BI: 69 Persen Penduduk Usia Produktif Harus Jadi Bonus Kompetensi

BI: 69 Persen Penduduk Usia Produktif Harus Jadi Bonus Kompetensi

AKURAT.CO Bonus demografi menjadi salah satu modal Indonesia untuk meningkatkan produktivitas ekonomi.

Namun, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menilai, besarnya jumlah penduduk usia produktif belum cukup apabila tidak diikuti kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan perekonomian.

Destry mencatat sekitar 69% penduduk Indonesia berada dalam kelompok usia produktif. Komposisi tersebut, menurutnya, perlu diubah dari sekadar keunggulan demografi menjadi keunggulan kompetensi melalui pengembangan kemampuan sumber daya manusia, terutama generasi muda.

Baca Juga: Caplok Asuransi Etiqa, Maybank Indonesia Mulai Beroperasi sebagai Grup Keuangan Terintegrasi

“Di kita 69 persen usia produktif. Inilah bonus demografi yang harus kita geser, kita transformasikan menjadi bukan hanya sekadar demografi anak muda, tapi bonus kompetensi, anak muda yang punya kompetensi,” kata Destry dalam rangkaian Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE) 2026 di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Menurut Destry, tantangan Indonesia bukan hanya meningkatkan jumlah talenta digital, tetapi memastikan keterampilan yang dimiliki benar-benar sesuai dengan kebutuhan ekonomi. Karena itu, pengembangan kompetensi perlu menggunakan pendekatan berbasis permintaan atau demand-driven.

Ia mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki banyak talenta dengan kemampuan yang baik. Persoalannya, kompetensi tersebut belum tentu seluruhnya sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan perkembangan perekonomian.

“Demand-driven-nya harus ada. Jadi ini yang menjadi tantangan. Kita punya banyak talenta bagus, tapi ternyata bukan itu yang dibutuhkan. Berarti kita harus lihat kebutuhan dari ekonomi, dari masyarakat kita itu apa. Jadi harus demand-driven,” ujar Destry.

Pendekatan tersebut membuat pengembangan talenta tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah lulusan atau peserta pelatihan. Kompetensi yang dibangun perlu mengikuti perubahan kebutuhan industri sehingga tenaga kerja yang tersedia dapat mengisi kebutuhan pekerjaan yang muncul akibat perkembangan teknologi.

Baca Juga: Maybank Indonesia dan Sunway Medical Centre Jalin Kemitraan Strategis, Manjakan Nasabah Premier Lewat Akses Kesehatan Eksklusif

Destry juga menyoroti minat generasi muda untuk menempuh pendidikan di bidang STEM atau science, technology, engineering and mathematics yang relatif menurun. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi tantangan ketika kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan kemampuan teknologi tinggi terus berkembang.

=====

Karena itu, pengembangan talenta digital perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, industri hingga pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut dibutuhkan agar kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi dapat diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi relevan.

Jangan Hanya Jadi Konsumen Teknologi

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, Destry juga mengingatkan agar Indonesia tidak berhenti sebagai pengguna teknologi. Menurutnya, peningkatan kapasitas sumber daya manusia perlu diarahkan agar Indonesia mampu menghasilkan teknologi dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Jangan kita menjadi konsumen untuk teknologi itu. Tapi kita juga harus bisa menjadi produsen untuk bisa menciptakan teknologi yang berdampak dan juga tentunya inklusif buat semua masyarakat,” kata Destry.

Menurut Destry, kemampuan tersebut semakin penting karena perkembangan inovasi dan teknologi berlangsung cepat. Perubahan tersebut membuat kebutuhan terhadap proses upskilling dan reskilling sumber daya manusia menjadi semakin mendesak.

BI sendiri memiliki Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) sebagai salah satu wadah pengembangan talenta digital. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui proses upskilling dan reskilling agar lebih mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Tugas kami di dalam PIDI ini kita berusaha untuk upskilling dan reskilling SDM digital yang tentu sekarang menjadi agenda yang mendesak, karena inovasi berubah dengan cepat,” ujar Destry.

Pengembangan talenta tersebut juga ditunjukkan melalui karya-karya inovasi yang dipamerkan dalam FEKDI x IFSE 2026. Destry menyebut lebih dari 2.000 proposal masuk ke BI sebelum melalui sejumlah tahapan seleksi dan kurasi.

“Kalian adalah sebagian kecil dari 2.000 lebih proposal yang masuk ke Bank Indonesia, yang kemudian di-screen menjadi 800 proposal, kemudian dikurasi kembali. Kami juga menggunakan tenaga-tenaga ahli, dan akhirnya dapatlah kita 80 yang kami anggap terbaik dan relevan dengan kebutuhan kita saat ini,” kata Destry.

Sebanyak 80 karya tersebut menjadi bagian dari showcase inovasi digital dalam FEKDI x IFSE 2026. Penyelenggaraan kegiatan ini juga mempertemukan talenta digital dengan pelaku industri dan pencari kerja melalui agenda business and talent matching.

FEKDI x IFSE 2026 berlangsung pada 24-26 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung tema penguatan sinergi, inovasi, dan pencetakan talenta unggul yang berdaya saing global untuk mendukung ekonomi dan keuangan digital nasional.

Dengan demikian, tantangan bonus demografi Indonesia tidak hanya berkaitan dengan jumlah penduduk usia produktif, tetapi juga kualitas dan relevansi kompetensi yang dimiliki.

Bagi BI, kemampuan menghubungkan kebutuhan industri dengan pengembangan talenta menjadi bagian penting agar transformasi digital dapat mendorong produktivitas ekonomi secara lebih luas.