Transaksi Kripto Turun 28 Persen, tapi Investor Bertambah 240 Ribu: Ada Apa?
Ringkasan
Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan nilai transaksi aset kripto pada Juli 2026 mencapai Rp20,52 triliun, turun sekitar 28,2% dibandingkan Juni 2026 yang mencapai Rp28,58 triliun.
Pada periode yang sama, jumlah konsumen perdagangan aset keuangan digital justru naik. Jumlahnya bertambah dari 22,69 juta akun pada Juni menjadi 22,93 juta akun pada Juli 2026, atau meningkat sekitar 240 ribu akun dalam sebulan.
Dua angka tersebut penting dibaca secara bersamaan. Sebab, jumlah investor dan nilai transaksi merupakan dua indikator berbeda sehingga keduanya dapat bergerak berlawanan.
Indikator | Juni 2026 | Juli 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
Nilai transaksi | Rp28,58 triliun | Rp20,52 triliun | -28,2% |
Jumlah konsumen | 22,69 juta | 22,93 juta | +240 ribu |
Artinya, pasar tidak sedang mengalami situasi sederhana berupa “investor pergi dari kripto”. Yang terlihat justru lebih kompleks: jumlah orang yang memiliki akses atau akun terus bertambah, tetapi uang yang berputar melalui transaksi mengalami penyusutan.
Fenomena ini menjadi semakin menarik jika dibandingkan dengan akhir 2025. Pada Desember 2025, jumlah investor tercatat sekitar 20,19 juta akun. Hingga Juli 2026, jumlah tersebut telah bertambah sekitar 2,74 juta akun.
Baca Juga: Pluang Hadirkan Agentic Trading, Transaksi Saham dan Kripto Pakai AI
Baca Juga: Platform Kripto Tak Cukup Andalkan Transaksi Aman, Loyalitas Member Jadi Kunci
Investor Kripto Indonesia Makin Banyak, tapi Nominal Transaksi Bisa Makin Kecil
Pertumbuhan jumlah konsumen tidak selalu berarti setiap investor meningkatkan nilai investasinya.
Bayangkan sebuah kondisi sederhana. Pada suatu periode terdapat 10 investor yang masing-masing bertransaksi Rp100 juta. Total transaksi menjadi Rp1 miliar.
Kemudian jumlah investor bertambah menjadi 12 orang. Namun akibat kondisi ekonomi yang lebih ketat, masing-masing hanya melakukan transaksi Rp50 juta. Total transaksi justru turun menjadi Rp600 juta.
Dalam simulasi tersebut, jumlah investor naik 20%, tetapi nilai transaksi turun 40%.
Ini bukan gambaran angka aktual pasar kripto Indonesia, melainkan ilustrasi untuk memahami mengapa pertumbuhan jumlah konsumen dapat berjalan bersamaan dengan penurunan transaksi.
Pola seperti itu menjadi relevan ketika melihat kondisi ekonomi rumah tangga. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai masyarakat masih memiliki minat terhadap aset kripto, tetapi kemampuan dan pola transaksinya mulai berubah.
“Basis konsumen masih bertambah meskipun nilai transaksinya mengalami penurunan. Ini menunjukkan masyarakat tidak sepenuhnya meninggalkan kripto, tetapi mulai bertransaksi dengan nominal yang lebih kecil dan lebih berhati-hati,” ujar Yudho melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Rabu, 2 September 2026..
Pernyataan tersebut memberikan konteks penting terhadap penurunan transaksi kripto pada Juli.
Artinya, penurunan aktivitas pasar tidak harus dibaca sebagai hilangnya kepercayaan secara menyeluruh. Bisa saja sebagian investor masih mempertahankan akun dan eksposurnya terhadap aset digital, tetapi menyesuaikan jumlah dana yang digunakan.
Apakah Daya Beli Masyarakat Mempengaruhi Investasi Kripto?
Perubahan perilaku investor tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi daya beli masyarakat.
Jumlah kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah tercatat meningkat dari 137,5 juta jiwa pada 2024 menjadi 142 juta jiwa pada 2025. Kelompok tersebut kini mencakup sekitar 50,4% penduduk Indonesia.
