Lebih Tua dari Indonesia! Toko Oen Semarang Masih Jual Es Krim Jadul

Lebih Tua dari Indonesia! Toko Oen Semarang Masih Jual Es Krim Jadul

Jakarta -

Merayakan HUT RI ke-81 bisa dilakukan dengan cara berbeda, salah satunya menelusuri kuliner tempo dulu yang masih bertahan hingga kini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Semarang, ada Toko Oen yang dapat menjadi destinasi untuk menikmati makanan sekaligus merasakan suasana masa lampau.

Berlokasi di Jalan Pemuda Nomor 52, Toko Oen dikenal sebagai kedai es krim tertua di Semarang yang berdiri sejak 1936. Usianya sudah 90 tahun, lebih tua dari usia Indonesia.

Toko Oen SemarangToko Oen Semarang Foto: detikFood

Tempat makan sekaligus kedai es krim ini mempertahankan bangunan bergaya kolonial, interior klasik, hingga sejumlah sajian yang menjadi bagian dari sejarah panjangnya.

Pengunjung dapat menikmati perpaduan kuliner Tionghoa, Belanda, lokal, dan Barat dalam suasana yang masih kental dengan nuansa tempo dulu.

Toko Oen SemarangToko Oen Semarang Foto: detikFood

Selain makanannya, bangunan Toko Oen menjadi salah satu daya tarik ketika berkunjung. Bangunan bergaya Belanda dengan dinding putih, langit-langit tinggi, jendela besar, serta pintu kayu tebal masih dipertahankan.

Di dalam restoran, meja kayu dan kursi rotan berpadu dengan foto, lukisan, lemari kayu, serta berbagai barang antik. Suasana tersebut membuat pengalaman bersantap terasa berbeda dari restoran modern.

Toko Oen SemarangToko Oen Semarang Foto: detikFood

Mengutip informasi dari situs resmi Toko Oen, sejarah usaha ini bermula sekitar 1910 ketika Ny. Liem Gien Nio membuka toko kue kering bernama Toko "OEN" di Yogyakarta.

Nama tersebut diambil dari nama suaminya, Oen Tjoen Hok atau Opa Oen. Pada 1922, usahanya berkembang dengan menjual es krim dan menyediakan restoran. Setelah membuka cabang di Jakarta dan Malang, Toko Oen akhirnya hadir di Semarang pada 1936.

Toko Oen SemarangToko Oen Semarang Foto: detikFood

Saat ini, Toko Oen Semarang masih dimiliki dan dikelola oleh keturunan langsung keluarga Opa dan Oma Oen. Pengelolaannya diteruskan hingga kini dikelola generasi keempat.

Dari sisi kuliner, Toko Oen mempertahankan sejumlah sajian yang menjadi ciri khasnya. Ada kroket, risoles, lumpia, bitterballen, poffertjes, bistik Hamburg, bistik lidah, Wiener Schnitzel, steak, pasta, hingga nasi goreng.

Toko Oen SemarangToko Oen Semarang Foto: detikFood

Di bagian depan restoran, ada display bakery dengan aneka pilihan pastry dan kue jadul. Paling menarik ada pilihan kue kering seperti ananas, bokkepootjes, sprits, janhagel, kaasstengels, dan lidah kucing.

Namun, es krim di sini tetap menjadi salah satu daya tarik utama. Resepnya dipertahankan dan dibuat menggunakan mesin es dari Italia yang berasal dari era 1920-an.

Toko Oen SemarangToko Oen Semarang Foto: detikFood

Spesial di tahun ini, Toko Oen meluncurkan menu 90 Tahun Toko Oen (Rp35.000). Tim detikFood berkesempatan mencicipi racikan es krim klasik ini yang menggunakan kayu manis sebagai bahan utamanya.

Rasanya manis dengan jejak khas kayu manis yang harum. Untuk tekstur es krimnya sendiri khas es krim jadul yang mudah cair dan teksturnya mirip sorbet. Es krim ini juga dilengkapi topping kue lidah kucing yang menambah rasa manisnya.

Di sini, menu klasik yang dipengaruhi kuliner Belanda juga jadi favorit, yaitu Poffertjes Ice Cream (Rp50.000) dan Pannekoek Ice Cream (Rp50.000). Keduanya disajikan dengan tiga pilihan es krim mulai dari mocha, vanilla, cokelat sampai strawberry.

Toko Oen SemarangToko Oen Semarang Foto: detikFood

Keduanya memiliki rasa yang enak. Adonan pancake dan poffertjesnya sengaja dibuat tidak terlalu manis agar rasanya seimbang saat disantap dengan es krim.

Selain menu-menu di atas, Toko Oen Semarang juga memiliki banyak menu es krim dan makanan lainnya. Untuk diketahui, beberapa menu es krim terdapat kandungan alkohol dan beberapa makanan Chinese food di sini nonhalal.

(sob/sob)