Raja Ampat Bukan Sekadar Destinasi Wisata, Melainkan Kawasan yang Harus Dijaga
Sorong -
Kasus WN (Warga Negara) China yang memanah penyu kemudian menyantapnya mencoreng wisata Raja Ampat. Raja Ampat bukanlah sekadar destinasi wisata.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo buka suara terkait kasus video perburuan penyu sisik oleh seorang WN China di perairan Kepulauan Fam, Kabupaten Raja Ampat.
Menurut Yusdi, Raja Ampat bukanlah destinasi wisata biasa. Raja Ampat harus dijaga kelestariannya. Pengembangan pariwisata di Raja Ampat harus berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan dan perlindungan ekosistem.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Raja Ampat bukan sekadar destinasi wisata, melainkan kawasan yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang harus dijaga bersama," katanya.
Menurut dia, Raja Ampat memiliki status sebagai UNESCO Global Geopark dan Cagar Biosfer UNESCO, sehingga keseimbangan antara pemanfaatan kawasan dan upaya konservasi perlu dijaga untuk keberlanjutan lingkungan serta kepentingan generasi mendatang.
Terkait dugaan perburuan penyu sisik tersebut, Disparekraf Papua Barat Daya mengapresiasi langkah BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat yang telah melaporkan dan mengawal penanganan dugaan kasus tersebut.
"Kami juga mengapresiasi Polda Papua Barat Daya melalui Ditreskrimsus dan Polres Raja Ampat yang bergerak cepat melakukan olah TKP, termasuk hingga ke kawasan bawah laut untuk mengumpulkan alat bukti," ujarnya.
Selain itu, pihaknya mengapresiasi jajaran Imigrasi yang telah mengamankan terduga pelaku sehingga proses penanganan perkara dapat terus berjalan sesuai ketentuan.
Yusdi menegaskan proses dugaan tindak pidana tersebut masih ditangani oleh kepolisian sehingga pihaknya menghormati asas praduga tak bersalah sampai terdapat keputusan hukum yang berkekuatan tetap.
"Kami mendorong agar seluruh proses penanganan berjalan transparan dan sesuai dengan kewenangan masing-masing instansi," katanya.
Ia juga mengajak seluruh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, untuk menghormati status Raja Ampat sebagai kawasan konservasi serta mematuhi seluruh ketentuan yang berlaku.
Menurut dia, aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem, termasuk membawa alat tangkap seperti speargun ke kawasan konservasi dan memburu satwa dilindungi, merupakan tindakan yang harus dicegah karena dapat mengancam kelestarian lingkungan Raja Ampat.
"Mari kita jaga bersama Raja Ampat, bukan hanya untuk kita, tetapi untuk dunia," tutup Yusdi.
(wsw/wsw)