BPR turunkan risiko kredit bermasalah di tengah gejolak ekonomi global - ANTARA News Bali
Denpasar (ANTARA) - Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Bali menurunkan risiko kredit bermasalah di tengah gejolak ekonomi global melalui penerapan manajemen risiko yang ketat.
βKami harus tetap menjaga dengan tata kelola yang baik, manajemen risiko, kepatuhan dan kehati-hatian,β kata Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) Bali I Ketut Komplit di sela diskusi soal Transformasi UMKM Ekonomi Kreatif di Denpasar, Bali, Rabu.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali, realisasi kredit bermasalah (non performing loan/NPL) BPR di Bali per Mei 2026 mencapai 13,15 persen atau turun dibandingkan periode sama 2025 sebesar 16,65 persen.
Dari 120 BPR konvensional dan satu BPR Syariah di Bali, bank tersebut menyalurkan kredit Rp13,93 triliun atau naik 5,77 persen dibandingkan periode sama 2025 mencapai Rp13,17 triliun.
Dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun juga naik 6,16 persen menjadi Rp18,34 triliun dibandingkan periode sama 2025 mencapai Rp17,28 triliun.
Sedangkan aset juga tumbuh 4,84 persen dari Rp21,71 triliun pada Mei 2025 menjadi Rp22,76 triliun pada periode sama 2026.
Rasio kredit terhadap simpanan (LDR) mencapai 75,94 persen atau berada dalam kisaran lebih baik dibandingkan kinerja bank keseluruhan, mendekati angka ideal kisaran 78-92 persen.
Meski secara tahunan mencatatkan kinerja yang tumbuh, namun ia mengakui secara bulanan kinerja BPR di Bali diperkirakan mengalami perlambatan.
Kondisi itu, kata dia, tidak terlepas dari dinamika geopolitik global yang berdampak ke sektor pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi Pulau Dewata.
βTapi kami harus terus optimis, memasuki triwulan ketiga mudah-mudahan perekonomian semakin baik, punya dampak pada industri perbankan yang punya tantangan pada pertumbuhan dan fungsi intermediasinya,β katanya.
Tak hanya dari sisi dinamika global, Komplit menambahkan persaingan ketat antara bank-bank besar juga diperkirakan mempengaruhi kinerja BPR di Bali, karena sama-sama bermain pada segmentasi UMKM.
Ia berharap perbankan besar mengoptimalkan segmentasi korporasi dan ekspor.
βPerlu kebijakan tata kelola segmentasi kepada perbankan. Sedangkan BPR yang menjadi garda depan untuk UMKM, benar-benar diberi kesempatan menjadi tulang punggung UMKM,β katanya.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT Β© ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.