Sirkuit Sachsenring: Surga buat Marc Marquez, Neraka Buat Pebalap Lain
Jakarta -
Sirkuit Sachsenring, Jerman, kembali membuktikan reputasinya sebagai lintasan yang sangat bersahabat bagi Marc Marquez.
Buktinya pada Sprint Race MotoGP Jerman 2026, kakak-beradik Marc dan Alex Marquez berhasil menjadi yang tercepat.
Namun, di balik dominasi pebalap asal Spanyol tersebut, ternyata ada karakter teknis sirkuit yang membuat pebalap lain kesulitan menyerang, bahkan saat memiliki kecepatan yang sama atau lebih baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu diungkapkan pebalap Pertamina VR46 Racing Team, Fabio Di Giannantonio, usai finis ketiga pada Sprint Race MotoGP Jerman 2026, Sabtu (11/7).
Menurutnya, menyalip pebalap di Sachsenring merupakan pekerjaan yang sangat sulit, bahkan bisa dibilang seperti mimpi buruk.
"Sirkuit ini benar-benar sangat sulit untuk menyalip," ujar Di Giannantonio kepada Crash.
"Begitu Anda berada di belakang pebalap lain, ban depan langsung menjadi panas. Dengan karakter tikungan dan sudut kemiringan di lintasan ini, sangat sulit menjaga kecepatan sekaligus mencari peluang untuk menyalip," sambungnya.
Pebalap asal Italia itu sebenarnya sempat merebut kembali posisi ketiga dari Ai Ogura pada lap pertama. Setelah itu, ia terus membayangi Alex Marquez yang berada di posisi kedua hingga garis finis.
Meski merasa memiliki kecepatan untuk menekan Alex Marquez, bahkan mendekati Marc Marquez yang memimpin balapan, Di Giannantonio mengaku tak punya banyak pilihan. Risiko melakukan manuver terlalu besar karena kondisi ban depan terus memburuk.
"Anda memang bisa menyalip, tapi risikonya sangat besar. Saya sempat mencoba memberi sedikit jarak agar ban depan kembali dingin di tengah balapan, tetapi itu tidak cukup. Terlalu berisiko untuk mencoba melewati Alex," lanjutnya.
Menurut Di Giannantonio, masalah utama muncul ketika mengikuti motor di depan dalam waktu lama. Temperatur ban depan meningkat drastis sehingga grip berkurang. Akibatnya, motor menjadi lebih sulit dikendalikan saat memasuki tikungan.
Karakter Sachsenring sendiri memang unik. Sirkuit sepanjang 3,67 kilometer tersebut memiliki banyak tikungan cepat dan panjang yang membuat motor berada dalam posisi miring (lean angle) hampir sepanjang putaran.
Kondisi itu membuat beban pada ban depan semakin besar, terutama ketika pebalap berada tepat di belakang rival dan kehilangan aliran udara untuk membantu mendinginkan ban.
Situasi tersebut membuat pebalap kesulitan mempertahankan ritme balap, meski secara pace sebenarnya lebih cepat.
"Saya yakin punya kecepatan yang lebih baik," jelas Di Giannantonio.
"Menurut saya Marc memang masih punya sesuatu yang lebih, tetapi dia hanya mengendalikan balapan. Itu hal yang wajar."
Di Giannantonio juga mengungkapkan bahwa strategi menghemat ban belakang justru membuat kondisi ban depan semakin cepat menurun.
Berbagai racing line yang dicoba untuk menjaga ban belakang tetap prima tetap memberikan tekanan besar kepada ban depan.
"Anda bisa mencoba racing line berbeda untuk menghemat ban belakang. Tapi apa pun yang dilakukan, ban depan tetap akan lebih cepat rusak. Ketika berada sangat dekat dengan pebalap lain, ban depan terus bergerak dan kehilangan grip," katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjelaskan mengapa Marc Marquez begitu dominan di Sachsenring selama bertahun-tahun.
Begitu berhasil memimpin balapan, karakter sirkuit membuat pebalap di belakang sangat kesulitan mendekat, apalagi melakukan manuver menyalip.
Di Sprint Race MotoGP Jerman 2026, Marc Marquez sukses mengonversi pole position menjadi kemenangan. Alex Marquez finis di posisi kedua, sementara Fabio Di Giannantonio melengkapi podium di urutan ketiga.
(mhg/rgr)