Liburan ke Kota Bersejarah Turki, Turis Korea Langsung Mualaf Memeluk Islam

Liburan ke Kota Bersejarah Turki, Turis Korea Langsung Mualaf Memeluk Islam

Mardin -

Seorang turis Korea Selatan liburan ke sebuah kota bersejarah di Turki. Takjub dengan kekayaan sejarah dan budayanya, turis ini memutuskan jadi mualaf.

Nama turis itu adalah Shaevn, pria asal Korea Selatan. Ia dilaporkan liburan ke Kota Mardin di wilayah tenggara Turki baru-baru ini, seperti dikutip dari Daily Sabah pada Kamis (17/9/2026).

Di tengah liburannya, ia merasa kagum dan tertairk dengan kekayaan budaya dan keagamaan kota itu. Sekadar informasi, Mardin menjadi salah satu kota bersejarah islam yang sangat penting di Turki.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kota kuno ini menyimpan warisan islam yang kaya, terutama dari aspek arsitektur peradaban sejak abad ke-7. Yang membuat kota ini menonjol adalah keharmonisan antar umat beragama.

Meski pernah menjadi Kota Benteng di Era Ottoman, Mardin terkenal dengan toleransi umat beragamanya. Umat Muslim, Kristen Suryani (Asyur), dan umat beragama lain hidup berdampingan selama berabad-abad tanpa konflik horizontal.

Pejabat di Mardin secara historis menjamin keamanan gereja-gereja kuno, sehingga melahirkan lanskap unik di mana menara masjid berdampingan secara harmonis dengan menara lonceng gereja.

Jatuh hati memang tak mengenal waktu, di saat itu juga Shaevn memutuskan untuk memeluk agama islam. Keputusannya disambut baik oleh pejabat setempat.

Sebuah upacara di Kantor Mufti Distrik Artuklu dilakukan dan dipimpinm oleh Mufti Distrik Süleyman Baran. Mufti adalah seorang ulama atau ahli hukum Islam (faqih) yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan fatwa.

"Wisatawan itu memutuskan untuk berpindah keyakinan saat sedang berlibur di Mardin, sehingga pihak berwenang menyelenggarakan upacara di kantor tersebut," sebuah keterangan dari kantor mufti Turki.

Shaevn kemudian menambahkan nama Abdullah usai mengucapkan kalimat syahadat. Mufti Baran kemudian memberikan sebuah Al-Quran sebagai hadiah kepada Shaevn.

Peristiwa ini terjadi di tengah tren meningkatnya jumlah wisatawan asing yang memeluk Islam saat berkunjung ke Turki. Sebagian di antaranya tertarik oleh kekayaan warisan budaya dan keagamaan negara tersebut.

(bnl/wsw)