Bupati Ipuk: Tradisi endog-endogan ruang perkuat gotong royong - ANTARA News Jawa Timur
Banyuwangi (ANTARA) - Tradisi Endog-Endogan di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, selain memperingati Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) juga menjadi ruang untuk memperkuat gotong royong dan kebersamaan warga.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan dalam tiga tahun terakhir tradisi tersebut telah masuk dalam kalender agenda wisata tahunan Banyuwangi Attractions karena warga desa itu konsisten menjaga tradisi.
"Pemkab mengapresiasi pemerintahan desa dan seluruh masyarakat Kembiritan yang gotong royong terus menjaga tradisi ini hingga 28 tahun. Kami berharap Endog-Endogan terus lestari dan tidak luntur oleh perkembangan zaman, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya kebersamaan dan gotong royong," kata Bupati Ipuk saat menghadiri perayaan tersebut di Banyuwangi, Selasa.
Menurut dia, tradisi Endog-Endogan bukan sekadar tradisi yang menghadirkan kemeriahan dan kreativitas warga, di dalamnya terdapat nilai-nilai sosial yang sejalan dengan semangat memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Di tengah perkembangan teknologi dan kecenderungan masyarakat yang semakin individualistis, kata Ipuk, tradisi seperti Endog-Endogan dan kegiatan sosial seperti santunan anak yatim menunjukkan bahwa semangat guyub rukun dan gotong royong warga masih kuat.
Ipuk menyampaikan pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, peran serta masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan sosial sekaligus mendukung berbagai program pembangunan.
"Tangan pemerintah tentu terbatas, oleh karena itu partisipasi aktif masyarakat seperti ini sangat penting. Ketika masyarakat guyub, saling membantu dan peduli, tentu banyak persoalan yang bisa diselesaikan bersama," katanya.
Sementara itu Kepala Desa Kembiritan, Sukamto, menjelaskan tradisi Endog-Endogan telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat selama hampir tiga dekade.
"Tradisi ini diwariskan oleh para leluhur kami sejak 28 tahun lalu, awalnya mengarak kembang telur atau endog-endogan hanya dilakukan dengan berjalan kaki dan menggunakan becak roda tiga yang diusung warga RT/RW, tapi sekarang hampir seluruh lembaga pendidikan, yayasan, dan kelompok masyarakat, turut terlibat ambil bagian," katanya.
Tradisi Endog-Endogan sendiri menjadi salah satu bentuk kekayaan budaya masyarakat Banyuwangi yang terus didorong untuk tumbuh dan diwariskan lintas generasi.
Pewarta: Novi Husdinariyanto
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.