66 Miliar Pohon Jadi Tembok Hijau China, Ada Fakta Mengejutkan
Jakarta -
Selama lima dekade terakhir, China menanam 66 miliar pohon untuk membentuk dinding raksasa yang membentang di sepanjang gurun Gobi dan Taklamakan. Upaya reboisasi yang bertujuan untuk menghentikan perluasan gurun ini membuahkan hasil namun ternyata dengan kejutan tak terduga.
Dalam studi baru di jurnal Geophysical Research Letters, peneliti menemukan pohon-pohon yang ditanam di 'Tembok Hijau Raksasa' ini tampaknya tumbuh lebih cepat dibanding pohon di hutan alami. Ini kemungkinan karena pohon-pohon tersebut merespons peningkatan kadar CO2 di atmosfer dengan lebih baik.
Meski begitu, hal ini masih menjadi misteri. Penulis utama studi, Yuhang Luo, ahli ekolog Peking University di Shenzhen, mengatakan masih belum jelas bagaimana hutan buatan tersebut berbeda dari hutan alami, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitasnya dalam menyerap karbon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek Tembok Hijau Raksasa dimulai tahun 1978 dan diperkirakan akan selesai tahun 2050. Tujuan awalnya untuk memperlambat penggurunan padang rumput, di mana Gurun Gobi melahap lebih dari seribu mil persegi lahan tiap tahun.
Pada tahap awal, inisiatif ini sempat tersendat karena beberapa pohon yang dipilih dengan alasan pertumbuhannya yang cepat ternyata tidak cocok dengan lingkungan dan akhirnya mati.
Namun ilmuwan China terus berjuang. Melalui perencanaan dan ketekunan, perisai hijau ini tumbuh alih-alih mati, nasib yang sering menimpa inisiatif tembok hijau lainnya. Menurut artikel Nature, tutupan hutan di wilayah yang dilalui tembok ini melonjak dari 5 persen tahun 1978 jadi 14 persen di 2023. Hal ini membantu mengurangi badai debu dan meningkatkan kualitas udara di kota-kota termasuk Beijing.
Akan tetapi, Tembok Hijau Raksasa pada awalnya tidak dimaksudkan sebagai mitigasi perubahan iklim. Oleh karena itu, Luo dan rekan-rekannya penasaran untuk melihat bagaimana kinerja hutan tanam tersebut dalam hal ini.
Untuk melakukannya, mereka menggunakan data satelit guna melacak kepadatan kanopi Tembok Hijau tersebut, pengukuran yang dikenal sebagai indeks luas daun, lalu membandingkannya dengan hutan alami di China. Hal yang mengejutkan, luas daun di hutan buatan meningkat 66 persen lebih cepat dibanding rekan alaminya.
Menurut Live Science, ini sebagian besar karena pohon muda tumbuh lebih cepat daripada pohon tua. Hutan buatan ini juga dipelihara secara aktif oleh manusia. Namun, ketika ilmuwan membandingkan hutan buatan dan hutan alami dengan usia dan kondisi serupa, hutan buatan masih tampak tumbuh 4,6 persen lebih cepat.
Menariknya, perbedaan ini paling besar terlihat ketika pohon yang ditanam berusia sekitar 30 hingga 40 tahun, sebelum menurun tajam. Sementara itu, hutan alami tumbuh pada tingkat yang lebih lambat namun stabil, sehingga membuatnya lebih baik dalam menyerap karbon dalam jangka panjang.
"Hutan buatan dapat menjadi alat penyerapan karbon jangka pendek yang sangat baik, tetapi keuntungan ini bersifat sementara. Untuk penyimpanan karbon dan ketahanan jangka panjang, hutan alami tetap tidak tergantikan," pungkas Luo yang dikutip detikINET dari Futurism.
(fyk/rns)
TAGS
LIHAT LAINNYA