5 Hal yang Dianggap Sepele Ini Ternyata Tingkatkan Risiko Kanker Usus Besar

5 Hal yang Dianggap Sepele Ini Ternyata Tingkatkan Risiko Kanker Usus Besar

Daftar Isi

Jakarta -

Kanker usus besar merupakan penyebab kematian terkait kanker terbesar kedua di dunia. Angka kejadian kanker usus besar pada orang berusia di bawah 50 tahun juga meningkat.

Untungnya, kanker usus besar merupakan salah satu jenis kanker yang paling mudah dicegah.

"Penelitian menunjukkan bahwa 40 persen sampai 50 persen kanker kolorektal mungkin disebabkan oleh faktor gaya hidup yang bisa dimodifikasi," kata Spesialis Onkologi Wasif Saif, MD, MBBS, dikutip dari laman Eatingwell.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penting untuk mengetahui beberapa hal yang bisa memengaruhi risiko kanker usus besar.

1. Terlalu Banyak Duduk

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang duduk dalam waktu lama setiap hari memiliki risiko kanker usus besar yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang bergerak secara teratur.

Kabar baiknya, mengganti duduk dalam waktu lama dengan berjalan kaki singkat atau melakukan aktivitas fisik ringan secara berkala dapat membantu menurunkan risikonya.

"Duduk terlalu lama secara independen dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal dan berhubungan dengan obesitas serta resistensi insulin," kata Saif.

"Selain itu, gaya hidup kurang gerak menyebabkan perlambatan waktu transit usus, meningkatkan kontak antara potensi karsinogen dan usus besar, memicu peradangan kronis, dan memengaruhi metabolisme dengan cara yang dapat merangsang pertumbuhan tumor," tambahnya.

2. Kelebihan Berat Badan

Kelebihan berat badan, terutama di sekitar perut, menjadi faktor risiko kanker usus besar yang bisa dicegah. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan obesitas mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker usus besar dibandingkan orang dengan berat badan normal. Kelebihan lemak perut mungkin menjadi penyebab utamanya.

"Jaringan lemak berlebih menghasilkan sitokin inflamasi, meningkatkan insulin dan faktor pertumbuhan mirip insulin-1, dan mendorong kondisi peradangan kronis tingkat rendah yang mendukung perkembangan kanker," jelas Saif.

3. Terlalu Banyak Makan Daging Olahan

Daging olahan diklasifikasikan sebagai karsinogen Kelompok 1 oleh WHO. Menurut ahli gastroenterologi Valentine O. Millien, MD, studi menunjukkan bahwa mengonsumsi daging olahan meningkatkan risiko kanker secara relatif.

"Zat penyebab kanker seperti nitrit diproduksi selama pengolahan atau pengawetan daging ini, yang kemudian merusak lapisan usus dan DNA, sehingga meningkatkan risiko kanker usus besar," katanya.

4. Mengonsumsi Alkohol

Penelitian mengaitkan konsumsi alkohol dalam jumlah sedang sekalipun dengan peningkatan risiko kanker usus besar. Alkohol dimetabolisme menjadi asetaldehida, zat karsinogen yang meningkatkan stres oksidatif, meningkatkan kerusakan DNA, dan mengganggu metabolisme folat, sehingga memengaruhi kemampuan tubuh untuk memperbaiki DNA.

"Konsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko kanker karena dampaknya yang negatif terhadap sel-sel sehat," jelas dokter onkologi Pashtoon Kasi, MD, MS.

5. Kurang Mengonsumsi Serat

Berdasarkan penelitian berjudul "Pengaruh Diet Rendah Serat Terhadap Insidensi Kanker Kolorektal di Asia Tenggara dan Timur: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis" pada tahun 2023, terdapat hubungan signifikan antara diet rendah serat dan peningkatan risiko kanker kolorektal atau usus besar karena peran serat larut dan tidak larut.

Kurangnya asupan serat larut dapat menurunkan kerja insulin dan kontrol gula darah atau produksi asam lemak rantai pendek, sedangkan asupan serat tidak larut yang tidak mencukupi dapat meningkatkan potensi interaksi antara mutagen dan mukosa usus besar.

Serat pada dasarnya berfungsi sebagai spons yang membersihkan racun pada sistem pencernaan, mengurangi peradangan, dan menurunkan risiko kanker usus besar. Dikutip dari laman Cleveland Clinic, sebagian besar orang dewasa sebaiknya mengonsumsi sekitar 25-35 gram serat per hari.

(elk/naf)