PM Jepang Hanya Tidur 3 Jam Tapi Masih Sempat Setrika dan Cuci Baju

PM Jepang Hanya Tidur 3 Jam Tapi Masih Sempat Setrika dan Cuci Baju

Jakarta - Kepemimpinan Sanae Takaichi menuai perbincangan sejak dirinya terpilih sebagai Perdana Menteri Jepang wanita pertama. Dikenal 'bertangan besi'. Sanae rela mengorbankan diri sejak menj...

Jakarta -

Kepemimpinan Sanae Takaichi menuai perbincangan sejak dirinya terpilih sebagai Perdana Menteri Jepang wanita pertama. Dikenal 'bertangan besi'. Sanae rela mengorbankan diri sejak menjabat yang menimbulkan kekhawatiran. Pemimpin tersebut mengaku hanya tidur beberapa jam saja di tengah intensitas pekerjaan.

PM Sanae Takaichi mengungkapkan kebiasaan tidurnya yang mengejutkan banyak orang. Dalam sebuah cuitan ia mengaku menghabiskan akhir pekan libur nasional untuk istirahat. Sanae menulis bahwa akhirnya ia bisa tidur lima jam penuh untuk pertama kali dalam waktu yang lama.

Dikatakan jika waktu tidur yang sebenarnya singkat itu adalah peningkatan dari biasanya nol sampai tiga jam saja per malam. Hal menarik lain yang terungkap dari curhatnya adalah meski jam istirahatnya sedikit, wanita 65 tahun itu masih menyempatkan diri untuk beres-beres.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Pada hari kerja, saat saya kembali ke kediaman, waktu pribadi saya sudah sangat terbatas hanya untuk membersihkan kamar mandi, mandi, makan malam, mencuci piring setelahnya, mencuci pakaian, dan sedikit rapi-rapi,"

"Jadi, jam-jam larut malam setelah itu dihabiskan hingga subuh untuk membaca bahan bacaan yang dibawa dari Kantor Perdana Menteri atau mempersiapkan ... sesi tanya jawab," tulisnya.

Politisi dari Partai Demokrat Liberal tersebut juga masih menyempatkan diri untuk menikmati waktunya sendiri di tengah kesibukan. Daripada mencari hiburan, ia memilih menyetrika sapu tangan, menyelesaikan cucian, dan memperbaiki pakaian.

Budaya Kerja Keras Jepang

Banyak orang terkejut dengan kebiasaan PM Sanae Takaichi namun bekerja keras hingga larut malam dikenal sebagai salah satu budaya Jepang. Tidak selalu baik, jadwal kerja melelahkan tentu datang dengan konsekuensi karena kelelahan menyebabkan munculnya istilah 'karoshi' yang berarti kematian karena terlalu banyak bekerja.

PM Jepang Hanya Tidur 3 Jam Tapi Masih Sempat Setrika dan Cuci Baju

Japans Prime Minister Sanae Takaichi delivers a speech at the House of Representatives plenary session in Tokyo on October 24, 2025. Japans new prime minister Sanae Takaichi said on October 24 she would try to achieve the countrys target of spending two percent of GDP on defence two years early. (Photo by Kazuhiro NOGI / AFP)

Foto: Sanae Takaichi (AFP/KAZUHIRO NOGI)

Dilansir ABC, ratusan orang meninggal setiap tahun di Jepang karena stroke, serangan jantung, atau bunuh diri akibat terlalu banyak bekerja. Namun setelah seorang dokter bunuh diri pada 2022, reformasi terhadap budaya kerja perlahan mulai terjadi.

Sanae Takaichi sendiri pernah dikritik karena memanggil para asistennya untuk rapat pada pukul 3 pagi. Ia bahkan mengaku akan menghapus keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadinya dan akan terus ‘bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, bekerja’.

Efek Kurang Tidur

Peneliti dari Queensland Brain Institute, Bruno van Swinderen, mengatakan bahwa seseorang yang menjalani tidur seperti Sanae akan mengalami kekurangan tidur yang sangat parah.

“Ini sangat mengkhawatirkan bagi seorang pemimpin negara, karena kamu ingin memiliki pengaturan emosi dan fleksibilitas kognitif,” katanya.


“Aku menduga sebagian besar pemimpin di seluruh dunia, dimulai dari AS, mungkin mendapatkan sangat sedikit tidur REM dan tidak memikirkan kesehatan tidur mereka sebagaimana mestinya,"

Sanae Takaichi memang bukan pemimpin dunia pertama yang biasa tidur sebentar. Pemimpin wanita lalin yang mengaku hanya tidur empat jam adalah mantan PM Inggris, Margaret Thatcher.

Mantan kanselir Jerman Angela Merkel menyebut dirinya ‘unta tidur’ pada masa jabatannya karena hanya tidur sekitar empat jam setiap malam. Sedangkan Presiden Prancis Emmanuel Macron hanya istirahat empat hingga lima jam dan memiliki kecenderungan untuk mengirim pesan kepada rekan-rekannya pada dini hari.

(ami/ami)