TNI Buka Suara Soal Kericuhan Peringatan Hari Damai Aceh

TNI Buka Suara Soal Kericuhan Peringatan Hari Damai Aceh

Polisi dan massa yang menghadiri zikir dan doa bersama dalam rangka memperingati Hari Damai Aceh ke-21 terlibat bentrokan di sekitar Taman Kota, depan Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Sabtu (15/8).

Bentrokan bermula ketika seseorang memanjat tiang bendera di halaman Masjid Raya Baiturrahman, kemudian menurunkan bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera bulan bintang. Yel-yel massa sempat terdengar setelah bendera tersebut berkibar.

Tak lama kemudian, terdengar beberapa kali letusan senjata api. Massa bergerak ke arah sumber suara dan melempari sejumlah polisi yang mengenakan perlengkapan pengamanan serta membawa tameng dengan batu.

Polisi yang berjaga di ruas jalan depan Masjid Raya Baiturrahman terus dilempari batu. Sejumlah mobil yang terparkir juga terkena lemparan. Sekelompok polisi antihuru-hara sempat bertahan di lokasi.

Mobil polisi dengan pengeras suara kemudian mengimbau massa menghentikan pelemparan dan membubarkan diri. Namun, imbauan tersebut tidak digubris dan aksi pelemparan terus berlangsung.

Polisi sempat menyemprotkan air ke arah massa, tetapi aksi tersebut tidak berhenti. Polisi kemudian menembakkan gas air mata hingga massa berpencar dan aksi pelemparan berhenti.

Sebelumnya, massa mengikuti zikir dan doa bersama. Di sela kegiatan tersebut, sekelompok orang mengibarkan bendera bulan bintang dalam berbagai ukuran di gapura Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh.

Pengibaran bendera itu diawali ketika seorang pemuda menaiki gapura yang berada di kompleks halaman masjid tersebut.

Insiden kembali terjadi setelah sejumlah polisi, di antaranya terlihat mengenakan tanda pangkat bintang satu di pundak, memasuki halaman masjid. Massa melempari polisi dengan gelas dan botol air mineral hingga mereka berlarian keluar dari halaman masjid.

M Jamil, peserta doa dan zikir, mengaku datang dari Kabupaten Pidie Jaya. Ia datang ke masjid tersebut atas ajakan kalangan ulama untuk mendoakan perdamaian serta masyarakat Aceh yang adil dan makmur.

“Kami mengikuti ajakan ulama untuk berdoa dan zikir bersama mendoakan perdamaian Aceh serta masyarakatnya adil dan makmur. Pengibaran bendera bulan bintang bentuk syukur kami,” kata M Jamil kepada wartawan seperti dilansir Antara, Sabtu (15/8/2026).