Dispusip DKI: Di era AI, perpustakaan harus jadi tempat warga belajar
Jakarta (ANTARA) - Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono mengingatkan dalam era kecerdasan buatan (AI) saat ini, perpustakaan tetap harus menjadi tempat masyarakat belajar menemukan jawaban dan memastikan sebuah jawaban itu layak dipercaya.
"Teknologi dapat berubah dan selalu berubah, aplikasi dapat silih berganti, cara manusia memperoleh informasi pun akan terus berkembang. Tanggung jawab perpustakaan tetap sama, memastikan setiap warga memperoleh informasi yang benar, aman," ujar Nasruddin dalam talkshow bertema "Perpustakaan Umum dalam Menghadapi Akselerasi Kecerdasan Buatan (AI)" yang digelar secara daring, Kamis.
Dia mengakui AI saat ini hadir di ruang belajar, ruang kerja, mesin pencari, media sosial, bahkan dalam genggaman anak-anak. AI dapat menerjemahkan bahasa, merangkum dokumen, menyusun tulisan, menciptakan gambar, dan menjawab pertanyaan dalam detik-detik.
Namun, menurut Nasruddin, kecepatan tidak selalu berjalan bersama kebenaran. Jawaban yang terdengar cerdas belum tentu tepat. Sumber yang disebut belum tentu ada dan informasi yang terlihat lengkap belum tentu memiliki sebuah konteks.
Kemudian, ketika informasi semakin cepat diproduksi, masyarakat semakin membutuhkan tempat untuk berhenti sejenak, memeriksa kebenaran, menemukan konteks, dan mengambil keputusan dengan bijaksana dan cepat. Tempat itu adalah perpustakaan.
"Pada akhirnya, AI dapat menghasilkan jawaban, tetapi perpustakaanlah yang membantu masyarakat menemukan kebenaran dan kebijaksanaan di baliknya," kata Nasruddin yang juga menjabat Ketua Forum Perpustakaan Umum Indonesia.
Baca juga: Pemprov DKI jadikan perpustakaan ruang anak berkarya
Terkait literasi, dia menekankan perpustakaan mendapatkan mandat untuk membantu masyarakat menelusuri informasi, membandingkan sumber, dan membangun pengetahuan.
"Di era AI, mandat itu tidak berubah, namun cakupannya memang harus diperluas. Masyarakat perlu memahami apa yang dapat dilakukan AI, apa batas kemampuannya, bagaimana memeriksa hasilnya, dan data apa yang tidak seharusnya dimasukkan ke dalam sistem," tutur Nasruddin.
Dalam hal ini, sambung dia, peran pustakawan menjadi penting. Pustakawan tidak harus menjadi pembuat algoritma atau pengembang semua aplikasi AI.
Namun, pustakawan perlu memahami kemampuan dan keterbatasan teknologi, kemudian menggunakan keahlian utama profesinya untuk menelusuri, memverifikasi, memberikan konteks, dan menghubungkan masyarakat dengan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Nasruddin menyebutkan ketika seorang pemustaka membawa jawaban AI, maka pustakawan dapat mengajaknya, mengajukan pertanyaan, yakni asal informasi tersebut, sumber-sumber yang ditemukan, sumber lain yang menguatkan atau membantahnya, informasi tersebut masih berlaku atau tidak, dan tujuan dari informasi tersebut.
"Perpustakaan perlu membuat masyarakat cukup percaya diri untuk mencoba teknologi ketika manfaatnya jelas. Tapi, kita juga harus kritis untuk berhenti ketika sumber keamanan data atau dampaknya belum dapat dipastikan," pungkas Nasruddin.
Baca juga: Pengunjung perpustakaan di Jakarta capai 913 ribu orang
Baca juga: Pemprov DKI terus dorong perpustakaan jadi ruang tumbuhkan kreativitas
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.