PMOS Tak Hanya Soal Hormon, Daraloka Ajak Publik Pahami Luka Perempuan di Balik Stigma

PMOS Tak Hanya Soal Hormon, Daraloka Ajak Publik Pahami Luka Perempuan di Balik Stigma

PMOS Tak Hanya Soal Hormon, Daraloka Ajak Publik Pahami Luka Perempuan di Balik Stigma dewiku.com - Gangguan hormonal pada perempuan masih kerap dipahami sebatas persoalan kesehatan fisik. Padahal, kondisi sepe...

PMOS Tak Hanya Soal Hormon, Daraloka Ajak Publik Pahami Luka Perempuan di Balik Stigma

dewiku.com - Gangguan hormonal pada perempuan masih kerap dipahami sebatas persoalan kesehatan fisik. Padahal, kondisi seperti Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) juga membawa dampak psikologis dan sosial yang tidak kalah besar. Mulai dari tekanan untuk segera menikah dan memiliki anak, hingga stigma terhadap bentuk tubuh dan penampilan, perempuan dengan gangguan hormonal sering menghadapi beban berlapis.

Kesadaran inilah yang ingin dibangun melalui Daraloka, program Community Development yang digagas mahasiswa konsentrasi Marketing Communication LSPR Institute of Communication & Business. Melalui acara puncak bertajuk Asa Dara di Tamananda Lifestyle Park, Cilandak, Daraloka mengangkat tema "Beyond the Stigma: How Indonesian Culture Shapes Women's Wounds".

Alih-alih sekadar menggelar kampanye kesehatan, kegiatan ini mengajak masyarakat melihat bagaimana budaya dan ekspektasi sosial turut membentuk pengalaman perempuan yang hidup dengan gangguan hormonal.

Menurut penyelenggara, masih banyak perempuan yang enggan mencari pertolongan medis karena menganggap gejala yang dialami sebagai hal biasa atau justru takut mendapat penilaian negatif dari lingkungan.

Salah satu sesi utama menghadirkan talkshow bertajuk "Menjadi Perempuan" yang mempertemukan dokter spesialis kandungan, psikolog, aktivis komunitas, hingga penyintas untuk membahas hubungan antara kesehatan hormonal, kesehatan mental, dan stigma sosial.

Diskusi tersebut menyoroti bahwa persoalan hormonal tidak bisa dipisahkan dari kondisi psikologis. Perubahan hormon dapat memengaruhi emosi, rasa percaya diri, hingga kualitas hidup, sementara tekanan sosial justru memperburuk kondisi tersebut.

Tak hanya melalui diskusi, Daraloka juga menghadirkan "Dara Bersuara", sebuah pameran interaktif yang mengangkat cerita para perempuan pejuang PMOS. Pengunjung diajak memahami pengalaman mereka melalui instalasi visual, audio experience, interactive wall, hingga pesan-pesan dukungan yang dibuat bersama lebih dari 10 seniman lokal.

Konsep ini diharapkan mampu membangun empati sekaligus menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk berbagi pengalaman tanpa takut dihakimi.

Pengalaman peserta juga diperkaya melalui workshop kreatif bertema "Rangkai Rupa Diri". Dalam sesi ini, peserta membuat gelang sebagai simbol dukungan dari orang-orang terdekat serta merangkai bunga sebagai bentuk penerimaan diri dan praktik self-love.

Dosen pengampu mata kuliah Community Development LSPR Institute of Communication & Business, Melvin Bonardo Simanjuntak, mengatakan Daraloka menjadi contoh bagaimana mahasiswa menerapkan teori komunikasi menjadi kampanye sosial yang berdampak nyata.

"Daraloka menjadi bukti nyata dalam mempraktikkan konsep dan teori menjadi suatu acara, kampanye, baik offline maupun online, dan aktivasi yang melibatkan banyak mitra, sehingga membentuk pemahaman bagi audiens mengenai isu PMOS, kesetaraan, dan inklusivitas," ujarnya.

Sementara itu, Founder Komunitas Kata Nona, Aya Canina, menilai pembicaraan mengenai PMOS perlu semakin dibuka kepada publik.

"Bersama Daraloka, Kata Nona percaya bahwa membicarakan PMOS secara terbuka adalah bentuk keberpihakan pada perempuan; mengakui ketubuhan dan tantangan psikososial mereka, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan komunitas lain," katanya.

Sebagai tuan rumah, Tamananda Lifestyle Park juga mendukung penyelenggaraan acara sebagai ruang kolaborasi bagi komunitas yang mengangkat isu sosial dan kesehatan.

Melalui pendekatan edukatif, seni, dan pengalaman interaktif, Daraloka ingin menegaskan bahwa kesehatan perempuan tidak hanya berbicara soal diagnosis medis. Di balik gangguan hormonal, terdapat persoalan stigma, tekanan budaya, dan kesehatan mental yang juga membutuhkan perhatian.

Harapannya, semakin banyak masyarakat memahami PMOS secara lebih utuh sehingga perempuan yang mengalaminya tidak lagi menghadapi stigma, melainkan mendapat dukungan untuk memperoleh penanganan medis dan lingkungan yang lebih inklusif.