Peneliti UNG: Tepung ikan cakalang potensial tingkatkan produksi ayam - ANTARA News Gorontalo
Gorontalo (ANTARA) - Peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Srisukmawati Zainudin mengungkap tepung ikan cakalang, berpotensi meningkatkan produktivitas ayam lokal di daerah itu.
Srisukmawati di Kota Gorontalo, Kamis mengatakan kebutuhan bahan baku pakan unggas terus meningkat, sementara harga tepung ikan sebagai salah satu sumber protein utama dalam pakan, semakin mahal dan masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Kondisi tersebut mendorong pihaknya, untuk mencari bahan baku alternatif yang lebih ekonomis, mudah diperoleh, sekaligus mampu mendukung produktivitas ternak.
Salah satu sumber yang dinilai menjanjikan adalah, limbah pengolahan ikan cakalang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Potensi tersebut menjadi fokus penelitian kolaboratif yang dilakukan pihaknya bersama para peneliti lainnya, yaitu Hartutik, Edhy Sudjarwo dan Osfar Sjofjan.
Srisukmawati mengatakan inovasi tersebut dituangkan melalui penelitian berjudul The Effects of Replacing Fish Meal with Skipjack Tuna Offal Meal on the Growth Performance and Carcase Quality of Local Chickens.
Penelitian ini mengevaluasi tingkat penggunaan tepung limbah ikan cakalang kukus (steamed skipjack tuna offal meal/SSFO) sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan ayam lokal, untuk memperoleh tingkat penggunaan paling optimal dalam meningkatkan performa pertumbuhan dan kualitas karkas ayam.
Penelitian ini memiliki relevansi yang tinggi bagi Indonesia, khususnya Gorontalo, yang merupakan salah satu daerah penghasil ikan cakalang.
Data yang dikutip dalam penelitian menunjukkan bahwa produksi cakalang di Gorontalo mencapai lebih dari 13 ribu ton pada tahun 2020.
Selama ini, bagian sisa pengolahan seperti usus, lambung, hati, jantung, paru-paru dan telur ikan masih belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki kandungan nutrisi yang berpotensi menjadi bahan baku pakan ternak.
Untuk menguji potensinya, tim peneliti mengganti tepung ikan dalam ransum dengan tepung limbah ikan cakalang kukus pada beberapa tingkat penggunaan.
Selama pemeliharaan, berbagai parameter diamati, mulai dari konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR), nilai income over feed cost (IOFC), bobot karkas, persentase karkas, sampai kandungan protein dan lemak daging ayam.
Hasil penelitian menunjukkan penggunaan lima persen tepung limbah ikan cakalang kukus, memberikan performa terbaik.
Pada tingkat ini, ayam lokal menghasilkan bobot badan akhir dan bobot karkas yang lebih tinggi, disertai nilai FCR yang lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya.
Artinya, kata Srisukmawati, ayam mampu memanfaatkan pakan secara lebih efisien untuk menghasilkan pertambahan bobot badan.
Selain itu, nilai IOFC juga menjadi yang tertinggi, menunjukkan penggunaan bahan pakan tersebut berpotensi meningkatkan keuntungan usaha peternakan.
Dari sisi kualitas daging, penelitian menemukan penggantian tepung ikan dengan tepung limbah ikan cakalang kukus, tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan protein daging, sehingga kualitas protein tetap terjaga.
Sementara itu, kandungan lemak daging mengalami perubahan, namun masih berada dalam kisaran normal untuk daging ayam.
Peneliti juga melaporkan persentase karkas dada tidak berbeda nyata antar perlakuan, meskipun bobot karkas meningkat pada tingkat penggunaan tertentu.
Temuan ini menunjukkan limbah ikan cakalang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan alternatif.
Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan, pemanfaatan hasil samping industri perikanan juga dapat mengurangi limbah organik, sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Bagi peternak, hasil penelitian ini membuka peluang untuk memanfaatkan bahan baku lokal yang lebih mudah diperoleh, tanpa mengorbankan performa produksi ayam.
Di daerah penghasil cakalang seperti Gorontalo, inovasi ini berpotensi menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah hasil perikanan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan tepung limbah ikan cakalang kukus dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan hingga tingkat lima persen dalam pakan ayam lokal.
Penggunaan pada tingkat tersebut, terbukti mampu meningkatkan performa pertumbuhan, memperbaiki efisiensi penggunaan pakan, meningkatkan bobot karkas, serta berpotensi meningkatkan keuntungan peternak.
Temuan ini menjadi salah satu alternatif inovasi pakan yang tidak hanya lebih ekonomis, tetapi mendukung pemanfaatan sumber daya lokal dan pengembangan peternakan yang lebih berkelanjutan.
Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.