Keluarga Djiaw Kie Siong di Balik Peristiwa Rengasdengklok dan Naskah Proklamasi
Karawang -
Nama Sukarno dan Mohammad Hatta begitu lekat dengan Rengasdengklok. Namun, di balik peristiwa itu ada keluarga Djiaw Kie Siong yang rumahnya dipakai untuk tempat Sukarno dan rombongan saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Rumah tersebut masih berdiri di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Rumah yang dibangun 1920 itu juga masih menjadi tempat tinggal keluarga keturunan Djiaw Kie Siong.
Generasi ketiga keluarga Djiaw Kie Siong, Lani, mengatakan kakeknya merupakan warga biasa. Sehari-hari Djiaw Kie Siong bekerja sebagai petani dan juga berdagang bambu. Meski begitu, keluarganya termasuk salah satu keluarga yang dituakan di kampung. Rumah mereka juga tergolong besar untuk ukuran kawasan Rengasdengklok saat itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut akhirnya membuat rumah Djiaw Kie Siong dipilih untuk menampung rombongan Sukarno dan Hatta. Saat itu, Rengasdengklok dipilih karena dianggap lebih aman dan jauh dari Jakarta maupun tentara Jepang.
Penunggu rumah Djiaw Kie Siong, Lani, membeberkan ketika Sukarno dan rombongan tiba, rumah keluarga mereka kemudian harus dikosongkan.
"Tapi saya (Sukarno) minta Bapak rumah ini kosongin, itu yang diminta sama Pak Sukarno," kata Lani saat dijumpai detikTravel pada Rabu (12/08/2026).
Keluarga pun pindah sementara ke rumah paman Lani yang lokasinya tidak jauh dari sana. Selain untuk menjaga kerahasiaan, keluarga juga takut karena tentara Jepang masih banyak dan mereka hanyalah warga biasa.
Sukarno dan rombongan kemudian berada di rumah tersebut selama satu malam. Menurut cerita keluarga, proses perumusan dilakukan di rumah itu menggunakan meja dan bangku yang saat ini sebagian masih dapat dilihat.
Rombongan Sukarno-Hatta kemudian meninggalkan Rengasdengklok pada 16 Agustus.
Saat keluarga Djiaw Kie Siong kembali ke rumah pada malam harinya, mereka menemukan banyak sobekan kertas yang disebut berkaitan dengan proses perumusan. Namun, sobekan kertas itu tidak disimpan.
Keluarga buru-buru menyapu dan membakarnya di kebun karena takut tentara Jepang melakukan patroli.
"Takut tentara Jepang patroli, buru-buru disapu, dibakar di kebun belakang rumah," kata Lani.
Kini, cerita tentang sobekan kertas tersebut hanya tersisa sebagai bagian dari cerita yang diwariskan keluarga. Lani bahkan menyayangkan jika saat itu sedikit saja kertas tersebut disimpan untuk menjadi bukti sejarah.
"Kan takut, antisipasi gitu ya, padahal kalau kita simpan sedikit aja, buat bukti doang, bukan buat apa-apa" kata dia.
Setelah meninggalkan Rengasdengklok, rombongan kembali ke Jakarta. Menurut cerita Lani, naskah kemudian diketik kembali di Jakarta karena di sana terdapat mesin tik, sebelum rangkaian peristiwa Proklamasi berlanjut.
Kini, keluarga keturunan Djiaw Kie Siong masih merawat rumah tersebut. Rumah ini pun telah berstatus cagar budaya tingkat nasional dengan kepemilikan tetap berada di pihak keluarga.