Trenggono Punya Rencana Besar di 4 Lokasi-Belawan Antre, Ini Alasannya

Trenggono Punya Rencana Besar di 4 Lokasi-Belawan Antre, Ini Alasannya

Jembrana, CNBC Indonesia - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, menyiapkan pengembangan sejumlah pelabuhan perikanan di Indonesia menjadi lebih modern dan terintegrasi. Setelah PPN Kejawanan di Cirebon, Jawa Barat dan PPN Pengambengan di Bali, pengembangan serupa akan diarahkan ke Cilacap, Jawa Tengah dan Bitung, Sulawesi Utara, sementara Belawan, Sumatra Utara masih dalam tahap kajian.

Trenggono mengatakan, pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun model pelabuhan perikanan modern yang nantinya dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.

"Setelah ini nanti kita akan lakukan hal yang sama di Cilacap, kemudian Bitung ya. Jadi ada empat pelabuhan yang kita akan tingkatkan menjadi pelabuhan modern, international fish market lah kira-kira begitu. Yang bagus, dan harapannya nanti kalau ini sudah dari empat titik itu sudah kita bangun, kita akan monitor," ujar Trenggono saat melakukan Groundbreaking di PPN Pengambengan, Selasa (29/9/2026).

Menurut Trenggono, pembangunan pelabuhan tidak dilakukan secara seragam. Pemerintah terlebih dahulu melihat potensi perikanan dan karakter wilayah masing-masing lokasi untuk menentukan fungsi dan pengembangannya.

Lantas, apa yang mendasari pengembangan pelabuhan?

Pertama, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di Jembrana, Bali. Pelabuhan ini dikembangkan karena berada di jalur Samudera Hindia atau WPPNRI 573 yang memiliki potensi perikanan bernilai tinggi, termasuk tuna. Karena itu, Pengambengan diarahkan menjadi pusat ikan premium dan ekspor.

"Kalau mewakili Indonesia, jalur 573 itu jalur Laut Hindia yang potensi tuna sirip birunya besar, lalu kemudian cuminya juga besar, maka dua pelabuhan yang kita bikin, yang pertama di sini, yang kedua di Cilacap. Dua-duanya kita sudah hitung, itu cukup bagus ya. Kemudian kalau ekspor juga bagus," jelasnya.

Pengambengan kini dikembangkan melalui proyek Integrated Fishing Ports and International Fish Markets Phase-I dengan nilai kontrak sekitar Rp1,27 triliun. Pelabuhan ini ditargetkan meningkatkan produksi ikan dari 61.300 ton menjadi 124.000 ton per tahun dan daya tampung kapal dari 1.273 menjadi 1.600 unit.

Kedua, pengembangan pelabuhan di Cilacap, Jawa Tengah. Cilacap juga berada di jalur selatan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap berada di WPPNRI 573, wilayah yang memiliki potensi sumber daya ikan cukup besar.

Selain itu, pengembangan kawasan perikanan Cilacap memiliki potensi untuk mendukung industri pengolahan, termasuk pengalengan tuna, industri turunan produk tuna, cold chain logistics, hingga industri pakan ikan dan udang.

Dalam skema Trenggono, Cilacap menjadi pasangan Pengambengan untuk memperkuat pelabuhan perikanan di sisi selatan Indonesia.

Ketiga, pengembangan dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan Cirebon, Jawa Barat.

Untuk wilayah Pantai Utara Jawa, Trenggono memilih Cirebon karena potensi cumi-cumi dan sejarah perdagangan ikan di daerah tersebut.

"Lalu kemudian yang di Pantai Utara, itu juga banyak sekali cumi, itu di Cirebon. Dari Cirebon, karena Cirebon juga pertama punya sejarah ekspor yang paling besar di sana, jadi kita kembangkan," terang dia.

PPN Kejawanan Cirebon sendiri telah memasuki tahap pengembangan melalui proyek yang sama, yakni Integrated Fishing Ports and International Fish Markets Phase-I. Pengembangannya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pelayanan kapal dan produksi perikanan sekaligus memperkuat rantai bisnis dari hulu hingga hilir.

Keempat, pengembangan akan dilakukan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung, Sulawesi Utara.

Untuk wilayah Indonesia Timur, Trenggono menunjuk Bitung sebagai salah satu titik pengembangan.

"Berikutnya yang di Indonesia Timur. Indonesia Timur itu di Bitung. Nanti sebetulnya satu lagi di Belawan ya, tapi sedang kita studi dulu Belawan seperti apa. Jadi semua sudah terbagi," ungkapnya.

Bitung sendiri memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat aktivitas perikanan di Indonesia Timur. KKP mencatat PPS Bitung termasuk lokasi yang masuk dalam pengembangan Eco Fishing Port.

Belawan Masih Dikaji

Selain empat titik tersebut, Trenggono menyebut Belawan masuk dalam rencana pengembangan, tetapi pemerintah masih melakukan kajian.

"Nanti sebetulnya satu lagi di Belawan ya, tapi sedang kita studi dulu Belawan seperti apa," ucap Trenggono.

Sementara untuk wilayah Maluku, pemerintah menyiapkan pendekatan yang berbeda dengan mengembangkan potensi fishing ground melalui kerja sama Indonesia-China.

"Terus yang terakhir sekali yang di daerah fishing ground itu di daerah Maluku. Ya itu kita sudah kembangkan kemarin ada TCG (Technical Cooperation Guideline), jadi kerja sama antara Indonesia dan pemerintah China," ujarnya.

Trenggono mengatakan, pengembangan pelabuhan tersebut nantinya akan mengikuti pendekatan modeling. Artinya, pemerintah akan mengevaluasi pelabuhan yang telah dikembangkan terlebih dahulu sebelum konsepnya diperluas ke lokasi lain.

"Sama seperti yang biasa kami lakukan, baik itu pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, baik itu pembuatan mini RAS, baik itu pembangunan integrated shrimp farm, dan lain sebagainya, itu selalu kita buat modeling. Jadi kita lihat modeling-nya sudah berhasil dengan baik, maka kemudian kita kembangkan yang lain," katanya.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap titik-titik pelabuhan perikanan modern dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berdasarkan karakter dan potensi perikanan di masing-masing wilayah. Trenggono mengatakan, tujuan akhirnya adalah membangun ekonomi yang lebih kuat di sektor kelautan Indonesia.

(dce) [Gambas:Video CNBC]