Karhutla 2026 Meluas, Dampak Kesehatan Masyarakat Jadi Perhatian

Karhutla 2026 Meluas, Dampak Kesehatan Masyarakat Jadi Perhatian

Winna Wandayani

| 2 Oktober 2026, 22:54 WIB

Karhutla 2026 Meluas, Dampak Kesehatan Masyarakat Jadi Perhatian

Karhutla 2026 Meluas, Penguatan Pencegahan dan Kesiapsiagaan Jadi Sorotan (AKURAT.CO/Winna Wandayani)

AKURAT.CO Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan masyarakat. Perluasan kejadian karhutla membuat risiko paparan asap di sejumlah wilayah ikut meningkat.

Koalisi Indonesia Tanpa Polusi menyebut karhutla tidak hanya terjadi di Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran juga dilaporkan muncul secara sporadis di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Tanah Papua.

Data Sistem Pemantauan Karhutla SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan luas karhutla pada Januari-Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare. Angka ini meningkat 69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Kondisi karhutla kemudian turut dipengaruhi musim kemarau panjang dan fenomena El Nino yang disebut berada dalam kondisi sangat kuat. Situasi tersebut membuat pencegahan dan pemantauan di wilayah rawan menjadi perhatian.

Dari sisi kesehatan, dampak karhutla terlihat dari meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah daerah. Koalisi Indonesia Tanpa Polusi menyebut data Kementerian Kesehatan mencatat 113.336 kasus ISPA di 63 kabupaten/kota terdampak.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 26.545 kasus dialami anak usia 0-5 tahun. Data ini menunjukkan kelompok masyarakat rentan, termasuk anak-anak, perlu mendapat perhatian selama terjadi paparan asap karhutla.

Manajer Riset Pantau Gambut, Syafiq Gumilang, menyebut 139.978 hotspot tercatat di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) hingga pertengahan September 2026. Sekitar 30 persen atau 40.000 hotspot berada di area Hak Guna Usaha (HGU) dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

"Hal ini mengindikasikan adanya hubungan erat antara karhutla dengan lemahnya pengawasan sertanpenegakan hukum di area konsesi," ujarnya, saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Belgis Habiba, mengatakan pemantauan pada Agustus hingga 20 September 2026 menemukan 3.213 titik sumber asap di Kalimantan dan 894 titik di Sumatra. Sebagian besar titik di Kalimantan disebut berada di lanskap gambut.