Wakil Wali Kota Surakarta sebut Festival Payung bagian dari tradisi
Wakil Wali Kota Surakarta sebut Festival Payung bagian dari tradisi
Sabtu, 5 September 2026 16:12 WIB
Pembukaan Festival Payung Indonesia (Fespin) ke-13 di Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah, Jumat (4/9/2026). ANTARA/HO-Humas Pemkot Surakarta
Solo (ANTARA) - Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menyebut Festival Payung Indonesia (Fespin) merupakan bagian dari tradisi.
“Festival ini bukan sekadar tentang payung. Di balik sebuah payung ada karya, ada kreativitas, ada tradisi, ada cerita, dan ada semangat untuk terus menciptakan sesuatu yang baru,” katanya saat menghadiri pembukaan Fespin ke-13 di Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah, Jumat.
Mengusung tema “Catra Padi, Sepayung Dewi Sri”, Fespin menjadi ruang pertemuan budaya, kreativitas, dan ekonomi kreatif yang mempertemukan seniman, komunitas, pelaku UMKM hingga peserta dari berbagai daerah dan mancanegara.
Dalam kesempatan tersebut, Festival Payung Indonesia ke-13 juga menerima penghargaan Top 3 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata RI Raden Wisnu Sindhutrisno, sebagai perwakilan Kementerian Pariwisata, kepada Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani.
Selanjutnya, Astrid menyerahkan penghargaan tersebut kepada Founder Festival Payung Indonesia Heru Mataya. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas konsistensi Festival Payung Indonesia dalam mengembangkan event berbasis budaya sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Surakarta.
Menurutnya, payung yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal sebagai benda sederhana dapat diolah oleh seniman dan kreator menjadi karya seni yang memiliki nilai budaya sekaligus ekonomi.
“Inilah kekuatan kebudayaan, yaitu sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat diolah menjadi karya yang memiliki nilai dan mampu berbicara kepada dunia,” ujarnya.
Ia menegaskan Pemerintah Kota Surakarta ingin terus menjadikan Solo sebagai kota yang hidup dengan kebudayaan. Ia mengatakan kebudayaan tidak hanya ditampilkan dalam panggung-panggung besar, tetapi juga tumbuh dari kreativitas masyarakat, komunitas, seniman, pelaku usaha, anak muda, dan seluruh warga.
Oleh karena itu, festival seperti Fespin dinilai memiliki arti penting dalam membangun ekosistem kebudayaan dan ekonomi kreatif di Kota Surakarta.
“Ruang-ruang seperti Festival Payung memberi kesempatan kepada para seniman untuk berkarya, komunitas untuk berkolaborasi, UMKM untuk berkembang, sekaligus memberikan pengalaman bagi masyarakat dan wisatawan untuk menikmati Solo dari sisi yang berbeda,” tutur Astrid.
Ia juga berharap Fespin dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan inovasi, seniman dan masyarakat, serta karya lokal dengan apresiasi global.
“Kita ingin menunjukkan bahwa Solo tidak hanya memiliki warisan budaya yang kuat, tetapi juga memiliki kreativitas yang terus tumbuh,” katanya.
Fespin ke-13 berlangsung selama tiga hari, Jumat-Minggu (4-6/9/2026), dengan melibatkan peserta dari hampir 40 kota di Indonesia. Sekitar 20 persen peserta berasal dari Solo Raya, sedangkan 80 persen lainnya berasal dari berbagai daerah dan mancanegara.
Tahun ini, jejaring internasional Fespin juga semakin luas dengan kehadiran peserta dari Jepang, India, Korea Selatan, dan Pakistan, setelah pada tahun sebelumnya menghadirkan peserta dari Thailand.
Direktur Festival Payung Indonesia Heru Mataya mengatakan Fespin terus dikembangkan sebagai ruang diplomasi budaya, baik antardaerah maupun antarbangsa.
“Festival payung ini salah satu upaya alat diplomasi budaya. Tahun lalu baru Thailand yang ikut, tahun ini ada Jepang, India, Korea Selatan, dan Pakistan,” kata Heru.
Selama tiga hari, Fespin menghadirkan 167 pertunjukan yang meliputi tari, musik, fashion, hingga teater di tiga panggung. Jumlah seniman dan artisan yang terlibat juga meningkat. Jika tahun sebelumnya sekitar 2.000 orang, tahun ini mencapai sekitar 3.000 orang.
Lebih dari 5.000 payung dipamerkan dalam berbagai kreasi, mulai rajut, sulam, hingga perca. Pengunjung juga dapat menyaksikan proses pembuatan karya melalui workshop para crafter.
Menurut Heru, pengembangan payung tradisi harus berjalan beriringan dengan inovasi agar tradisi tetap hidup dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
“Pelestarian payung tradisi harus diikuti pengembangan modern. Jadi tradisinya tetap hidup, tetapi kreativitasnya juga berkembang,” ujarnya.
Tema “Catra Padi, Sepayung Dewi Sri” mengangkat budaya pangan dan tradisi padi di Nusantara. Padi tidak hanya dipandang sebagai bahan pangan, tetapi juga bagian dari sejarah, tradisi pertanian, hingga mitologi Dewi Sri yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
Astrid berharap para seniman, artisan, komunitas, dan pelaku kreatif terus mengembangkan karya yang berangkat dari kekayaan budaya Indonesia.
“Kepada seluruh peserta dan pelaku kreatif, kami berpesan, teruslah berkarya. Jangan takut bereksperimen, jangan takut berkolaborasi, dan jangan berhenti mengembangkan karya-karya yang berangkat dari kekayaan budaya kita sendiri,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk turut meramaikan Fespin dengan datang, menikmati, dan mengapresiasi karya para seniman dan kreator. Kehadiran masyarakat sekaligus diharapkan dapat ikut menggerakkan ekonomi lokal.
“Kepada masyarakat Kota Surakarta, mari kita dukung bersama kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti ini. Datang, nikmati, apresiasi karya para seniman dan kreator kita, sekaligus ikut menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujar Astrid.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah dan mancanegara juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi Kota Surakarta, khususnya sektor perhotelan, transportasi, kuliner, dan UMKM.
Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, Fespin menarik sekitar 32.000 pengunjung. Tahun ini, panitia berharap jumlah wisatawan yang datang semakin meningkat sekaligus memberikan manfaat bagi keberlangsungan perajin payung tradisi.
“Harapannya festival ini berdampak secara ekonomi sekaligus memberi manfaat bagi kelestarian payung tradisi kita. Payung tradisi kita bisa menjadi ikon pusaka Indonesia,” katanya.
Pembukaan Fespin ke-13 turut dihadiri Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata RI Raden Wisnu Sindhutrisno, Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI Dr. Ir. Feri Arlius, M.Sc., Wali Kota Tasikmalaya sekaligus Ketua Dekranasda Kota Tasikmalaya Dr. Elvira Kamarau Putri, Wakil Wali Kota Tasikmalaya sekaligus Wakil Ketua Dekranasda Kota Tasikmalaya Rani Permayani Diki Candra, Gusti Raden Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura) dari Pura Mangkunegaran, serta Gusti Febri dari Keraton Kasunanan Surakarta.
Astrid menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam penyelenggaraan Fespin ke-13. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, seniman, komunitas, pelaku UMKM, dunia usaha, serta masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan kota.
“Kepada seluruh tamu yang hadir dari luar Kota Solo, kami ucapkan selamat datang di Surakarta. Silakan menikmati festivalnya, menikmati suasana kotanya, dan tentu saja jangan lupa menikmati kuliner Solo yang selalu punya cara sendiri untuk membuat orang ingin kembali,” katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.