Produk Viral Kian Menjamur, BPOM Ingatkan Cek Hal Ini Sebelum Checkout

Produk Viral Kian Menjamur, BPOM Ingatkan Cek Hal Ini Sebelum Checkout

Jakarta - Di era digital saat ini, review di media sosial, marketplace, hingga rekomendasi influencer sering kali menjadi acuan utama sebelum membeli produk. Tak jarang, sebuah produk bisa langsung viral dan la...

Jakarta -

Di era digital saat ini, review di media sosial, marketplace, hingga rekomendasi influencer sering kali menjadi acuan utama sebelum membeli produk. Tak jarang, sebuah produk bisa langsung viral dan laris hanya karena mendapat banyak ulasan positif.

Namun, review yang beredar sebenarnya tak selalu bisa dijadikan patokan. Sebab nyatanya, masih ada produk yang beredar tanpa izin edar resmi, mengandung klaim berlebihan (overclaim), atau bahkan belum terjamin keamanan dan mutunya.

Produk ilegal ini dapat ditemukan di kategori produk apapun, seperti contohnya pada kategori kosmetik, obat tradisional, suplemen kesehatan, serta pangan olahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar mengingatkan di tengah maraknya peredaran produk ilegal maupun produk tanpa izin edar saat ini, konsumen perlu lebih cermat membeli dan menggunakan produk. Melalui Peraturan BPOM Nomor 16 Tahun 2025, BPOM melibatkan masyarakat luas, akademisi, hingga influencer untuk ikut mengawasi keamanan produk

"Sebagai lembaga negara, BPOM berkewajiban melindungi masyarakat agar bisa tercegah dari promosi atau iklan yang bersifat merugikan. BPOM ingin memastikan produk yang sampai ke masyarakat harus legal. Kalau tidak legal, tidak ada jaminan, tidak ada proses seleksi filter terhadap produk tersebut," ujar Taruna dalam Leaders Forum bertajuk "Produk Viral, Sebelum Checkout Apa yang Perlu Dicek?" yang digelar detikcom dan BPOM.

Taruna mengingatkan masyarakat untuk menerapkan Cek KLIK BPOM dengan melakukan Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek Kedaluwarsa.

"Harus diingat, BPOM selalu mempromosikan pastikan cek kemasan, label, izin edar, dan masa kadaluarsa. Cek KLIK agar tidak menjadi korban overclaim!" ucapnya.

Peran Penting Asosiasi & Industri Jaga Keamanan Produk

Produk Viral Kian Menjamur, BPOM Ingatkan Cek Hal Ini Sebelum CheckoutFoto: detikcom

Di balik popularitas produk yang beredar di pasaran, produsen dan pelaku industri memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap produk telah memenuhi standar keamanan, mutu, dan ketentuan regulasi yang berlaku.

Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI) Sancoyo Antarikso menegaskan kepatuhan terhadap regulasi adalah fondasi tumbuhnya sebuah industri, dalam hal ini kosmetik.

"Popularitas tidak berarti keamanan (produk) sudah memenuhi ketentuan regulasi. Produk bisa viral dengan strategi pemasaran yang baik, tapi setiap pelaku usaha tetap berkewajiban memenuhi peraturan yang ada. Regulasi itu bisa dari cara produksi mulai dari pemilihan bahan baku, cara memasarkan klaim, dan cara mengkomunikasikan ke masyarakat," ucapnya.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman juga menyoroti soal semakin maraknya produk viral di era digital. Menurutnya, saat ini tak sedikit konsumen yang memilih produk viral karena harganya yang murah atau hanya sekadar digunakan banyak orang.

"Saya melihat berbagi survei literasi terhadap berbagai label sudah mulai meningkat, tapi memang sayangnya mereka masih terkalahkan dengan tren viral. Terkadang tren viral mengalahkan rasionalisasi, dan justru ini yang bahaya. Kalau mau ikut tren viral, cek dulu label ingredients, cek izin edar ada atau tidak," tegasnya.

Guna menghindari hal ini, Adhi menyampaikan bahwa asosiasi GAPMMI mendukung setiap produsen untuk wajib mematuhi seluruh ketentuan yang berlaku, termasuk terkait izin edar BPOM. Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan nilai sebuah produk pangan sebelum membelinya.

"Terkait izin edar itu wajib, dan ini sesuai Undang-Undang dan aturan BPOM. Kita sudah mengimbau produsen harus mematuhi itu karena sangat sensitif dan perlu diawasi. Karena kalau tidak (diawasi), nanti kesehatan masyarakat yang terdampak," katanya.

Keamanan Produk Jadi Pondasi Kepercayaan Konsumen

Produk Viral Kian Menjamur, BPOM Ingatkan Cek Hal Ini Sebelum CheckoutFoto: detikcom

Perubahan tren yang cepat menuntut pelaku industri untuk terus menghadirkan inovasi agar relevan dengan kebutuhan konsumen. Namun, di balik inovasi tersebut, kualitas dan keamanan produk tetap menjadi pondasi utama untuk membangun kepercayaan konsumen.

"Tren berubah cepat sekali, kebutuhan konsumen juga semakin fragmented dan mereka makin kritis. Kita harus bisa untuk keep up dengan inovasi kita. Tentu, ada satu hal yang tidak bisa dikompromikan, yaitu kualitas produk dan keamanan konsumen. Kecepatan inovasi penting, tapi kepercayaan konsumen jauh lebih penting," ungkap Distya Tarworo Endri, Head of PC Social Capabilities & Consumer Market Insight Unilever Indonesia

Dalam industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG), kualitas produk dan keamanan konsumen menjadi prioritas utama. Maka dari itu, Distya mengatakan bahwa seluruh proses inovasi dan produksi di Unilever Indonesia dilakukan melalui berbagai tahapan, pengujian, hingga pengawasan yang ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, research and development, sampai produk dipasarkan.

Dalam menjaga kepercayaan konsumen, Unilever Indonesia selalu menerapkan dua hal. Pertama, menjalin kolaborasi dengan BPOM.

"Kami melibatkan BPOM di tiap-tiap langkah produksi, seperti misalnya jika ada perubahan formula, bahkan perubahan pack size produk - kami selalu update dan comply dengan regulator," tegasnya.

Kedua, Unilever Indonesia juga menjadikan influencer sebagai mitra edukasi produknya. Sebelum bekerja sama, perusahaan memberikan pemahaman kepada influencer mengenai manfaat produk hingga melakukan pemantauan terhadap informasi yang disampaikan kepada publik.

Di era digital saat ini, tantangan yang dihadapi bukan lagi minimnya informasi, melainkan melimpahnya informasi yang datang dari berbagai sumber, seperti rating, ulasan (review), testimoni, hingga komentar di media sosial. Oleh karena itu, konsumen perlu lebih cermat dalam menyaring, memverifikasi, dan mengevaluasi informasi yang mereka terima agar dapat mengambil keputusan yang tepat.

Kemampuan untuk membedakan informasi yang kredibel dan relevan menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan, terutama di tengah derasnya arus informasi yang tidak selalu akurat maupun objektif.

"Sebagai pelaku industri, kami memastikan bahwa informasi produk kami mudah untuk ditemukan, dipahami dan akurat, baik dari kemasan, website, media sosial maupun saat kami bekerja sama dengan influencer - karena itulah yang bisa membantu konsumen dalam membuat keputusan dan membeli produk," pungkas Distya.

(anl/ega)