Masta IMM Pondok Shabran UMS teguhkan nilai IMM sebagai landasan pergerakan
Masta IMM Pondok Shabran UMS teguhkan nilai IMM sebagai landasan pergerakan
Senin, 7 September 2026 15:00 WIB
Yayuli, S.Ag., M.P.I., Direktur Pondok Shabran UMS. ANTARA/HO-UMS
Solo (ANTARA) - Masa Ta’aruf (Masta) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mulai digelar bertempat di Ruang Meeting Besar Gedung Griya Mahasiswa UMS Solo, Jawa Tengah, Jum’at-Sabtu (4-5/9).
Mengusung tema “Revitalisasi Nilai Kader dalam Dialektik Pergerakan”, Masta IMM Komisariat Pondok Shabran UMS dilaksanakan selama dua hari. Kegiatan ini didesain sebagai wadah penanaman ideologi Muhammadiyah dan pengenalan IMM sebagai ortom yang lekat dengan history Pondok Shabran.
Ketua Umum Komisariat Pondok Shabran Nashiruddin Amin mengungkapkan alasan diselenggarakannya Masta IMM Komisariat Pondok Shabran lebih awal. Jalur koordinasi dan tradisi kental IMM Komisariat Pondok Shabran UMS menjadi alasan utama pelaksanaan selama dua hari.
“Dari jalur koordinasi, Komisariat Pondok Shabran berkoordinasi langsung dengan pihak pondok, tidak melalui kampus, sehingga tidak terlalu berdampak dengan ketetapan kampus,” ungkapnya, Senin.
Menurutnya, Masta IMM sebagai momentum strategis untuk menanamkan pemahaman ideologi kemuhammadiyahan dan ke-IMMan secara fundamental. Sejalan dengan tugas Pondok Shabran UMS sebagai wahana kaderisasi Muhammadiyah.
“Ketika mereka telah diterima di Pondok Shabran secara tidak langsung mereka akan menjadi kader atau anggota IMM, tanpa perlu penjaringan lagi. Sehingga kami ingin memaksimalkan pemahaman kader dengan silabus materi yang ada,” tambahnya.
Nashir menjelaskan keinginan Pimpinan Komisariat IMM Pondok Shabran untuk mengukuhkan kembali nilai-nilai IMM sebagai fondasi kader IMM Pondok Shabran dalam ranah gerakan mahasiswa.
Masta IMM yang mengedepankan forum dialektika, diharapkan para peserta dapat mengejawantahkan nilai-nilai ke-IMMan selama masa studi kedepannya, tidak sekedar menjadi wacana diskursus.
“Mereka boleh pergi kemana saja, asalkan nilai-nilai yang dibawa adalah nilai yang selaras dengan keislaman, kemuhammadiyahan, dan ke-IMMan,” tegasnya.
Direktur Pondok Shabran UMS Yayuli, S.Ag., M.P.I., dalam pemaparannya menerangkan bahwa penting untuk memahami Trilogi IMM sebagai landasan beramal dalam kehidupan. Keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan menjadi 3 ranah gerak mahasiswa yang harus berjalan secara kompatibel.
“Mahasantri Shabran dibentuk sebagai kader yang dapat menghidupkan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan di daerah tertinggal, terdepan, terluar,” jelasnya.
Menurutnya, berdirinya Pondok Shabran dilatarbelakangi atas semakin berkurangnya kader Muhammadiyah yang memperkuat spirit modernisasi dan purifikasi. Maka, perlunya tempat strategis untuk mencetak kader militan Muhammadiyah, yang kemudian didukung dengan pemberian tanah wakaf dari keluarga Hajjah Nuriah Shabran.
“Munculnya kesadaran kelangkaan ulama yang mumpuni untuk memperkokoh ruh tajdid Muhammadiyah, sehingga Djazman Al Kindi menggagas konsep pendidikan berbasis kaderisasi,” pungkasnya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.