Pada saat bersamaan, jumlah masyarakat dalam kelompok rentan juga meningkat dari 67,7 juta menjadi 67,9 juta orang.
Data tersebut memberikan konteks yang lebih luas. Ketika rumah tangga menghadapi tekanan terhadap pendapatan atau pengeluaran, instrumen berisiko tinggi seperti aset kripto dapat memperoleh porsi dana yang lebih kecil.
Yudhono menjelaskan perubahan tersebut bukan semata-mata persoalan hilangnya minat investasi.
“Ketika kondisi finansial rumah tangga tertekan, wajar jika masyarakat menjadi lebih konservatif. Yang berubah bukan selalu minatnya terhadap investasi, tetapi besarnya dana yang mereka berani alokasikan dan bagaimana mereka memilih instrumen,” tuturnya.
Di sinilah letak perbedaan antara minat investasi dan kapasitas investasi.
Seseorang tetap dapat tertarik terhadap Bitcoin, Ethereum, atau aset digital lainnya, tetapi belum tentu memiliki ruang finansial yang sama untuk melakukan transaksi seperti sebelumnya.
Penurunan Transaksi Kripto Bukan Berarti Investor Indonesia Pergi
Jika hanya melihat penurunan transaksi sebesar 28,2%, kesimpulan bahwa pasar sedang kehilangan peminat memang terlihat masuk akal.
Namun, data jumlah konsumen memberikan gambaran berbeda.
Sejak Desember 2025 hingga Juli 2026, jumlah akun konsumen bertambah sekitar 2,74 juta. Dengan demikian, indikator partisipasi masyarakat justru menunjukkan ekspansi.
Yudhono menilai perbedaan arah antara jumlah konsumen dan nilai transaksi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa pelemahan aktivitas pasar lebih bersifat siklikal, bukan hilangnya minat terhadap aset kripto secara struktural.
Interpretasi ini penting karena pasar kripto sangat dipengaruhi sentimen. Investor dapat tetap berada di pasar sambil mengurangi frekuensi atau nominal transaksi ketika kondisi dianggap kurang mendukung.
Dengan kata lain, penurunan transaksi dapat menggambarkan perubahan perilaku investor, bukan otomatis perubahan keyakinan terhadap kelas aset tersebut.
Volatilitas Global Ikut Menekan Aktivitas Pasar
Faktor domestik bukan satu-satunya penjelasan.
Pasar kripto Indonesia juga berada dalam ekosistem global yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen. Kapitalisasi pasar kripto dunia sempat turun sekitar 45%, dari US$4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi sekitar US$2,3 triliun pada Maret 2026.
Koreksi sebesar itu dapat memengaruhi keputusan investor, termasuk investor di Indonesia.
Ketika volatilitas meningkat, sebagian investor mungkin memilih menunggu. Investor lain dapat mengurangi nominal transaksi untuk membatasi risiko.
Kondisi tersebut membuat pelemahan transaksi domestik lebih tepat dilihat sebagai kombinasi antara tekanan daya beli masyarakat dan kondisi pasar global, bukan hanya satu penyebab tunggal.
Apakah Pasar Kripto Indonesia Masih Menjanjikan?
Pertumbuhan jumlah investor memberikan alasan untuk tidak buru-buru menyimpulkan bahwa prospek pasar kripto Indonesia sedang meredup.
Dengan 22,93 juta konsumen pada Juli 2026, Indonesia memiliki basis pengguna yang besar. Jumlah tersebut bahkan telah bertambah jutaan akun dibandingkan akhir 2025.
Ekosistem industrinya juga semakin terbentuk. Hingga pertengahan 2026, OJK telah memberikan izin kepada 32 entitas yang terdiri dari bursa kripto, lembaga kliring, kustodian, dan pedagang aset keuangan digital.
Masuknya sejumlah pemain global juga menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih dipandang memiliki potensi jangka panjang.
Namun, ada satu catatan penting: jumlah pengguna yang besar tidak otomatis berarti aktivitas transaksi akan terus meningkat.
Bagi perusahaan di sektor ini, tantangannya justru semakin kompleks. Akuisisi pengguna tetap penting, tetapi mempertahankan pengguna aktif dan menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka menjadi persoalan berbeda.
