Menpora ajak mahasiswa pahami isu penting di tengah tantangan global
Kami harus berjibaku bersama-sama menentukan posisi ke depan. Bangsa yang besar itu harus mengenal sejarah dan mempelajari sejarahnya, tahu ke depan seperti apa posisi bangsanya
Muaro Jambi, Jambi (ANTARA) - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengajak mahasiswa memahami isu penting di tengah tantangan global, terutama dalam menyikapi digitalisasi, tenaga kerja, hingga kesehatan mental.
"Kami harus berjibaku bersama-sama menentukan posisi ke depan. Bangsa yang besar itu harus mengenal sejarah dan mempelajari sejarahnya, tahu ke depan seperti apa posisi bangsanya," kata Erick Thohir saat membuka Musyawarah Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Kerakyatan Seluruh Indonesia (BEM SI Kerakyatan) ke XIX di Universitas Jambi (Unja), Senin.
Menpora menyoroti isu krusial yang tengah melanda anak muda saat ini. Pertama, terkait perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Untuk itu ia mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, agar siap beradaptasi supaya tidak tergerus oleh perubahan teknologi.
Baca juga: Kunjungi markas PBB, Menpora bahas tantangan besar generasi muda
Kedua, Erick Tohir mengajak generasi muda lebih peduli terhadap lingkungan, melalui pengelolaan sampah (waste to energy) demi mewujudkan masa depan kota yang sehat.
Kemudian masalah kesehatan mental (mental health), Menpora menyoroti tingginya angka gangguan kesehatan mental pada anak muda di perkotaan besar dan menegaskan perlunya perhatian serius terhadap isu ini.
Erick Thohir menegaskan pemerintah tidak ingin program kepemudaan hanya berhenti pada wacana. Pihaknya berkomitmen menyiapkan wadah kolaborasi, seperti melalui dialog.
Kemudian penguatan sinergi bagi pemuda dari seluruh Indonesia melalui Indonesia Youth Summit untuk meningkatkan kepemimpinan, menyatukan gagasan, serta berinovasi membangun bangsa.
Baca juga: Menpora siapkan "blueprint" kepemudaan dalam 100 tahun ke depan
Selain itu sejumlah program yang terus didorong oleh pemerintah untuk meningkatkan kapasitas pemuda dan mahasiswa, contohnya pemberian beasiswa bagi atlet yang berasal dari mahasiswa. Lomba debat dan pidato tingkat nasional, pertukaran pelajar internasional dengan melibatkan kerja sama dengan berbagai negara.
"Semua harus memiliki komitmen yang sama, 100 tahun ke depan kita mau apa, ini harus menjadi sebuah kenyataan. Indonesia yang kita kenal, Indonesia yang kita banggakan masih ada 100 tahun lagi," ucap Menpora Erick Tohir.
Koordinator pusat (Korpus) BEM SI Kerakyatan Muhammad Ikram menyampaikan pertemuan mahasiswa kali ini bertujuan menghidupkan kembali keyakinan bahwa gerakan mahasiswa tidak pernah kehilangan alasan untuk berdiri bersama rakyat.
"Hari ini kita sedang menghidupkan kembali keyakinan bahwa gerakan mahasiswa tidak pernah diam untuk berdiri bersama rakyat. Bangsa ini membutuhkan anak-anak bangsa yang berani menjaga, menyampaikan kebenaran dimanapun kita berada," ungkapnya.
Baca juga: Sembilan negara kerja sama dalam Indonesia Youth Summit
Pewarta: Agus Suprayitno
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.