Kisah jurnalis di Gaza yang tetap bekerja dalam perang dan duka
Gaza (ANTARA) - Setiap kali Nisreen Thabet meninggalkan tendanya untuk meliput perang di Gaza, dia selalu diliputi dua rasa takut: yang pertama terhadap orang-orang yang akan dia liput, dan yang kedua terhadap anak-anak yang menanti kepulangannya.
Bagi Thabet, jurnalis berusia 40 tahun sekaligus ibu dua anak, profesi sebagai jurnalis dan peran sebagai ibu menjadi dua hal yang tak terpisahkan sejak konflik terbaru antara Palestina dan Israel dimulai pada Oktober 2023.
Anak-anak Thabet, Majd dan Ahmed, kehilangan ayah mereka dalam konflik tersebut dan kini sepenuhnya bergantung padanya.
"Saya tidak dapat memilih antara peran sebagai ibu dan tugas sebagai jurnalis," tutur Thabet sebagaimana warta Xinhua.
"Sering kali, saya harus membawa anak-anak ke lapangan. Di lain waktu, saya menitipkan mereka pada ibu saya dan berjalan jauh menuju tempat kerja di tengah pengeboman dan minimnya transportasi."
"Saya menjalani beban ganda: takut akan nasib mereka dan takut akan nasib saya sendiri, karena saya tahu mereka tidak punya siapa pun di dunia ini selain saya setelah ayah mereka meninggal," tambahnya.
Suaminya, Haider al-Masdar, seorang penulis dan peneliti di bidang politik dan media, tewas pada Juli 2024 dalam serangan udara Israel yang menargetkan sebuah tenda tempat para jurnalis berlindung di dalam sebuah rumah sakit di Gaza tengah.
Setelah kematian suaminya, Thabet sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan dunia jurnalistik. Dia menyaksikan rekan-rekannya meninggalkan rumah, mengganti nomor telepon, atau mundur dari tugas lapangan.
Namun, dia memilih untuk terus bekerja dan menyebut jurnalisme sebagai "garis pertahanan terakhir bagi kebenaran."
Kini, dia dan anak-anaknya tinggal di sebuah tenda. Pengungsian berulang kali membuatnya harus selalu siap melarikan diri, dengan menyimpan barang-barang penting di dekatnya serta memantau laporan mengenai serangan dan perintah evakuasi.
Di dalam tenda, dia berusaha menciptakan sedikit suasana kehidupan normal bagi anak-anaknya, mendukung pendidikan mereka, serta membicarakan urusan sekolah, rumah, dan masa depan yang dia harapkan dapat mereka jalani setelah perang berakhir.
Bagi Amer Sultan, perang juga telah mengubah jurnalisme menjadi pengalaman yang menyakitkan karena harus terpisah dari keluarga.
Sultan (32) telah bekerja sebagai jurnalis foto sejak 2014, didorong oleh keinginan untuk mendokumentasikan berbagai peristiwa di Gaza, terutama kejadian pada malam hari yang sering kali minim liputan.
"Sejak awal karier, saya melihat kamera sebagai sarana untuk mendokumentasikan apa yang terjadi pada masyarakat," ujarnya. "Saya ingin ada gambar, sebuah kesaksian tentang apa yang sedang terjadi."
Pada 7 Oktober 2023, Sultan meninggalkan rumahnya di kamp pengungsi Jabalia menuju Gaza City untuk meliput situasi yang semakin memburuk. Keluarganya tetap berada di wilayah utara ketika dia kemudian mengungsi ke Jalur Gaza selatan. Sejak saat itu, dia tidak pernah lagi bertemu dengan keluarganya
"Saya menunggu gencatan senjata, menghitung jam dan hari, tidak hanya karena saya ingin pengeboman berhenti, tetapi karena saya ingin kembali ke utara dan bertemu keluarga saya," kenangnya.
Pada 16 Januari 2025, harapan itu pupus. Sekitar pukul 22.00, Sultan mendapat kabar bahwa 13 anggota keluarganya tewas di dalam rumah mereka, termasuk ibunya.
"Guncangannya sangat dahsyat," katanya. "Sepanjang perang, saya memotret para korban dan memikirkan keluarga saya, bertanya kepada diri sendiri: Apakah hal yang sama bisa terjadi pada mereka? Kemudian tibalah hari ketika keluarga saya sendiri menjadi korban."
Keesokan harinya, dia kembali bekerja. "Saya bertekad untuk tidak pernah meletakkan kamera, pena, atau ponsel saya," katanya.
Kelangkaan bahan bakar, jalan yang hancur, dan minimnya transportasi memaksa Sultan berjalan kaki menempuh jarak jauh demi meliput berbagai peristiwa. Di tengah segala kesulitan itu, dia memilih untuk tetap bertahan meskipun ada tawaran untuk meninggalkan Gaza.
"Bagi saya, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan," tutur Sultan. "Ini adalah tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjalani perang ini. Saya ingin menyampaikan kisah kehidupan dan penderitaan mereka kepada dunia, bukan sekadar menunjukkan mereka sebagai angka."
Thabet dan Sultan merupakan dua dari 1.500 lebih jurnalis Palestina yang kehidupannya berubah akibat perang, menurut Tahseen al-Astal, wakil ketua Palestinian Journalists Syndicate di Gaza.
"Dengan adanya pembatasan terhadap masuknya jurnalis asing ke Gaza, para jurnalis Palestina mendapati diri mereka berada di garis depan peliputan," kata al-Astal. "Mereka bekerja di tengah pengeboman, pengungsian, kelangkaan bahan bakar, listrik, dan akses internet, serta kesulitan menjangkau lokasi kejadian dan sumber informasi."
Dia mengatakan lebih dari 250 jurnalis telah tewas selama perang, sementara puluhan lainnya terluka, beberapa di antaranya lebih dari satu kali.
Lebih dari 150 media lokal, Arab, dan internasional serta kantor produksi juga telah hancur atau mengalami kerusakan, tambahnya.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.