Kementrans pelajari teknologi pertanian Tiongkok bagi ketahanan pangan

Kementrans pelajari teknologi pertanian Tiongkok bagi ketahanan pangan

Kami menginginkan bahwa dengan belajar di Tiongkok secara langsung, ilmunya nanti bisa kita kembangkan di beberapa kawasan transmigrasi yang sesuai dengan dinamikanyaJakarta (ANTARA) - Kementerian Transmigrasi ...
Kami menginginkan bahwa dengan belajar di Tiongkok secara langsung, ilmunya nanti bisa kita kembangkan di beberapa kawasan transmigrasi yang sesuai dengan dinamikanya

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Transmigrasi akan mempelajari teknologi dan tata kelola pertanian dari Tiongkok untuk meningkatkan produktivitas kawasan transmigrasi sekaligus mendukung penguatan ketahanan pangan nasional.

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan peserta seminar Development Transmigration Areas in Indonesia di Beijing akan mempelajari pengelolaan air dan irigasi, optimalisasi pemanfaatan lahan, hingga penerapan mekanisasi pertanian untuk meningkatkan efisiensi produksi.

"Kami menginginkan bahwa dengan belajar di Tiongkok secara langsung, ilmunya nanti bisa kita kembangkan di beberapa kawasan transmigrasi yang sesuai dengan dinamikanya sebagai role model," kata Viva Yoga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Menurut dia, praktik-praktik yang berhasil diterapkan di Tiongkok akan disesuaikan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan potensi sumber daya di kawasan transmigrasi di Indonesia sehingga mampu meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

Selain mempelajari pengelolaan lahan dan irigasi, peserta juga akan mendalami penerapan teknologi pertanian yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya sekaligus mendorong hasil produksi.

"Ada beberapa sektor, misalnya manajemen pembangunan pertanian. Kita akan melihat bagaimana tata kelola air, irigasi, memanfaatkan lahan menjadi lahan produktif, kemudian meningkatkan produktivitas melalui alat-alat pertanian yang memberikan efisiensi lebih baik," ujarnya.

Viva Yoga mengatakan peningkatan produktivitas pertanian di kawasan transmigrasi diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui pengembangan produk unggulan dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Selain sektor pertanian, peserta akan mempelajari pengembangan ekonomi pedesaan melalui penguatan keterkaitan antara industri dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut dia, integrasi tersebut penting untuk membangun rantai nilai yang lebih kuat sehingga hasil produksi masyarakat tidak berhenti pada komoditas primer.

"Kita ingin melihat bagaimana proses industri dapat terhubung dengan UMKM yang ada di desa sehingga seluruh pembelajaran ini dapat memberikan nilai tambah yang kemudian diterapkan di kawasan transmigrasi sesuai dengan potensi dan sumber daya yang dimiliki masing-masing daerah," katanya.

Setelah kembali ke Indonesia, para peserta akan diminta menyusun rekomendasi sebagai bahan pengembangan kebijakan dan proyek percontohan di kawasan transmigrasi.

Pemerintah berharap pengetahuan yang diperoleh dapat mempercepat transformasi kawasan transmigrasi menjadi wilayah yang lebih produktif, modern, dan mampu mendukung ketahanan pangan nasional.

Seminar yang berlangsung pada 29 Juli hingga 11 Agustus 2026 di Beijing, Yichang, dan Xiong'an itu juga menjadi bagian dari kerja sama Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan kawasan serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Viva Yoga mengatakan seluruh biaya penyelenggaraan seminar ditanggung oleh Pemerintah Tiongkok sehingga tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Baca juga: Kementrans siapkan SDM untuk bangun kawasan transmigrasi produktif

Baca juga: Wamentrans: Program transmigrasi lahirkan 116 kabupaten dan kota

Baca juga: Kementrans menerjunkan 1.476 akademisi ke 53 kawasan transmigrasi

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.