Presiden Bangladesh Mundur karena Alasan Kesehatan
Liputan6.com, Dhaka - Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin (76) mengundurkan diri pada Jumat (24/7/2026) dengan alasan kesehatan. Keputusan itu diambil di tengah menguatnya desakan dari partai-partai oposisi agar Shahabuddin melepaskan jabatannya.
"Saya menderita sakit serius. […] Karena itu, saya tidak mampu menjalankan tugas dalam jabatan konstitusional ini," kata Shahabuddin dalam surat yang disampaikan kepada Ketua Parlemen Bangladesh pada Jumat, seperti dikutip Anadolu.
Ketua Parlemen Hafiz Uddin Ahmad mengatakan telah menerima surat pengunduran diri tersebut.
Ahmad selanjutnya akan menjalankan tugas sebagai presiden sementara Bangladesh. Sesuai konstitusi, presiden baru harus dipilih dalam waktu 90 hari.
Pengunduran diri Shahabuddin juga terjadi di tengah pemberitaan bahwa ia sempat berbicara melalui telepon dengan mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina, yang kini tinggal di India.
Surat kabar The Daily Star yang berbasis di Dhaka melaporkan bahwa percakapan itu berlangsung saat Shahabuddin berada di Inggris untuk menjalani perawatan medis pada Mei tahun ini.
Shahabuddin membantah laporan tersebut.
"Saya mengalami berbagai masalah kesehatan," katanya kepada The Daily Star ketika ditanya mengenai alasan pengunduran dirinya. "Untuk saat ini, tidak ada lagi yang ingin saya sampaikan."
Shahabuddin berangkat ke London pada 9 Mei dan kembali ke Bangladesh pada 18 Mei.
Hasina, pemimpin Partai Liga Awami yang telah dilarang, digulingkan dari kekuasaan pada puncak gerakan massa yang dipimpin mahasiswa pada pertengahan 2024. Ia kemudian melarikan diri ke India.
Hasina menyatakan akan kembali ke Bangladesh pada akhir tahun ini. Di negaranya, ia telah dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan warga sipil.
Presiden Bangladesh dipilih oleh anggota parlemen melalui pemungutan suara.
Partai Nasionalis Bangladesh atau BNP yang berkuasa memegang mayoritas kursi di parlemen. Karena itu, calon yang diusung BNP lebih berpeluang terpilih sebagai presiden berikutnya.
Shahabuddin mulai menjabat sebagai presiden ke-22 Bangladesh pada April 2023, ketika pemerintahan masih dipimpin Liga Awami di bawah Sheikh Hasina. Ia terpilih untuk masa jabatan lima tahun yang sedianya berakhir pada April 2028.
Desakan agar Shahabuddin mengundurkan diri terus menguat sejak pemerintahan Hasina tumbang dalam gerakan massa pada Juli 2024.