“Di tengah basis konsumen yang terus tumbuh tetapi nilai transaksi sedang tertekan, kompetisi tidak bisa lagi hanya soal siapa yang mendapatkan pengguna paling banyak,” kata Yudho.
Industri Kripto Mulai Berhadapan dengan Investor yang Lebih Selektif
Pergeseran perilaku tersebut dapat mengubah cara pelaku industri melihat pertumbuhan.
Pada fase ekspansi pengguna, jumlah akun sering menjadi indikator yang menarik. Namun, ketika nilai transaksi menurun, metrik tersebut perlu dibaca bersama indikator lain seperti aktivitas pengguna, nominal transaksi, retensi, serta kesesuaian produk.
Persaingan pun berpotensi bergeser dari sekadar user acquisition menuju user quality dan sustainability.
Yudhono mengatakan industri perlu memastikan pengguna menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan profil risikonya.
“Tantangannya adalah bagaimana membuat pengguna tetap aktif dan menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan serta profil risikonya,” katanya.
Bagi investor ritel, perubahan ini juga memiliki arti. Bertambahnya pilihan produk tidak selalu berarti investor perlu semakin aktif bertransaksi.
Justru ketika kondisi ekonomi belum sepenuhnya longgar, kemampuan menentukan berapa dana yang layak dialokasikan menjadi semakin penting.
Tokenized Stocks dan Derivatif Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
Ketika transaksi spot mengalami tekanan, industri juga mulai memiliki peluang dari pengembangan produk baru.
Salah satunya adalah tokenized stocks, yang memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap saham perusahaan global melalui bentuk aset digital.
Secara global, volume perdagangan tokenized stocks disebut melonjak dari US$831 juta pada Juli 2025 menjadi sekitar US$54 miliar pada Juni 2026.
Derivatif juga memiliki skala besar. Volume perdagangan derivatif kripto global pada kuartal II/2026 mencapai sekitar US$12,7 triliun, jauh di atas pasar spot yang mencapai sekitar US$1,95 triliun.
Di Indonesia sendiri, transaksi derivatif aset keuangan digital mencapai Rp3,41 triliun pada Juli 2026, turun dari Rp4,19 triliun pada Juni.
Data tersebut menunjukkan peluang pertumbuhan memang besar, tetapi produk dengan karakteristik lebih kompleks juga membutuhkan edukasi yang lebih kuat.
Yudhono mengingatkan pertumbuhan jumlah investor tidak cukup jika tidak diikuti pemahaman mengenai risiko.
“Pertumbuhan jumlah investor jangan hanya berhenti pada angka partisipasi. Industri juga perlu memastikan masyarakat memahami risiko dan tidak mengambil keputusan investasi hanya karena mengejar potensi keuntungan jangka pendek,” jelasnya.
Ada Apa di Balik Transaksi Kripto yang Turun?
Jika seluruh data tersebut dirangkai, jawabannya tidak sesederhana investor kehilangan minat.
Ada setidaknya tiga perubahan yang sedang terjadi.
Basis investor melebar. Jumlah konsumen mencapai 22,93 juta akun dan bertambah sekitar 240 ribu hanya dalam sebulan.
Nominal dan aktivitas transaksi melemah. Nilai transaksi turun 28,2% pada Juli 2026.
Investor menjadi lebih selektif. Tekanan daya beli dan volatilitas pasar global dapat mendorong investor mengurangi dana yang dialokasikan ke aset berisiko.
Dengan demikian, pasar kripto Indonesia dapat berada dalam kondisi pertumbuhan partisipasi yang berjalan bersamaan dengan pengetatan perilaku finansial.
Paradoks tersebut justru menjadi bagian paling penting dari cerita pasar kripto saat ini.
Pasar mungkin tidak sedang kehilangan investor. Pasar sedang berhadapan dengan investor yang lebih banyak jumlahnya, tetapi lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
Yudhono pun masih melihat prospek jangka panjang pasar Indonesia.
