Korban Tewas Imbas Gelombang Panas di Eropa Tembus 35.000 Orang
Di Spanyol, data dari sistem pemantauan kematian Institut Kesehatan Carlos III menunjukkan sekitar 4.947 kematian antara Mei hingga pekan ini dapat dikaitkan dengan panas.
Angka tersebut menjadikan 2026 sebagai tahun terburuk di Spanyol dalam hal kematian terkait panas. Jumlahnya telah melampaui rekor sebelumnya, yakni 4.520 kematian pada 2022.
Namun, setiap negara memiliki metode berbeda dalam menghitung dan menyajikan data kematian akibat panas.
Spanyol dan Jerman menggunakan pemodelan untuk memperkirakan kematian terkait panas secara real time. Perhitungan dilakukan dengan membandingkan suhu harian dan tingkat kematian untuk memperkirakan jumlah kematian yang dapat dikaitkan dengan paparan panas.
Pemodelan diperlukan karena panas jarang dicatat sebagai penyebab langsung kematian. Dalam banyak kasus, suhu ekstrem memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada, seperti penyakit pernapasan atau kardiovaskular. Korban kemudian meninggal akibat serangan jantung, stroke, atau gagal ginjal.
Penetapan penyebab kematian secara final dapat membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Sejumlah negara bahkan belum merilis data hingga awal Agustus.
Mantan Menteri Kesehatan Jerman Karl Lauterbach mengatakan pekan lalu bahwa angka yang telah dirilis kemungkinan masih lebih rendah dari jumlah sebenarnya.
Prancis Catat 7.300 Kematian Berlebih
Prancis menjadi salah satu negara yang mengalami gelombang panas terparah. Lebih dari 500 stasiun cuaca mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius. Pada satu titik, sebanyak 98 persen wilayah negara itu berada dalam status peringatan panas.
Badan kesehatan nasional Prancis melaporkan angka awal kematian berlebih dari semua penyebab. Penentuan berapa banyak kematian yang secara definitif dapat dikaitkan dengan panas dilakukan kemudian.
Badan tersebut mengatakan pekan lalu bahwa jumlah kematian berlebih dari semua penyebab antara akhir Mei hingga 22 Juli mencapai 7.300 orang.
Data Agustus belum tersedia. Data awal tersebut juga hanya berdasarkan sertifikat kematian elektronik yang mencakup sekitar 80 persen dari total kematian.
Sementara itu, Italia yang menggunakan data pemerintah daerah dalam sistem pemantauan panas nasional masih menghadapi keterlambatan dalam pengumpulan data. Sejauh ini, Italia baru melaporkan indikator real-time yang belum lengkap, bukan angka kematian nasional yang telah terkonsolidasi.
Pemodelan menunjukkan sekitar 2.700 orang lebih banyak dari biasanya meninggal di Italia hanya dalam periode 22-28 Juni. Para ahli epidemiologi memperkirakan total kematian yang dapat dikaitkan dengan panas di negara tersebut kemungkinan mencapai antara 5.000 hingga 8.000 orang ketika angka resmi akhirnya dicatat.