang penuh pantangan).
Pada fase menunggu panen ini, masyarakat dituntut menjaga harmoni alam, seperti berpantang menebang pohon sembarangan, tidak berburu, tidak bertengkar, bahkan aktivitas harian pun dibatasi. Alam diberi ruang untuk memulihkan diri, manusia harus mampu menahan diri.
"Pada masa ini Tetua Adat bersama komunitas meminta perlindungan agar padi dapat tumbuh dengan baik sehingga panen melimpah, setelah panen raya, warga mewujudkan rasa syukur dengan menggelar sedekah kapong," katanya.
Menurut dia, tradisi semacam ini ternyata bukan hanya milik warga Melayu Jerieng Bangka, namun juga berkembang di masyarakat agraris daerah lain, seperti Jawa, Kalimantan dan lainnya.
"Suka cita warga seperti layaknya Lebaran Idul Fitri ini merupakan cara masyarakat merawat tradisi bahwa hidup sudah seharusnya berbagi bersama dan berjalan selaras dengan alam, nilai-nilai ini patut kita lestarikan dan wariskan ke generasi berikutnya, kita berupaya agar alam tetap lestari dan memberikan hidup layak bagi masyarakat yang menempati," katanya.
Bupati Bangka Barat Markus mengatakan Sedekah Kapong merupakan salah satu adat istiadat objek pemajuan kebudayaan dari Kecamatan Simpangteritip yang masuk dalam pokok pikiran kebudayaan daerah Kabupaten Bangka Barat tahun 2025-2029.
"Ini salah satu upaya kita dalam perlindungan budaya lokal agar dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai objek wisata budaya," katanya.
Pemkab Bangka Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten setempat memberikan bantuan dana sebesar Rp40 juta untuk pelaksanaan rangkaian Tradisi Sedekah Kapong Kundi.
"Ini salah satu bentuk perhatian dan dukungan pemerintah untuk penyelenggaraan tradisi ini, kami berharap bantuan itu dapat mendukung pengembangan pariwisata berbasis kebudayaan yang berkelanjutan di Bangka Barat," katanya.
Menurut dia, pengembangan Sedekah Kapong Kundi mendapat dukungan pemerintah desa dan masyarakat, sehingga tradisi tersebut tetap lestari sekaligus dapat dikenal lebih luas sebagai bagian dari kekayaan budaya Bangka Barat.
Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta
Uploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.