Sekolah Tapal Batas, harapan masa depan anak-anak di beranda negeri

Sekolah Tapal Batas, harapan masa depan anak-anak di beranda negeri

Sebatik (ANTARA) - Tak banyak yang menyangka bahwa di tengah rimbunnya hutan sawit, terjalnya jalan, dan jauh dari permukiman, berdiri sebuah sekolah sederhana yang menjadi tempat belajar bagi 37 siswa madrasah...

Sebatik (ANTARA) - Tak banyak yang menyangka bahwa di tengah rimbunnya hutan sawit, terjalnya jalan, dan jauh dari permukiman, berdiri sebuah sekolah sederhana yang menjadi tempat belajar bagi 37 siswa madrasah ibtidaiyah (MI) atau sederajat sekolah dasar (SD).

Sekolah itu bernama Madrasah Ibtidaiyah Darul Furqan, yang lebih dikenal sebagai Sekolah Tapal Batas. Julukan tersebut melekat karena lokasinya berada di tepi garis perbatasan Indonesia–Malaysia, tepatnya di Desa Sungai Limau, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Perjalanan sekolah ini bermula pada 2012. Berawal dari sebuah gudang sembako yang tidak lagi digunakan milik seorang warga, Suraidah, yang sehari-hari bekerja sebagai bidan, memutuskan membuka pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kecamatan Sebatik Tengah.

Suraidah kemudian mengumpulkan anak-anak untuk belajar. Dalam percakapannya dengan para murid, perempuan asal Sulawesi itu tercengang ketika mengetahui bahwa salah seorang siswanya berasal dari sebuah desa di wilayah Malaysia.

Untuk mengikuti kegiatan belajar, anak tersebut harus berjalan kaki selama berjam-jam melewati perkebunan sawit. Ia merupakan anak dari pekerja asal Indonesia yang bekerja di perkebunan sawit di Malaysia.

Setelah menghimpun berbagai informasi, Suraidah mendapati fakta bahwa banyak anak-anak pekerja migran Indonesia yang tidak sekolah dan masih buta huruf. Hal tersebut terjadi karena di wilayah Sebatik, Malaysia, tidak ada sekolah khusus bagi WNI.

Melalui perjuangan yang panjang, Suraidah akhirnya memantapkan tekad untuk mewakafkan dirinya membimbing anak-anak agar dapat mengenyam pendidikan.

Ia menawarkan diri kepada para orang tua untuk mengasuh, sekaligus mendidik anak-anak mereka selama hari sekolah, tanpa memungut biaya. Suraidah juga berkoordinasi dengan para mandor perkebunan sawit di wilayah tersebut.

Anak-anak belajar dan tinggal di asrama setiap Senin hingga Jumat. Pada akhir pekan, para orang tua menjemput anak-anak mereka untuk pulang dan hari Senin, mereka kembali ke sekolah.

Gudang sembako itu kemudian disulap menjadi tempat belajar, sekaligus tempat tinggal. Lantai bawah digunakan untuk bermain dan belajar, sedangkan lantai atas menjadi tempat tinggal Suraidah bersama anak-anak didiknya. Dalam menjalankan kegiatan belajar, perempuan yang kemudian akrab disapa Ummi itu dibantu oleh dua orang pengajar.

Perjuangan Suraidah tidak berhenti di sana. Ia khawatir anak-anak didiknya tidak dapat melanjutkan pendidikan setelah menyelesaikan PAUD. Ia juga lantas mendirikan madrasah ibtidaiyah (MI) dan memperoleh izin operasional dari Kementerian Agama.

Sebagai gambaran, wilayah Sebatik di sisi Malaysia didominasi oleh perkebunan kelapa sawit. Sementara itu, kota terdekat adalah Tawau, Sabah, yang dapat ditempuh sekitar 15 menit menggunakan speedboat dari Sebatik.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright Β© ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.