“Pasar Indonesia masih sangat prospektif. Yang berubah adalah pola permintaannya. Industri perlu beradaptasi dari sekadar mengejar volume besar menjadi membangun basis investor yang lebih luas, teredukasi, dan berkelanjutan,” pungkas Yudho.
Pada akhirnya, angka 22,93 juta konsumen mungkin lebih penting untuk membaca seberapa luas pasar kripto Indonesia, sementara Rp20,52 triliun transaksi menunjukkan seberapa aktif uang bergerak di dalam pasar tersebut.
Keduanya perlu dibaca bersama. Sebab, pasar dengan jutaan investor belum tentu menghasilkan transaksi besar ketika daya beli sedang tertekan. Sebaliknya, jika kondisi ekonomi membaik dan investor kembali meningkatkan alokasi dan aktivitasnya, basis pengguna yang sudah terbentuk dapat menjadi modal penting bagi pertumbuhan berikutnya.
Pantau terus perkembangan transaksi kripto dan perubahan perilaku investor Indonesia untuk melihat apakah pelemahan aktivitas ini hanya sementara atau menjadi awal perubahan yang lebih permanen.
Baca Juga: Transaksi Kripto di Indodax Naik 16 Persen ke Rp8,7 Triliun pada Agustus 2026
Baca Juga: Cara Menganalisis Fundamental Kripto: Panduan Lengkap untuk Pemula
FAQ
Mengapa transaksi kripto turun 28% pada Juli 2026?
Nilai transaksi aset kripto pada Juli 2026 mencapai Rp20,52 triliun, turun sekitar 28,2% dari Rp28,58 triliun pada Juni. Penurunan tersebut dapat dipengaruhi oleh perubahan perilaku investor yang lebih berhati-hati, tekanan daya beli masyarakat, serta volatilitas pasar kripto global.
Mengapa jumlah investor kripto justru bertambah?
Jumlah konsumen perdagangan aset keuangan digital meningkat dari 22,69 juta menjadi 22,93 juta akun pada Juli 2026. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa akses dan minat terhadap aset digital masih berkembang, meskipun nominal transaksi yang dilakukan investor dapat mengalami penurunan.
Berapa jumlah investor kripto Indonesia pada Juli 2026?
Jumlah konsumen perdagangan aset keuangan digital mencapai sekitar 22,93 juta akun pada Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 240 ribu akun dibandingkan Juni dan bertambah sekitar 2,74 juta akun dibandingkan Desember 2025.
Apakah transaksi kripto turun berarti minat investor melemah?
Belum tentu. Penurunan nilai transaksi dan pertumbuhan jumlah investor menunjukkan kedua indikator tersebut tidak selalu bergerak searah. Investor dapat tetap memiliki akun dan ketertarikan terhadap aset kripto, tetapi mengurangi frekuensi maupun nominal transaksi ketika kondisi ekonomi atau pasar sedang tidak mendukung.
Apa pengaruh daya beli masyarakat terhadap investasi kripto?
Tekanan daya beli dapat membuat masyarakat lebih konservatif dalam mengalokasikan dana ke aset berisiko tinggi. Investor yang sebelumnya mampu mengalokasikan dana lebih besar dapat memilih mengurangi nominal investasi tanpa sepenuhnya meninggalkan pasar kripto.
Apakah pasar kripto Indonesia masih memiliki prospek?
Pasar kripto Indonesia masih memiliki basis konsumen yang besar dengan 22,93 juta akun pada Juli 2026. Ekosistemnya juga berkembang dengan 32 entitas yang telah memperoleh izin OJK hingga pertengahan 2026. Prospek tersebut tetap disertai tantangan berupa volatilitas, edukasi investor, perlindungan konsumen, dan kemampuan industri mempertahankan pengguna aktif.
Apakah pertumbuhan investor kripto berarti pasar akan semakin besar?
Pertumbuhan jumlah investor memperluas basis pasar, tetapi tidak otomatis meningkatkan nilai transaksi. Ukuran pasar juga dipengaruhi aktivitas, nominal dana yang dialokasikan, kondisi ekonomi, sentimen, serta produk yang tersedia. Karena itu, pertumbuhan jumlah akun perlu dibaca bersama data transaksi dan perilaku investor.