UAD-Unjaya Gandeng PT Indoraya Kembangkan Aloe Vera Bantul, Bidik Masuk Pasar Kosmetik Global |Republika Online

UAD-Unjaya Gandeng PT Indoraya Kembangkan Aloe Vera Bantul, Bidik Masuk Pasar Kosmetik Global |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL - Tanaman aloe vera atau lidah buaya yang dikembangkan petani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Bantul mulai diarahkan tidak hanya menjadi produk olahan rumah tangga. Tim Pemberdayaan Wilayah (PKMW) UAD-Unjaya menggandeng PT Indoraya untuk membuka peluang hilirisasi aloe vera menjadi bahan baku produk skincare dan body care yang menyasar pasar lebih luas hingga global.

Kolaborasi tersebut dijajaki dalam pertemuan antara Tim PKMW yang dipimpin Prof Anton Yudhana dengan PT Indoraya, perusahaan manufaktur dan jasa maklon kosmetik di Karangjati, Bantul, beberapa waktu lalu. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memastikan hasil budidaya aloe vera yang dikembangkan bersama masyarakat memiliki jalur penyerapan yang jelas.

Prof Anton mengatakan, pengembangan aloe vera harus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, hasil penelitian dan inovasi perguruan tinggi perlu dihubungkan dengan kebutuhan industri agar dapat diterapkan secara nyata.

"Hasil penelitian agar menghindari satu link yang terputus antara kebutuhan industri dan hasil penelitian, agar tidak berakhir dalam publikasi ilmiah dan laporan di atas meja. PKMW akan membuktikan kolaborasi yang produktif karena semua mitra kami sudah sangat antusias. Karya-karya dari kampus tidak berhenti pada laporan dan berita. Dengan budidaya aloevera yang diperkaya teknologi tepat guna, termasuk IoT, hasil budidaya kami akan bisa diterima oleh industri," ujarnya dalam keterangannya.

Peluang tersebut semakin terbuka karena PT Indoraya memiliki pengalaman dalam produksi kosmetik melalui skema maklon. Perusahaan tersebut juga telah mengantongi sertifikasi CPKB dari BPOM dan sertifikat Halal dari BPJPH, dengan layanan mulai dari formulasi, pengemasan, produksi hingga pengurusan legalitas produk.

Perwakilan PT Indoraya, Teddy, mengatakan pengembangan produk tidak cukup hanya berhenti pada penelitian. Menurutnya, perlu ada peningkatan skala produksi sehingga produk yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan industri sekaligus memiliki pasar yang jelas.

"Hilirisasi dengan upscaling untuk dapat filling the gap antara kebutuhan industri dan hasil-hasil penelitian. Kosmetik tematik menjadi solusi yang paling kuat agar apa yang dibutuhkan oleh masyarakat itu tersedia, sehingga nanti akan diserap kembali oleh masyarakat," ujar Teddy.

Program PKMW sendiri saat ini memasuki tahun kedua dari tiga tahun pelaksanaan. Tahun pertama difokuskan pada budidaya aloe vera, sedangkan tahun kedua diarahkan pada tahap produksi. Produk yang dikembangkan mencakup olahan skala rumah tangga yang telah memiliki izin IRT, seperti nata de aloe vera, stik aloe vera, dan minuman berbahan aloe vera.

Sementara itu, jalur baru tengah disiapkan melalui pengembangan produk kosmetik. Aloe vera hasil budidaya petani dan KWT diarahkan untuk menjadi bahan baku skincare dan body care melalui kemitraan dengan PT Indoraya. Dengan skema ini, masyarakat tidak hanya didorong menghasilkan tanaman, tetapi juga memiliki peluang masuk dalam rantai pasok industri kosmetik.

Tim PKMW juga mendorong pemanfaatan lahan yang belum produktif untuk budidaya aloe vera. PT Indoraya membuka peluang menjajaki pengadaan bahan baku dari petani dan KWT dengan sejumlah persyaratan, terutama terkait standar mutu ekstrak bahan baku dan harga yang kompetitif.

Pada tahap awal, kebutuhan bahan baku diperkirakan mencapai sekitar 250 kilogram per bulan. Namun, jumlah tersebut masih berupa estimasi awal dan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan serta perkembangan kerja sama.

Selanjutnya, Tim PKMW dan PT Indoraya akan mendalami standardisasi bahan baku, pengujian mutu produk, serta skema pengadaan. Langkah tersebut diharapkan menjadi fondasi untuk membangun ekosistem aloe vera yang menghubungkan petani, perguruan tinggi, industri, hingga pasar kosmetik.